Perundingan Nuklir Iran dan AS Belum Capai Kesepakatan, Bayang-bayang Perang Masih Mengintai
27 February 2026, 07:37 WIB
Iran dan Amerika Serikat (AS) menggelar perundingan tidak langsung selama berjam-jam pada Kamis (26/2/2026) guna membahas program nuklir Iran. Namun, kedua pihak mengakhiri pertemuan tanpa mencapai kesepakatan. Kondisi ini membuat ancaman konflik baru di Timur Tengah tetap terbuka, di tengah pengerahan besar-besaran armada pesawat dan kapal perang Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Perundingan yang berlangsung di Jenewa, Swiss, ini dimediasi oleh Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi. Ia menyatakan telah terjadi "kemajuan signifikan dalam negosiasi", tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Namun, sesaat sebelum pembicaraan berakhir, televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa Iran tetap bertekad melanjutkan pengayaan uranium, menolak proposal untuk memindahkan uranium ke luar negeri, serta menuntut pencabutan sanksi internasional. Sikap ini mengindikasikan Iran belum bersedia memenuhi tuntutan Presiden AS Donald Trump.
Trump menginginkan kesepakatan yang dapat membatasi program nuklir Iran. Ia menilai momentum ini sebagai peluang, ketika Iran sedang menghadapi tekanan domestik berupa meningkatnya gelombang ketidakpuasan publik setelah aksi protes nasional. Di sisi lain, Iran juga berharap dapat menghindari perang, tetapi menegaskan memiliki hak untuk memperkaya uranium dan menolak membahas isu lain, seperti program rudal jarak jauh maupun dukungan terhadap kelompok bersenjata seperti Hamas dan Hizbullah.
Al-Busaidi mengatakan pembicaraan teknis yang melibatkan perwakilan tingkat lebih rendah akan dilanjutkan pekan depan di Wina, markas Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Lembaga pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut diperkirakan akan memainkan peran penting dalam setiap kesepakatan yang mungkin tercapai.
Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut pembicaraan dengan AS sebagai salah satu putaran negosiasi paling intens dan terpanjang yang pernah dijalani negaranya. Ia tidak memberikan rincian spesifik, tetapi menyatakan bahwa "apa yang perlu terjadi telah dijelaskan secara jelas dari pihak kami."
Gedung Putih belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait hasil perundingan tersebut.
Ancaman Skenario Terburuk
Taruhannya dinilai sangat tinggi. Iran telah memperingatkan bahwa jika AS melakukan serangan, pangkalan militer AS di kawasan akan dianggap sebagai target sah. Hal itu berpotensi membahayakan puluhan ribu personel militer AS yang tersebar di berbagai negara Timur Tengah.
Iran juga mengancam akan menyerang Israel, sehingga konflik regional berisiko kembali meluas.
"Tidak akan ada kemenangan bagi siapa pun --- ini akan menjadi perang yang menghancurkan," kata Araghchi dalam wawancara dengan India Today yang direkam Rabu (25/2) sebelum keberangkatannya ke Jenewa.
Ia menambahkan, karena pangkalan militer AS tersebar di berbagai lokasi di kawasan, seluruh wilayah Timur Tengah berpotensi terseret dalam konflik.
"Ini adalah skenario yang sangat mengerikan," ujarnya.
Ali Vaez, pakar Iran dari International Crisis Group, menilai sebagai sinyal positif bahwa delegasi AS tidak langsung meninggalkan perundingan ketika Iran mempresentasikan proposal terbarunya.
"Mungkin belum ada terobosan pada akhir hari ini, tetapi fakta bahwa tim AS kembali menunjukkan adanya titik temu yang cukup di antara kedua pihak," katanya.
Pertemuan Ketiga Sejak Juni
Perundingan di Jenewa merupakan pertemuan ketiga sejak konflik bersenjata selama 12 hari pada Juni lalu, ketika Israel melancarkan serangan terhadap Iran dan AS melakukan serangan besar ke fasilitas nuklir Iran. Serangan tersebut menyebabkan sebagian besar program nuklir Iran hancur, meskipun tingkat kerusakan secara keseluruhan masih belum sepenuhnya jelas.
Dalam pertemuan terbaru ini, Iran diwakili oleh Araghchi. Delegasi AS dipimpin oleh Steve Witkoff, pengembang properti miliarder sekaligus utusan khusus Timur Tengah dan sahabat Trump, bersama Jared Kushner, menantu Trump. Oman kembali bertindak sebagai mediator, sebagaimana perannya selama ini sebagai penghubung antara Iran dan Barat.
Kedua pihak sempat menghentikan pembicaraan setelah sekitar tiga jam, lalu melanjutkannya kembali pada hari yang sama. Selama jeda tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan pihaknya menilai terdapat proposal konstruktif terkait isu nuklir maupun keringanan sanksi.
Iran telah berulang kali menegaskan hanya bersedia membahas isu nuklir dan menyatakan program nuklirnya sepenuhnya untuk tujuan damai.
Dugaan Upaya Pembangunan Kembali Program Nuklir
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan pada Rabu bahwa Iran selalu berusaha membangun kembali elemen-elemen program nuklirnya. Ia mengatakan Iran saat ini tidak sedang memperkaya uranium, tetapi mereka mencoba mencapai titik di mana pada akhirnya bisa melakukannya.
Iran menyatakan belum melakukan pengayaan sejak Juni, tetapi telah memblokir akses inspektur IAEA ke lokasi-lokasi yang dibom AS. Foto satelit yang dianalisis oleh Associated Press menunjukkan adanya aktivitas di dua lokasi tersebut, yang mengindikasikan Iran tengah menilai dan berpotensi memulihkan material di sana.
Negara-negara Barat dan IAEA menyebut Iran memiliki program senjata nuklir hingga tahun 2003. Setelah Trump membatalkan perjanjian nuklir 2015, Iran meningkatkan pengayaan uranium hingga kemurnian 60 persen --- hanya selangkah secara teknis dari tingkat 90 persen yang dibutuhkan untuk senjata nuklir.
Badan intelijen AS menilai Iran belum mengaktifkan kembali program senjata nuklirnya, tetapi telah melakukan aktivitas yang memosisikannya lebih baik untuk memproduksi perangkat nuklir jika mereka memilih melakukannya. Sejumlah pejabat Iran bahkan secara terbuka menyatakan kesiapan negaranya untuk memproduksi bom jika keputusan tersebut diambil.
Ketidakpastian dan Kekhawatiran Pasar
Jika perundingan gagal, waktu kemungkinan serangan AS terhadap Iran masih belum jelas. Apabila tujuan tindakan militer adalah untuk menekan Iran agar membuat konsesi dalam negosiasi nuklir, belum dapat dipastikan apakah serangan terbatas akan efektif. Jika tujuannya untuk menggulingkan kepemimpinan Iran, langkah tersebut kemungkinan akan menyeret AS ke dalam kampanye militer yang lebih besar dan berkepanjangan. Hingga kini, belum ada indikasi publik mengenai rencana lanjutan, termasuk potensi kekacauan di Iran.
Dampak militer juga berpotensi meluas ke kawasan. Iran dapat membalas dengan menyerang negara-negara Teluk Persia yang bersekutu dengan AS atau Israel. Kekhawatiran ini turut memicu kenaikan harga minyak dalam beberapa hari terakhir, dengan harga acuan Brent crude mendekati 70 dolar AS per barel.
Pada putaran perundingan sebelumnya, Iran sempat menyatakan menghentikan lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur sempit di mulut Teluk Persia yang menjadi jalur bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Meski, jalur pelayaran itu telah dibuka kembali, situasi penutupan meningkatkan kekhawatiran akan dampak ekonomi global apabila konflik benar-benar pecah di kawasan tersebut.