Jangan Tunggu Cuci Darah, Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Gagal Ginjal
20 April 2026, 17:00 WIB
Cuci darah atau hemodialisis merupakan salah satu terapi saat seseorang mengalami penyakit ginjal kronik stadium 5 (akhir) alias gagal ginjal.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, Lydia Dorothea Simatupang, mengatakan cuci darah perlu dilakukan 2-3 kali dalam seminggu.
"Kalau pada akhirnya disebut mengalami penyakit ginjal kronis stadium akhir atau gagal ginjal, memang enggak ada pilihan (untuk melakukan terapi pengganti ginjal). Ini karena ginjal tidak bisa berfungsi menunjang kebutuhan tubuh," kata Lydia saat wawancara daring beberapa waktu bersama RS Pondok Indah.
Lydia menerangkan terapi pengganti ginjal seperti cuci darah dilakukan untuk menyaring limbah dan menjaga keseimbangan cairan serta metabolisme tubuh. Bila dibiarkan, kondisi ini dapat memicu berbagai komplikasi serius, mulai dari pembengkakan, gatal, hingga penumpukan cairan di paru-paru yang menyebabkan sesak napas dan mengancam nyawa.
Pada kasus yang lebih berat, pasien bahkan bisa mengalami penurunan kesadaran hingga kejang.
"Kalau itu menumpuk, bisa membuat paru bengkak yang mengancam nyawa, penurunan kesadaran, kejang. Itu sangat merugikan dan mengancam nyawa," kata Lydia.
Terapi Cuci Darah Mahal, Maka Itu Cegah Sejak Dini
Biaya cuci darah (hemodialisis) tidaklah murah, apalagi prosedur ini harus dijalani secara rutin dan jangka panjang. Maka dari itu, Lydia mengingatkan masyarakat untuk memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan sejak dini. Salah satunya dengan menjalani pemeriksaan kesehatan rutin termasusk cek darah dan urine.
"Lebih baik aware dengan kesehatan kita sejak dini, jangan diabaikan. Kalau tensi baik-baik saja, semua baik-baik saja tetap perlu tes laboratorium. Pencegahan itu lebih baik," pesan Lydia.
Cek Fungsi Ginjal dengan 2 Cara
Mengingat penyakit ginjal kerap tidak memiliki gejala, Lydia mengingatkan masyarakat untuk rutin memeriksakan fungsi ginjal. Yakni lewat pemeriksaan laboratorium dengan mengecek darah dan urine.
1. Tes Darah untuk Menilai Fungsi Ginjal
Tes yang paling utama dilakukan adalah pemeriksaan fungsi ginjal dengan melalui sampel darah.
Tes darah dilakukan untuk mengukur kadar zat sisa tubuh, seperti kreatinin, ureum, dan asam urat, serta kadar elektrolit, seperti natrium, kalium, dan klorida. Zat sisa tubuh seharusnya disaring di ginjal dan dibuang melalui urine, sementara kadar elektrolit dijaga keseimbangannya oleh ginjal.
Oleh karena itu, peningkatan kadar zat sisa dan ketidakseimbangan elektrolit di dalam darah dapat menunjukkan penurunan fungsi ginjal.
2. Tes Urine untuk Memeriksa Adanya Protein atau Darah
Protein darah atau sel darah adalah komponen darah yang seharusnya tidak tersaring oleh ginjal dan tetap berada di dalam tubuh.
Oleh karena itu, ditemukannya protein dan darah dalam urine bisa menjadi tanda awal kerusakan ginjal.