Ketidakpastian Pasar Saham Masih Tinggi, BEI Imbau Investor Atur Strategi Investasi
18 May 2026, 19:28 WIBBursa Efek Indonesia (BEI) mengingatkan investor untuk tidak panik dan mengatur strategi investasi sesuai profil risiko seiring ketidakpastian di pasar saham Indonesia. Hal ini yang dipicu sentimen domestik dan global.
Seiring sentimen itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergejolak pada Senin, 18 Mei 2026. Sempat turun 4% pada awal sesi perdagangan, IHSG mampu mengurangi tekanan sehingga ditutup merosot 1,85 persen ke posisi 6.599,24.
"Tidak bosan-bosannya kami mengingatkan supaya investor tentu tetap memperhatikan fundamental, tidak panik, menganalisis secara cermat, mengatur strategi berinvestasi sesuai dengan profil risiko masing-masing," tutur Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik kepada media di Media Center Gedung BEI, Jakarta, Senin, (18/5/2026), dikutip dari Antara.
Ia menuturkan, hal itu seiring dengan ketidakpastian yang masih tinggi di pasar saham Indonesia, dipicu oleh sentimen mancanegara maupun domestik.
"Karena kondisi pasar sangat dinamis, ketidakpastiannya masih cukup tinggi," kata Jeffrey.
Jeffrey menuturkan, koreksi yang terjadi pada IHSG seiring dengan pelemahan bursa saham kawasan Asia dan global, akibat ketidakpastian berkepanjangan geopolitik yang menyebabkan naIKNya harga minyak, dan mendorong potensi tren suku bunga tinggi dan inflasi di tingkat global.
"Di masa kita libur itu, pasar global khususnya pasar Asia juga mengalami koreksi. Dan kalau kita akumulasikan koreksi dua hari di pasar global Asia, ditambah dengan sedikit koreksi tambahan hari ini di pasar global, itu sama dengan koreksi yang kita alami hari ini," ujar Jeffrey.
Di sisi lain, pihaknya tidak memungkiri ketidakpastian pasar saham Indonesia masih cukup tinggi saat ini.
"Jadi saya rasa masih inline dengan global market, tetapi memang ketidakpastian di pasar kita itu masih cukup tinggi," kata Jeffrey.
Kinerja IHSG 18 Mei 2026
Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah pada perdagangan saham Senin, (18/5/2026). IHSG hari ini mampu mengurangi tekanan hingga kembali ke 6.500.
Mengutip data RTI, IHSG turun 1,85% ke 6.599,24. Indeks saham LQ45 terpangkas 1,03% menjadi 651,08. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.
Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menuturkan, pekan ini, IHSG masih berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan sideways melemah. Sentimen global masih akan sangat dominan, tetapi peluang technical rebound tetap terbuka apabila tekanan jual asing mulai mereda dan big caps perbankan kembali stabil.
Reydi menambahkan, pelemahan IHSG dipicu kombinasi sentimen global dan domestik, yang mana dari global, pasar masih dibayangi sikap risk-off akibat ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat (AS), tensi geopolitik, serta tekanan di emerging market.
Dari dalam negeri, Reydi menuturkan, investor masih mencermati tekanan capital outflow, pelemahan rupiah, serta kekhawatiran terhadap likuiditas dan volatilitas saham-saham tertentu.
Reydi mengatakan, investor asing saat ini cenderung masih defensif, terutama pada saham-saham big caps yang sebelumnya menjadi penopang indeks, yang mana asing terlihat lebih berhati-hati sambil menunggu stabilitas pasar global dan kepastian arah kebijakan moneter.
"Sebagian dana saat ini mulai beralih ke instrumen yang lebih defensif seperti obligasi pemerintah, emas, dolar AS, hingga saham-saham defensif berbasis dividen dan komoditas. Investor cenderung mencari aset yang lebih aman," kata Reydi dikutip dari Antara.
Sektor Saham
Pada awal pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 6.631,28 dan level terendah 6.398,78. Sebanyak 616 saham melemah sehingga bebani IHSG. 125 saham menguat dan 79 saham diam di tempat.
Total frekuensi perdagangan 2.570.391 kali dengan volume perdagangan saham 32 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 20,7 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.655. Seluruh sektor saham tertekan. Sektor saham transportasi merosot 6,2%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham energi turun 2,37%, sektor saham basic melemah 5,17%.
Kemudian sektor saham industri terperosok 3,24%, sektor saham consumer nonsiklikal tergelincir 1,81%, sektor saham consumer siklikal susut 1,58%, sektor saham kesehatan melemah 1,24%.
Selain itu, sektor saham keuangan terpangkas 1,79%, sektor saham properti merosot 2,22%, sektor saham teknologi turun 2,21%, sektor saham infrastruktur susut 2,98%.