Usai Iran, Trump: Kuba Jadi Target Berikutnya

28 March 2026, 19:33 WIB
Usai Iran, Trump: Kuba Jadi Target Berikutnya

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, pada Jumat (27/3/2026) mengatakan "Kuba berikutnya" dalam pernyataan terbarunya yang bernada ancaman terhadap negara pulau di Karibia tersebut. Ia juga menepis kekhawatiran bahwa tindakan militer AS baru-baru ini akan membuatnya kehilangan dukungan politik.

Pernyataan itu disampaikan Trump saat berbicara di forum investasi FII Priority yang didukung Arab Saudi di Miami. Dalam kesempatan tersebut, ia mengatakan bahwa gerakan Make America Great Again (MAGA) menginginkan "kekuatan" dan "kemenangan".

"Saya membangun militer yang hebat ini. Saya ingin menyebutnya, 'Anda tidak akan pernah harus menggunakannya' tetapi kadang-kadang Anda harus menggunakannya," ujar Trump seperti dikutip dari CNA.

Ia kemudian menambahkan, "Dan omong-omong Kuba berikutnya. Tapi anggap saja saya tidak mengatakan itu."

Trump tidak menjelaskan secara rinci apa yang ia rencanakan terhadap Kuba. Ia bahkan meminta media untuk "mengabaikan pernyataan itu" sebelum kembali mengulang, "Kuba berikutnya", yang disambut tawa dari hadirin.

Pemerintah Kuba telah menghadapi tekanan yang meningkat dari Trump. Pada Januari, ia memberlakukan blokade minyak secara de facto dan sempat mengutarakan kemungkinan untuk "mengambil alih" negara tersebut.

Dalam pidatonya pada Jumat, Trump juga membuat komentar bercanda dengan menyebut Selat Hormuz sebagai "Selat Trump".

Sementara itu, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengatakan pekan lalu bahwa setiap agresor dari luar akan menghadapi perlawanan yang tidak dapat dipatahkan, meskipun negara itu tengah mengalami dua kali pemadaman listrik nasional dalam satu minggu.

Kuba telah berada di bawah embargo perdagangan Amerika Serikat sejak revolusi 1959 yang dipimpin oleh Fidel Castro. Hubungan kedua negara sempat mencair dalam beberapa tahun terakhir, namun kembali memburuk sejak Trump menjabat untuk masa jabatan keduanya, dengan upaya memperketat pengaruh Washington di Amerika Latin.

Seorang diplomat tinggi Kuba sebelumnya mengatakan bahwa Havana bersedia melanjutkan pembicaraan dengan Washington, tetapi menegaskan bahwa perubahan terhadap sistem politiknya tidak dapat dibahas.

Di sisi lain, dua kapal layar pembawa bantuan kemanusiaan ke Kuba, Friendship dan Tigger Moth, telah ditemukan selamat oleh Angkatan Laut Meksiko pada Sabtu pagi (28/3) setelah sempat dilaporkan hilang kontak akibat cuaca buruk. Sembilan awak kapal dari berbagai negara dinyatakan dalam kondisi sehat dan kini tengah melanjutkan pelayaran menuju Havana untuk menyalurkan bantuan krusial berupa pasokan medis, makanan, serta panel surya bagi masyarakat Kuba. Konfirmasi penemuan ini sekaligus mengoreksi kesimpangsiuran informasi sebelumnya dan memastikan bahwa misi kemanusiaan tersebut tetap berjalan sesuai rencana.

Sumber : Liputan6.com