Megawati Usulkan Konferensi Asia Afrika Jilid II di Tengah Guncangan Geopolitik Global

18 April 2026, 19:47 WIB
Megawati Usulkan Konferensi Asia Afrika Jilid II di Tengah Guncangan Geopolitik Global

Ketua Umum (Ketum) PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri mengusulkan agar digelar penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) Jilid II sebagai respons strategis atas dinamika geopolitik global yang dinilai kembali diwarnai praktik neo-kolonialisme dan ketimpangan sistem internasional.

Usulan itu disampaikan dalam pidatonya di acara peringatan 71 Tahun KAA bertajuk "Relevansi Gerakan Asia-Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini" di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026).

Megawati menyebut bahwa kondisi global saat ini menuntut hadirnya forum internasional baru yang mampu menghidupkan kembali semangat solidaritas negara-negara Asia-Afrika.

"Tata dunia saat ini masih diwarnai oleh bekerjanya kekuatan Nekolim hanya lain sifat dan coraknya. Dalam situasi tersebut, pelaksanaan Konferensi Asia Afrika Jilid II sangat relevan. Di sini lah pemikiran geopolitik Bung Karno menjadi kompas bagi masa depan bangsa dan dunia," kata Megawati.

Ia menilai, berbagai konflik internasional dan intervensi terhadap kedaulatan suatu negara lain menunjukkan sistem global belum sepenuhnya mencerminkan keadilan. Dalam konteks itu, Megawati menekankan pentingnya menghadirkan kembali semangat KAA sebagai alternatif dalam membangun tatanan dunia yang lebih setara.

Menurut Megawati, KAA 1955 yang digagas oleh Presiden pertama RI, Soekarno merupakan tonggak sejarah dekolonialisasi dunia yang tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga strategis dalam mengubah konstelasi global.

"Setiap memperingati Konferensi Asia Afrika, hati saya selalu tergetar. Sebab disitulah tergambarkan visi besar Bung Karno yang berjuang bagi pembebasan bangsa-bangsa terjajah. Bagi Bung Karno, kemerdekaan Indonesia menjadi spirit pembebasan bagi bangsa-bangsa Asia Afrika," jelas Megawati.

Ia menuturkan, semangat tersebut berakar pada nilai kemanusiaan dan internasionalisme yang terkandung dalam Pancasila. Nilai itu, lanjutnya, menjadi dasar perjuangan melawan berbagai bentuk penjajahan serta membangun persaudaraan dunia yang lebih baik.

Megawati juga menyoroti bahwa KAA berhasil menghimpun 29 negara dengan lebih dari setengah populasi dunia saat itu, sehingga menjadi kekuatan demografis yang signifikan dalam mendorong perubahan global.

Lahirkan Sejumlah Inisiatif Penting

Lahirkan Sejumlah Inisiatif Penting

Lebih lanjut, ia bilang peran KAA melahirkan berbagai inisiatif penting, termasuk Gerakan Non-Blok (GNB), yang mampu menjadi wadah konsolidasi negara-negara berkembang untuk menjaga kedaulatan di tengah rivalitas kekuatan besar.

"Dari KAA Indonesia terus terlibat aktif membangun persaudaraan dunia, sebab bangsa-bangsa yang baru merdeka tersebut berhadapan dengan tarik menarik kepentingan antara dua blok yang saling bertikai," ucap dia

"Dalam pandangan Bung Karno, kedua blok tersebut sama-sama mengandung benih-benih kolonialisme dan imperialisme," lanjut Megawati.

Ia juga mengaitkan relevansi KAA 1955 dengan pemikiran Bung Karno dalam pidato "To Build The World A New" di PBB tahun 1960 yang menyerukan reformasi sistem internasional, termasuk penghapusan hak veto dan restrukturisasi Dewan Keamanan.

Ia menilai, gagasan tersebut tetap aktual di tengah berbagai konflik global yang dinilai mengancam kedaulatan negara berkembang.

"Dalam perspektif ini semangat KAA, GNB dan pidato To Build The World A New menjadi jawaban tentang pentingnya kesetaraan antar bangsa, dan bagaimana membangun persatuan antar bangsa guna mengikis habis pengaruh neo-kolonialisme dan imperialisme," kata Megawati.

Sumber : Liputan6.com