Sejarah Sidang Isbat: Perjalanan Panjang Satukan Umat dalam Menentukan Awal Bulan Hijriah

26 February 2025, 18:07 WIB
Sejarah Sidang Isbat: Perjalanan Panjang Satukan Umat dalam Menentukan Awal Bulan Hijriah

Sebelum Indonesia merdeka, penetapan awal Ramadan dan Idul Fitri dilakukan secara lokal oleh para pemimpin adat. Hal ini menyebabkan perbedaan penentuan hari raya di berbagai wilayah, menciptakan beragam tradisi dan perayaan.

Setelah kemerdekaan, Kementerian Agama (Kemenag) pada 4 Januari 1946 mendapat mandat untuk menentukan hari raya besar Islam, termasuk Idul Fitri dan Idul Adha. Namun, keputusan ini belum sepenuhnya diterima seluruh umat Islam di Indonesia, memicu perlunya mekanisme yang lebih inklusif.

Muncullah sidang isbat sebagai forum untuk mencapai konsensus nasional. Perjalanan panjang sidang isbat ini diwarnai dinamika perbedaan metode hisab dan rukyat, serta berbagai upaya untuk meningkatkan transparansi dan akurasi dalam penentuan awal bulan Hijriah.

"Sidang Isbat bertujuan untuk menentukan secara nasional kapan umat Islam memulai dan mengakhiri ibadah puasa. Meski beberapa organisasi Islam telah mengumumkan jadwalnya masing-masing, keputusan pemerintah melalui sidang ini tetap menjadi acuan utama bagi masyarakat," kata Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, Abu Rokhmad dikutip dari Kemenag.go.id, Rabu (26/2/2025).

Dari Penetapan Lokal Menuju Sidang Isbat

Dari Penetapan Lokal Menuju Sidang Isbat

Pada masa sebelum kemerdekaan, penentuan awal bulan Hijriah sangat beragam karena ditentukan oleh masing-masing daerah. Tidak adanya standar nasional menyebabkan perbedaan dalam perayaan hari besar keagamaan di berbagai wilayah Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah berupaya menyatukan penetapan hari besar Islam. Kemenag didirikan dan diberi tanggung jawab untuk menentukan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah.

Namun, perbedaan pendapat dan metode perhitungan tetap ada. Sidang isbat muncul sebagai solusi untuk mencapai kesepakatan dan keseragaman dalam penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia.

Sidang Isbat: Perkembangan dan Peran Badan Hisab Rukyat

Sidang Isbat: Perkembangan dan Peran Badan Hisab Rukyat

Sidang Isbat pertama kali diadakan sekitar dekade 1950-an, meskipun beberapa sumber menyebutkan tahun 1962 sebagai tahun permulaannya. Awalnya, sidang ini masih sederhana dan didasarkan pada fatwa ulama.

Pada tahun 1972, pemerintah membentuk Badan Hisab Rukyat (BHR) di bawah Kemenag. BHR bertugas memberikan data dan informasi terkait awal bulan Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah, menggunakan metode hisab dan rukyat.

Tujuan pembentukan BHR adalah untuk menyeragamkan penentuan awal bulan Hijriah di seluruh Indonesia. BHR memberikan rekomendasi kepada Menteri Agama yang kemudian diputuskan melalui sidang isbat.

"Sidang isbat, hisab dan rukyat merupakan wujud kehadiran negara dalam memberikan layanan keagamaan kepada masyarakat. Sebagai bentuk layanan keagamaan kepada masyarakat, pembiayaan merupakan konsekuensi logis yang tidak mungkin dihindari, sebagaimana layanan pendidikan atau kesehatan," kata dia.

Keputusan Fatwa MUI dan Peran Ormas Islam

Keputusan Fatwa MUI dan Peran Ormas Islam

Keputusan Fatwa MUI No. 2 Tahun 2004 menegaskan bahwa penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode rukyah dan hisab oleh pemerintah melalui Kemenag. Keputusan ini berlaku secara nasional.

Meskipun demikian, perbedaan pendapat tetap ada, terutama antara pemerintah dan organisasi Islam seperti Muhammadiyah. Muhammadiyah memiliki metode dan kriteria penentuan awal bulan Hijriah yang berbeda.

Perbedaan ini terutama disebabkan oleh perbedaan penafsiran kriteria visibilitas hilal. Namun, sidang isbat tetap menjadi forum penting untuk mencapai konsensus nasional.

Peran Teknologi dan Ilmu Pengetahuan dalam Sidang Isbat

Peran Teknologi dan Ilmu Pengetahuan dalam Sidang Isbat

Kemenag terus berupaya meningkatkan transparansi dan akurasi proses sidang isbat. Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan turut dipertimbangkan dalam penentuan awal bulan Hijriah.

Penggunaan teknologi seperti satelit dan observatorium modern membantu meningkatkan akurasi data hisab. Data-data ini dibahas dan dikaji dalam sidang isbat.

Dengan demikian, sidang isbat tidak hanya mengandalkan metode tradisional, tetapi juga memanfaatkan teknologi modern untuk meningkatkan keakuratan dan transparansi prosesnya.

Tantangan dan Masa Depan Sidang Isbat

Sidang isbat bertujuan untuk menyatukan penetapan hari raya keagamaan, namun perbedaan pendapat tetap ada. Tantangan utama adalah mencapai kesepahaman di antara berbagai pihak yang terlibat.

Perbedaan metode hisab dan rukyat, serta perbedaan penafsiran kriteria visibilitas hilal, menjadi faktor utama penyebab perbedaan. Upaya untuk meningkatkan komunikasi dan pemahaman antar pihak sangat penting.

Ke depan, sidang isbat diharapkan dapat terus meningkatkan akurasi dan transparansi, serta mempertimbangkan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Hal ini penting untuk menjaga kesatuan umat Islam di Indonesia dalam merayakan hari-hari besar keagamaan.

Infografis

Infografis
 
Sumber : Liputan6.com