4 April 2017: Horor Serangan Senjata Kimia di Suriah, Puluhan Orang Tewas
04 April 2026, 06:00 WIB
Pagi hari pada 4 April 2017 menjadi salah satu momen paling kelam dalam sejarah perang saudara Suriah. Sekitar pukul 06.30 waktu setempat, sebuah serangan senjata kimia menghantam Kota Khan Sheikhun di Provinsi Idlib, ketika sebagian besar penduduk masih terlelap.
Serangan tersebut menewaskan lebih dari 80 orang, termasuk puluhan anak-anak yang ditemukan tanpa luka fisik di tubuh mereka.
Mengutip laporan The New York Times, banyak korban tewas di dalam rumah mereka, menunjukkan bahwa paparan zat beracun terjadi secara cepat dan mematikan. Rekaman video yang kemudian diverifikasi oleh The Guardian memperlihatkan para korban mengalami kejang-kejang, mengeluarkan busa dari mulut, serta memiliki pupil mata yang mengecil---gejala khas paparan agen saraf.
Penyelidikan resmi yang dilakukan oleh Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW-JIM) dan kemudian diperkuat oleh laporan Reuters, mengonfirmasi bahwa zat yang digunakan dalam serangan tersebut adalah gas sarin, yaitu agen saraf---sejenis senjata kimia yang menyerang sistem saraf dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat.
Laporan OPCW-JIM menyimpulkan pula pemerintah Suriah bertanggung jawab atas serangan yang dilancarkan melalui operasi udara dari Pangkalan Udara Shayrat. Namun demikian, pemerintah Suriah dan sekutu utamanya, Rusia, secara konsisten membantah tuduhan tersebut. Mereka menyatakan bahwa serangan udara tersebut menargetkan gudang senjata milik kelompok pemberontak yang diduga menyimpan bahan kimia berbahaya.
Tim penyelidik menolak klaim Suriah dan Rusia mengenai gudang senjata pemberontak karena bukti teknis menunjukkan zat kimia disebarkan melalui bom udara, bukan ledakan di darat.
Hanya tiga hari setelah serangan, Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, memerintahkan serangan balasan militer langsung terhadap pemerintah Suriah. Seperti dilaporkan oleh BBC, AS meluncurkan 59 rudal Tomahawk yang menargetkan Pangkalan Udara Shayrat, sebagai bentuk peringatan keras atas penggunaan senjata kimia.
Serangan itu dilaporkan menewaskan tujuh personel militer Suriah serta melukai sejumlah lainnya, seiring hancurnya sebagian infrastruktur dan pesawat di pangkalan udara tersebut.
Setelah serangan AS, aktivitas militer Suriah dilaporkan sempat terganggu, namun tidak berhenti sepenuhnya. Dalam beberapa hari, operasi udara dari Pangkalan Shayrat kembali berlangsung, menunjukkan bahwa dampak militer serangan AS bersifat terbatas dan tidak secara signifikan mengubah jalannya konflik.