Kuba Bebaskan Lebih dari 2.000 Narapidana di Tengah Tekanan AS
03 April 2026, 17:06 WIB
Pemerintah Kuba pada Kamis (2/4/2026) mengumumkan telah memberikan pengampunan dan membebaskan 2.010 narapidana, sebuah langkah besar yang disebut sebagai "gestur kemanusiaan dan kedaulatan" di tengah meningkatnya tekanan dari pemerintahan Presiden Donald Trump.
Pengumuman itu disampaikan oleh Kedutaan Besar Kuba di Amerika Serikat (AS) melalui platform X, yang menjelaskan bahwa para tahanan yang dibebaskan mencakup berbagai kelompok, antara lain narapidana berusia muda, perempuan, orang berusia di atas 60 tahun, warga Kuba yang tinggal di luar negeri, serta warga negara asing. Namun, pemerintah Kuba menegaskan bahwa narapidana yang terbukti melakukan kejahatan berat tidak termasuk dalam program pengampunan ini.
Belum diketahui apakah tahanan politik turut dibebaskan dalam kebijakan tersebut. Organisasi nonpemerintah Prisoners Defenders sebelumnya mencatat terdapat 1.211 tahanan politik di Kuba.
Pemerintah Kuba seperti dikutip dari CBS News juga menyebut bahwa pembebasan massal ini merupakan yang kedua pada tahun ini, setelah sebelumnya 51 narapidana dibebaskan pada bulan lalu.
Langkah ini terjadi saat Kuba tengah menghadapi krisis energi yang serius akibat tekanan dari AS, termasuk ancaman penerapan tarif tinggi terhadap negara-negara yang mengekspor minyak ke Kuba. Kebijakan tersebut sempat menyebabkan pengiriman bahan bakar ke Kuba terhenti selama beberapa bulan dan memperparah kelangkaan energi di dalam negeri.
Namun, situasi mulai sedikit mereda setelah AS awal pekan ini mengizinkan sebuah kapal tanker berbendera Rusia yang dikenai sanksi untuk berlabuh di Havana dengan membawa lebih dari 700.000 barel minyak. Rusia menyatakan rencananya untuk mengirim kapal tanker kedua sebagai tambahan pasokan bagi Kuba.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan bahwa keputusan untuk mengizinkan kapal tanker tersebut masuk diambil atas dasar kemanusiaan. Presiden Trump menyatakan bahwa bantuan tersebut diperlukan agar Kuba dapat bertahan, meskipun pemerintahannya tetap menegaskan bahwa kebijakan terhadap Kuba tidak berubah dan keputusan serupa di masa depan akan ditentukan secara kasus per kasus.
Negosiasi Jalan Terus
Dalam beberapa bulan terakhir, Trump meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Kuba, dengan sejumlah pejabat pemerintahannya mengungkapkan keinginan untuk melihat perubahan besar dalam sistem pemerintahan negara tersebut. Bahkan, Trump sempat melontarkan pernyataan kontroversial dengan menyebut kemungkinan mengambil alih Kuba.
Sejalan dengan itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa Kuba membutuhkan reformasi ekonomi dan politik, serta perubahan sistem pemerintahan untuk memperbaiki kondisi negara tersebut. Ia menilai bahwa tanpa perubahan sistem, masalah ekonomi Kuba tidak akan dapat diselesaikan.
Meski demikian, pemerintah Kuba menolak keras tekanan.
Presiden Miguel Diaz-Canel Bermudez sebelumnya telah memperingatkan bahwa setiap agresi dari pihak luar akan menghadapi perlawanan yang kuat. Di tengah ketegangan tersebut, kedua negara diketahui masih terlibat dalam proses negosiasi, dengan mantan Presiden Raul Castro disebut turut berperan dalam pembicaraan tersebut.
Trump sendiri secara terbuka menyatakan keinginannya untuk mengakhiri "semangat ala Fidel Castro" dan mendorong transisi Kuba menuju sistem demokrasi yang sejalan dengan kepentingan AS.