Penyakit Ginjal Kronik Kerap Tanpa Gejala, Tahu-Tahu Sudah Stadium Akhir

20 April 2026, 14:40 WIB
Penyakit Ginjal Kronik Kerap Tanpa Gejala, Tahu-Tahu Sudah Stadium Akhir

Sakit pinggang kerap disebut-sebut sebagai salah satu gejala penyakit ginjal kronik. Faktanya, seseorang yang mengidap penyakit ginjal kronik kerap tanpa gejala.

"Penyakit ginjal kronik berlangsung bertahap, pelan-pelan, tanpa keluhan," kata dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, Lydia Dorothea Simatupang.

Lydia menjelaskan bahwa penyakit ginjal kronik atau chronic kidney disease (CKD) memiliki lima tahap (stadium). Tahapan tersebut berdasarkan nilai laju filtrasi glomerulus (eGFR).

"Kalau fungsi masih bagus lalu laju filtrasi glomerulus di atas 90 itu stadium 1," kata Lydia.

Lalu, kalau fungsi ginjal sedikit menurun, namun kerusakan ginjal masih ringan dengan eGFR sekitar 60-89 mL maka itu stadium 2.

Bila fungsi ginjal terus menurun lalu laju filtrasi glomerulus (eGFR) terus menurun maka stadium makin bertambah. "Ketika fungsi ginjal menurun di bawah 15 persen, maka itu disebut gagal ginjal atau penyakit ginjal tahap akhir," tutur Lydia dalam sesi wawancara daring bersama RS Pondok Indah beberapa waktu lalu.

Lydia mengatakan bahwa tidak semua penyakit ginjal kronik menunjukkan gejala. Bahkan, ada pasiennnya yang sudah stadium 5 alias gagal ginjal tidak memiliki gejala.

"Pernah ada beberapa pasien, tanpa gejala tapi saat tahu sudah stadium 5. Itu ketahuan saat medical check-up dengan cek darah dan urine," kata Lydia lagi.

Gejala yang Muncul pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik

Gejala yang Muncul pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik

Lydia mengatakan gejala penyakit ginjal kronik tidak selalu spesifik. Memang pada sebagian kasus pasien penyakit ginjal kronik mengalami urine berbusa atau berwarna kemerahan.

Lalu, ada juga orang dengan penyakit ginjal kronik yang mengalami pembengkakkan di kaki. Pada kondisi yang lebih berat, pasien dapat mengalami anemia akibat penurunan kadar hemoglobin (Hb). Lalu, ada juga pasien ginjal kronik yang mengalami sesak napas.

"Kalau misal ada penyulit lain seperti paru terendam air atau pembengkan, pasien jadi sesak napas, jalan sedikit sesak napas, lalu malam hari kerap terbangun karena sesak," lanjut Lydia.

Selain itu, gejala lain yang juga kerap muncul antara lain gatal pada kulit dan kesemutan.

"Macam-macam gejalanya, memang karena ginjal ini tidak berdiri sendiri. Penyakit ginjal bisa disebabkan karena hal lain misalnya diabetes yang tidak terkontrol, atau tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol bisa menyebabkan gagal ginjal," tutur Lydia.

Cek Fungsi Ginjal

Mengingat penyakit ginjal kerap tidak memiliki gejala, Lydia mengingatkan masyarakat untuk rutin memeriksakan fungsi ginjal. Yakni lewat pemeriksaan laboratorium dengan mengecek darah dan urine.

1. Tes Darah untuk Menilai Fungsi Ginjal

Tes yang paling utama dilakukan adalah pemeriksaan fungsi ginjal dengan melalui sampel darah.

Tes darah dilakukan untuk mengukur kadar zat sisa tubuh, seperti kreatinin, ureum, dan asam urat, serta kadar elektrolit, seperti natrium, kalium, dan klorida. Zat sisa tubuh seharusnya disaring di ginjal dan dibuang melalui urine, sementara kadar elektrolit dijaga keseimbangannya oleh ginjal.

Oleh karena itu, peningkatan kadar zat sisa dan ketidakseimbangan elektrolit di dalam darah dapat menunjukkan penurunan fungsi ginjal.

2. Tes Urine untuk Memeriksa Adanya Protein atau Darah

Protein darah atau sel darah adalah komponen darah yang seharusnya tidak tersaring oleh ginjal dan tetap berada di dalam tubuh.

Oleh karena itu, ditemukannya protein dan darah dalam urine bisa menjadi tanda awal kerusakan ginjal.

Sumber : Liputan6.com