Foxconn Diserang Ransomware, Data Apple dan Nvidia Diklaim Ikut Bocor
13 May 2026, 16:00 WIB
Foxconn mengonfirmasi telah menjadi korban serangan siber. Akibatnya, sejumlah pabrik mereka di Amerika Utara terkena dampaknya.
Kabar ini langsung mencuri perhatian, karena Foxconn merupakan salah satu pemasok penting untuk banyak perusahaan teknologi besar, termasuk Apple dan Nvidia.
Serangan siber ini mencuat di internet setelah kelompok spesialis ransomware, Nitrogen, memasukkan nama Foxconn ke situs kebocoran data mereka.
Mengutip The Register, Rabu (13/5/2026), pelaku mengklaim telah mencuri data sebesar 8TB dari perusahaan asal Taiwan itu, dengan total lebih dari 11 juta file.
Dalam pernyataannya ke The Register juru bicara Foxconn mengatakan, beberapa pabrik mereka di Amerika Utara mengalami serangan siber.
Saat kedapatan menjadi korban, perusahaan langsung mengaktifkan mekanisme response dan mengambil langkah operasional. Tindakan ini diambil untuk menjaga kelangsungan produksi dan pengiriman.
Pabrik yang terkenal memproduksi iPhone ini mengatakan, pabrik terdampak serangan siber tersebut kini sudah mulai melanjutkan produksi secara normal.
Meski begitu, perusahaan belum mengonfirmasi klaim Nitrogen soal pencurian data pelanggan atau dokumen rahasia terkait dengan sejumlah klien besar mereka saat ini.
Nitrogen Klaim Curi 8TB Data Foxconn
Kelompok ransomware Nitrogen mengklaim, data yang dicuri mencakup instruksi rahasia, dokumentasi proyek internal, serta gambar teknis dari sejumlah nama besar seperti Intel, Apple, Google, Dell, dan Nvidia dicuri datanya.
Namun, Faxconn tidak membenarkan apakah data klien besar mereka benar dicuri dalam insiden ini. Perusahaan hanya mengonfirmasi, serangan siber tersebut benar terjadi dan terdampak sejumlah fasilitas mereka di Amerika Utara.
Di sisi lain, Foxconn punya peran penting dalam rantai pasok global sejumlah produk elektronik. Karena itu, setiap masalah atau gangguan terhadap Foxconn berpotensi memicu rasa khawatir, terutama bila data yang bocor merupakan informasi proyek, desain teknis, atau proses produksi.
Belum ada informasi resmi mengenai besaran dampak finansial dari serangan ini. Foxconn juga belum merinci pabrik mana saja yang terdampak, atau sistem apa yang sempat terganggu.
Ini bukan pertama kalinya Foxconn menjadi sasaran kelompok ransomware. Pada tahun 2024, LockBit mengklaim telah menginfeksi Foxsemicon Integrated Technology, produsen peralatan semikonduktor dalam Foxconn Technology Group.
Kelompok kriminal yang sama juga menyerang anak perusahaan Foxconn di Meksiko pada tahun 2022.
Nitrogen bukan nama baru di lanskap ransomware. Kelompok ini disebut aktif sejak 2023 dan dikaitkan dengan turunan ransomware yang memanfaatkan kode dari Conti 2 yang bocor.
Kasus Nitrogen juga mendapat perhatian karena masalah teknis pada salah satu varian malware mereka.
Pada Februari 2026, Coveware melaporkan varian Nitrogen yang menargetkan VMware ESXi memiliki kesalahan pemrograman yang membuat file korban tidak bisa dipulihkan, bahkan oleh pelaku sendiri.
Apple Tak Sarankan Antivirus untuk Mac
Di sisi lain, berbeda dari PC atau laptop berbasis Windows, laptop Apple Mac memang dikenal aman dari beragam ancaman virus atau serangan siber. Akan tetapi, dengan berkembangnya teknologi, ancaman siber terhadap pengguna Mac pun mulai bermunculan.
Hal tersebut memicu pertanyaan tentang apakah pengguna macOS masih perlu memasang antivirus pihak ketiga agar aman dari malware dan serangan siber secara online?
Apple pun menjawab dengan tegas. Perusahaan berbasis di Cupertino tersebut mengatakan, pengguna tidak perlu menginstal antivirus pihak ketiga di perangkat Mac mereka.
Alasannya, perusahaan sudah mengandalkan kemampuan native platform di macOS untuk antivirus. Klaim ini sangat menarik, karena selama bertahun-tahun banyak pengguna merasa aman memakai Mac tanpa antivirus.
Sementara lainnya, rasa khawatir mulai muncul dengan maraknya serangan terhadap macOS.
Menyadari rasa gelisah tersebut, Apple ingin pengguna mengandalkan sistem keamanan bawaan macOS sudah dirancang berlapis, terutama pada Mac berbasis Apple Silicon.
Menariknya, Apple mengakui mereka sama sekali tidak memakai antivirus pihak ketiga di lini Mac yang dipakai secara internal di perusahaan.
macOS Punya Perlindungan Berlapis
Apple menjelaskan, pertahanan malware di macOS bekerja dalam tiga lapisan utama. Pertama adalah mencegah malware diluncurkan atau dieksekusi lewat App Store, Gatekeeper, dan Notorization.
Lapisan kedua berfungsi memblokir malware agar tidak berjalan di perangkat pengguna. Di sini, macOS kembali mengandalkan Gatekeeper, Notarization, dan XProtect.
Terakhir atau ketiga akan berfungsi menangani malware yang sudah sempat dieksekusi melalui XProtect, fitur penting dari perlindungan antivirus bawaan di macOS.
Notarization juga memegang peran besar. Lewat proses ini, pengembang mengirimkan aplikasi ke Apple untuk diperiksa dari sisi keamanan. Proses ini berbeda dari review App Store karena fokusnya bukan pada kebijakan konten, melainkan potensi elemen berbahaya di dalam aplikasi.
Jika lolos pemeriksaan, Apple menerbitkan notarization ticket. Pengembang lalu bisa menyertakan tiket tersebut saat mendistribusikan aplikasi di luar App Store.
Karenanya, Apple berada di posisi paling depan dalam rantai distribusi aplikasi. Aplikasi berbahaya harus melewati sistem Apple sebelum bisa menyebar luas ke pengguna Mac.
Model ini berbeda dari antivirus tradisional yang sering bekerja setelah malware ditemukan menginfeksi perangkat, lalu membuat signature untuk mencegah penyebaran berikutnya.