Impor Kedelai RI Melonjak, Negara Ini Jadi Pemasok Utama
14 April 2026, 17:50 WIB
Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Badan Pangan Nasional Maino Dwi Hartono menyebut kebutuhan kedelai nasional saat ini berada di kisaran 3 juta ton per tahun dan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk.
Menurutnya, pemenuhan kebutuhan tersebut masih sangat bergantung pada impor, dengan pasokan terbesar berasal dari Amerika Serikat. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut merupakan bagian dari hubungan dagang antarnegara yang saling melengkapi.
"Sebagian besar pasokan memang dari Amerika Serikat, tetapi itu bukan satu-satunya sumber. Ini juga bagian dari hubungan dagang timbal balik antarnegara," ujar Maino dalam Rakernas Gakoptindo, di Mess Kementerian Pertanian, Selasa (14/4/2026).
Berdasarkan catatan Bapanas, volume impor kedelai Indonesia terus mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Pada 2024 tercatat sebesar 2,59 juta ton, naik menjadi 2,72 juta ton pada 2025, dan diperkirakan mencapai 2,87 juta ton pada 2026.
Amerika Serikat masih menjadi pemasok utama dengan kontribusi lebih dari 80% total impor. Disusul Kanada, Brasil, dan Argentina dengan porsi yang jauh lebih kecil.
Distribusi impor juga masih terpusat di pelabuhan-pelabuhan utama di Pulau Jawa, seperti Tanjung Priok dan Tanjung Perak. Hal ini mencerminkan bahwa industri pengolahan kedelai nasional masih terkonsentrasi di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur.
Ia menjelaskan, fluktuasi harga kedelai tidak semata-mata dipengaruhi oleh negara asal impor. Sejumlah faktor global turut berperan, mulai dari nilai tukar dolar AS hingga gangguan logistik.
Salah satu contoh yang disoroti adalah terganggunya jalur distribusi global pada periode tertentu, yang menyebabkan kapal pengangkut harus memutar rute dan berdampak pada biaya distribusi.
Faktor Musim Panen
Selain itu, faktor musim panen di negara produsen juga turut memengaruhi harga. Saat musim panen, harga cenderung turun, sementara pada periode di luar musim (off season), harga biasanya mengalami kenaikan.
"Pada saat misalnya panen, tentu harga di sana juga lebih terkoreksi turun. Begitu juga pada saat off season, tentu harganya juga akan terkoreksi," ucapnya.
Hingga saat ini, harga kedelai di tingkat importir masih berada di kisaran Rp10.500 hingga Rp11.000 per kilogram. Di tingkat perajin tahu dan tempe, harga rata-rata berada di kisaran Rp11.000 per kilogram.
Pemerintah, lanjut Maino, terus memantau pergerakan harga tersebut agar tidak mengalami kenaikan signifikan yang dapat membebani pelaku usaha, khususnya pengrajin tahu dan tempe.
"Jangan sampai harga terus meningkat dan memberatkan pelaku usaha. Itu yang terus kami cermati," katanya.