Stop Sebar Video Kecelakaan Kereta! Ada Trauma Kedua yang Dialami Keluarga Korban
29 April 2026, 13:20 WIB
Kecelakaan kereta api di Bekasi adalah peristiwa traumatis yang besar. Dampaknya tidak hanya terasa oleh korban, tapi juga keluarga di rumah.
Menurut dokter spesialis kedokteran jiwa, Lahargo Kembaren, dalam situasi seperti ini seharusnya rasa empati lebih besar ketimbang rasa penasaran. Sayangnya, sebagian orang berlomba mengunggah video amatir agar viral.
"Tragedi seperti ini bukan sekadar berita, tetapi pengalaman traumatis nyata bagi korban, keluarga, saksi, bahkan masyarakat luas yang menyaksikannya melalui media sosial. Musibah bukan tontonan, tetapi penderitaan nyata," kata Lahargo dalam keterangannya pada Rabu, 29 April 2026.
Maka dari itu, Lahargo menguraikan cara bersimpati yang bijak yakni dengan mengutamakan empati, bukan eksploitasi.
"Jangan buru-buru mengunggah foto atau video korban yang vulgar, apalagi yang memperlihatkan luka berat, tubuh terjepit, darah, atau kondisi yang sangat mengenaskan," tambahnya.
Alih-alih mengunggah video mengerikan soal kondisi korban, setiap orang yang ada di lokasi kejadian lebih baik menerapkan bentuk empati yang lebih sehat di sosial media, seperti:
- Menyampaikan doa dan belasungkawa
- Membagikan informasi resmi yang membantu, bukan membuat orang berspekulasi
- Membantu pencarian informasi keluarga korban bila diperlukan
- Menghormati privasi korban dan keluarga
- Tidak menjadikan tragedi sebagai konten konsumsi publik.
"Kadang ya, tidak mem-posting berita yang menakutkan justru adalah bentuk empati paling dewasa," ujar Lahargo.
Tidak Semua Hal Harus Diviralkan
Lahargo juga berpesan bahwa tidak semua hal harus diviralkan. Beberapa hal cukup didoakan dan dihormati. Sebab, menyebarkan video korban tanpa izin apalagi tanpa sensor bisa memicu dampak psikologis.
Bagi keluarga korban, insiden ini dapat menjadi trauma berlapis (secondary victimization). Keluarga korban sedang berada pada fase syok akut. Mereka berhadapan dengan kehilangan, ketidakpastian, rasa takut, dan proses berduka yang sangat berat.
"Ketika foto atau video anggota keluarganya tersebar dalam kondisi mengenaskan, mereka mengalami trauma kedua. Ini disebut secondary victimization, yaitu ketika penderitaan diperparah oleh respons sosial yang tidak sensitif," kata Lahargo.
Dampak trauma kedua bisa berupa:
- Syok emosional yang lebih berat
- Sulit menerima kenyataan
- Rasa marah dan tidak berdaya
- Gangguan tidur
- Flashback berulang terhadap gambar korban
- Rasa bersalah berlebihan.
Ini bisa berlanjut pada gangguan kejiwaan seperti ansietas, depresi dan gangguan stres pascatrauma (PTSD).
Mereka belum selesai menangis, tetapi masyarakat sudah menjadikan luka mereka sebagai konsumsi publik. Dan hal ini memberikan dampak psikologis yang sangat menyakitkan.