Mahasiswa Cornell University yang Bela Palestina Pilih Tinggalkan AS daripada Dideportasi

01 April 2025, 16:05 WIB
Mahasiswa Cornell University yang Bela Palestina Pilih Tinggalkan AS daripada Dideportasi

Seorang mahasiswa pascasarjana Cornell University yang visanya di Amerika Serikat dicabut karena melakukan aksi protes terhadap Israel telah memilih untuk meninggalkan AS daripada dideportasi.

Momodou Taal, yang merupakan warga negara gabungan Inggris dan Gambia, visa pelajarnya dicabut karena melakukan aksi protes di kampus tahun lalu saat perang Israel-Gaza berkecamuk.

Sebelumnya, Taal menggugat untuk memblokir deportasinya, tetapi pada hari Senin mengunggah di X bahwa ia telah memilih untuk meninggalkan negara itu "dengan bebas dan dengan kepala tegak". Hal itu terjadi setelah seorang hakim menolak permintaannya untuk menunda deportasinya.

Pemerintah Donald Trump menindak tegas mahasiswa internasional yang aktif dalam aksi protes terhadap Israel di kampus-kampus universitas, dikutip dari laman BBC, Selasa (1/4/2025).

Taal setidaknya merupakan mahasiswa internasional kedua yang memilih untuk meninggalkan AS setelah menjadi sasaran deportasi oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri AS.

Pemerintahan Trump mengidentifikasi kasus-kasus ini sebagai "deportasi mandiri". "Mengingat apa yang telah kita lihat di seluruh Amerika Serikat, saya kehilangan keyakinan bahwa putusan pengadilan yang menguntungkan akan menjamin keselamatan pribadi dan kemampuan saya untuk mengekspresikan keyakinan saya," tulis Taal di X pada hari Senin.

"Saya kehilangan keyakinan bahwa saya bisa berjalan di jalan tanpa diculik. Setelah mempertimbangkan pilihan-pilihan ini, saya mengambil keputusan untuk pergi dengan cara saya sendiri."

Taal diskors dua kali oleh Cornell, sebuah sekolah Ivy League di bagian utara New York, karena aktivitas protes. Pada hari serangan Hamas terhadap Israel pada tahun 2023, ia menulis: "Kemuliaan bagi Perlawanan."

"Kami bersolidaritas dengan perlawanan bersenjata di Palestina dari sungai hingga laut," katanya kemudian kepada kerumunan pengunjuk rasa, menurut surat kabar The Cornell Daily Sun.

300 Mahasiswa Dicabut Izin Visanya

300 Mahasiswa Dicabut Izin Visanya

Setidaknya 300 mahasiswa dicabut visanya karena terlibat dalam protes pro-Palestina, kata Menteri Luar Negeri Marco Rubio minggu lalu. Pejabat Trump mengatakan Undang-Undang Imigrasi dan Kewarganegaraan mengizinkan Departemen Luar Negeri untuk mendeportasi warga negara non-AS yang "bertentangan dengan kebijakan luar negeri dan kepentingan keamanan nasional" AS.

Penangkapan tersebut merupakan bagian dari janji Trump untuk memerangi apa yang oleh pemerintah diklasifikasikan sebagai antisemitisme, yang dituangkan dalam perintah eksekutif pada bulan Januari.

Para kritikus mengecam deportasi tersebut sebagai pelanggaran kebebasan berbicara. Mahasiswa lain yang memilih untuk melarikan diri dari AS, sarjana India Ranjani Srinivasan, mengatakan kepada CNN bahwa ia ingin membersihkan namanya.

"Saya bukan simpatisan teroris," katanya kepada CNN, seraya menambahkan: "Saya benar-benar hanya mahasiswa biasa." Ia menambahkan bahwa ia berharap untuk mendaftar ulang di Universitas Columbia, yang merupakan pusat protes mahasiswa tahun lalu, dan menyelesaikan program doktoralnya.

<p>Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)</p>
Sumber : Liputan6.com