JK Buka Suara soal Dilaporkan ke Polisi terkait Isi Ceramah di UGM

18 April 2026, 19:57 WIB
JK Buka Suara soal Dilaporkan ke Polisi terkait Isi Ceramah di UGM

Wapres ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) buka suara soal dirinya dilaporkan kepada pihak kepolisiaan karena isi ceramahnya di Universitas Gadjah Mada (UGM) dituding menistakan agama. JK merasa telah difitnah karena potongan video ceramahnya dipotong hanya beberapa detik saja.

"Kami sudah mulai mempelajari berbagai letak permasalahannya. Mudah-mudahan Tuhan Allah akan memaafkan. Para pemfitnah itu... al-fitnatu asyaddu minal qatl. Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Semua memfitnah saya semua," kata JK di kediaman pribadinya, Jalan Brawijaya IV Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026).

Dia menjelaskan bahwa dirinya diundang oleh UGM untuk mengisi ceramah Ramadhan dengan tema perdamaian. Dalam ceramahnya itu, JK pun mencontohkan beberapa konflik mulai dari, yang terjadi di Eropa, Perang Dunia, Aceh, hingga konflik agama di Ambon-Poso.

"Ada konflik karena ideologi kayak Madiun, ada konflik karena ideologi, ada konflik karena wilayah kayak Tim-Tim, ada konflik karena ekonomi kayak di Aceh. Saya jelaskan satu per satu. Kemudian satu menit saja, eh satu dua menit, bicarakan konflik karena agama. Itulah antara lain Ambon-Poso," tuturnya.

JK juga memutarkan beberapa video yang menunjukkan kekejaman konflik agama yang terjadi di Ambon-Poso. Bahkan, kata dia, ada 7.000 orang yang meninggal dunia dalam tiga tahun konflik itu.

Pertaruhkan Nyawa

Pertaruhkan Nyawa

JK yang saat itu menjabat Menteri Kesra memutuskan untuk berangkat ke lokasi untuk meredakan konflik yang terjadi. Dia mengaku mempertaruhkan nyawanya disaat pejabat lain tak ada yang berani ke lokasi konflik.

"Saya damaikan ini, apa saya menista agama? Saya pertaruhkan jiwa saya dengan Hamid (Eks Menkumham) masuk ke daerah yang Anda lihat tadi itu. Masuk ke daerah itu. Tidak ada Presiden, Gus Dur, tidak ada yang bisa," tuturnya.

"Jenderal-jenderal datang tidak bisa mendamaikan itu. Tokoh-tokoh Maluku waktu itu militer itu berapa, dua puluhan? Tidak bisa. Saya datang tanpa pengawal masuk ke daerah itu," sambung JK.

Sumber : Liputan6.com