Israel Bahas Gencatan Senjata Sementara di Lebanon di Tengah Tekanan AS
16 April 2026, 11:05 WIB
Kabinet keamanan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggelar pertemuan pada Rabu (15/4/2026) malam untuk membahas kemungkinan gencatan senjata sementara di Lebanon, di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat dan dinamika konflik regional yang kian kompleks.
Seorang sumber politik senior Israel menyebut peluang penghentian sementara pertempuran semakin besar.
"Dalam beberapa hari, kami mungkin tidak punya pilihan selain sepenuhnya menghentikan tembakan di Lebanon," ujar sumber tersebut seperti dikutip media lokal, dikutip dari laman Times of Israel, Kamis (16/4).
Laporan tersebut menyebut Washington mendorong Israel menyetujui gencatan senjata selama satu pekan dalam konflik dengan kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Langkah ini diharapkan dapat membuka ruang bagi negosiasi antara Israel dan Lebanon, sekaligus mendukung upaya AS mencapai kesepakatan lebih luas dengan Iran.
Namun, pemerintah AS membantah adanya tekanan langsung terhadap Israel. Seorang pejabat senior AS menyatakan penghentian konflik di Lebanon bukan bagian dari negosiasi dengan Iran, meski Washington menyambut baik jika permusuhan berakhir sebagai bagian dari kesepakatan damai regional.
Pertemuan kabinet keamanan Israel dilaporkan berakhir tanpa keputusan final. Sementara itu, pertempuran di lapangan masih berlangsung. Militer Israel menyebut lima tentaranya terluka akibat serangan roket Hizbullah di Lebanon selatan, dengan satu di antaranya mengalami luka serius.
Kepala Staf militer Israel, Eyal Zamir, dalam kunjungannya ke Lebanon selatan menyatakan telah menyetujui rencana operasi baru. Ia juga menetapkan wilayah hingga Sungai Litani sebagai zona operasi militer intensif terhadap Hizbullah.
Di sisi diplomatik, upaya gencatan senjata terus dilakukan. Sumber dari Hizbullah dan pemerintah Lebanon menyebut negosiasi masih berlangsung, termasuk setelah pertemuan tingkat tinggi Israel-Lebanon di Washington---yang disebut sebagai yang pertama dalam skala tersebut.
Usulan Gencatan Senjata
Utusan khusus AS, Steve Witkoff, dilaporkan telah mengusulkan gencatan senjata sementara sebagai langkah awal menuju kesepakatan yang lebih permanen. Usulan itu sempat ditolak Israel, namun kini kembali dipertimbangkan seiring meningkatnya tekanan internasional.
Perkembangan ini juga terkait dengan negosiasi terpisah antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik yang lebih luas di kawasan. Gencatan senjata dua pekan dalam konflik tersebut dijadwalkan berakhir pada 22 April.
Iran menegaskan Lebanon harus menjadi bagian dari setiap kesepakatan regional, namun Washington menolak mengaitkan kedua jalur diplomasi tersebut.
Di tengah upaya diplomasi, pemerintah Lebanon terus menyerukan gencatan senjata. Israel, di sisi lain, tetap berkomitmen melanjutkan operasi militernya untuk melemahkan Hizbullah, meskipun intensitas serangan dilaporkan menurun dalam beberapa hari terakhir.
Seorang pejabat Israel menegaskan belum ada kesepakatan gencatan senjata yang berlaku. "Tidak ada gencatan senjata di Lebanon. Kepentingan bersama Israel dan Lebanon adalah membubarkan Hizbullah," ujarnya.
Sementara itu, pejabat Hizbullah Ibrahim al-Moussawi menyatakan upaya diplomatik yang melibatkan Iran dan negara-negara regional berpotensi menghasilkan gencatan senjata dalam waktu dekat, meskipun situasi di lapangan masih menunjukkan eskalasi.