Hizbullah Minta Pemerintah Lebanon Batalkan Pertemuan dengan Israel

14 April 2026, 07:12 WIB
Hizbullah Minta Pemerintah Lebanon Batalkan Pertemuan dengan Israel

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Hizbullah Naim Qassem, pada Senin (3/4/2026) mendesak Lebanon untuk membatalkan rencana pertemuan dengan Israel yang dijadwalkan berlangsung di Washington, Amerika Serikat (AS), pada Selasa (14/4).

Ia kembali menegaskan penolakan kelompoknya terhadap negosiasi langsung dengan Israel.

Dalam pidato yang disiarkan di televisi, Qassem seperti dikutip dari laporan CNA mengatakan, "Kami menolak negosiasi dengan entitas Israel yang merampas... Kami menyerukan sikap bersejarah dan heroik dengan membatalkan pertemuan negosiasi ini."

Pemerintah Lebanon sebelumnya menegaskan bahwa Beirut ingin terlebih dahulu mengamankan gencatan senjata dalam perang Israel--Hizbullah. Namun, Israel menolak opsi tersebut dan menyatakan lebih memilih fokus pada pembicaraan damai formal dengan Lebanon, negara yang secara teknis masih berada dalam kondisi perang selama beberapa dekade.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Sabtu (11/4) mengatakan, "Kami menginginkan pelucutan senjata Hizbullah dan kami menginginkan perjanjian damai yang nyata yang akan bertahan selama beberapa generasi."

Menanggapi hal itu, Qassem menyatakan bahwa negosiasi ini sia-sia dan harus didasarkan pada kesepakatan serta konsensus nasional di Lebanon.

Pada Jumat (10/4) dan Sabtu sebelumnya, ratusan pendukung Hizbullah menggelar aksi protes menentang rencana perundingan tersebut. Mereka menuduh Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam sebagai "zionis".

Serangan Israel telah menewaskan lebih dari 2.000 orang di Lebanon dan menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi sejak Hizbullah membawa negara itu masuk ke dalam perang Iran pada 2 Maret.

Dalam pidatonya, Naim Qassem menegaskan sikap perlawanan kelompoknya dengan mengatakan, "Kami tidak akan menyerah, kami akan tetap berada di medan hingga napas terakhir kami."

Pernyataan itu disampaikan saat para pejuangnya menghadapi pasukan Israel yang terus maju dengan tujuan menciptakan "zona keamanan" di Lebanon selatan.

Militer Israel pada Senin menyatakan bahwa pasukannya telah sepenuhnya mengepung Kota Bint Jbeil di selatan Lebanon. Sementara itu, Hizbullah terus mengklaim melakukan serangan terhadap pasukan Israel di wilayah tersebut.

Qassem juga memperingatkan bahwa wilayah utara Israel tetap tidak akan aman, meskipun pasukan Israel memasuki wilayah mana pun di Lebanon.

Selain itu, ia menuduh pemerintah Lebanon telah menusuk kelompoknya dari kelompoknya dengan menyatakan aktivitas militer Hizbullah sebagai ilegal sejak awal perang.

"Israel dan AS dengan jelas mengatakan mereka ingin memperkuat tentara Lebanon untuk melucuti dan memerangi Hizbullah... tetapi tentara (Lebanon) tidak dapat melakukan itu," imbuhnya.

Sumber : Liputan6.com