Indonesia Bakal Punya PLTN Kapasitas 7 GW

04 February 2026, 15:45 WIB
Indonesia Bakal Punya PLTN Kapasitas 7 GW

Pemerintah Indonesia menyiapkan pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) berkapasitas 7 gigawatt (GW) yang akan dibangun secara bertahap hingga tahun 2034.

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mengatakan, kebijakan ini menjadi bagian dari strategi besar transisi energi nasional menuju sumber energi yang lebih bersih dan netral karbon.

"Pada tahap awal akan dibangun 500 megawatt, dan secara bertahap hingga 2034 mencapai 7 gigawatt," ucapnya dalam Indonesia Economic Summit 2026, Rabu (4/2/2026).

Hashim optimis terhadap program ini, karena ejumlah negara telah menyatakan minat untuk berpartisipasi, baik melalui investasi maupun penyediaan teknologi.

"Banyak negara sudah menunjukkan ketertarikan untuk ikut berinvestasi dan menyediakan teknologi. Ini menunjukkan kepercayaan internasional terhadap arah kebijakan energi Indonesia," katanya.

Pengembangan PLTN tersebut menjadi bagian dari Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang telah beberapa kali diumumkan pemerintah. Dalam rencana tersebut, Indonesia menargetkan pembangunan 70 gigawatt kapasitas pembangkit listrik baru dalam 10 tahun ke depan.

Dari total kapasitas tersebut, sekitar 76% akan berasal dari energi terbarukan, termasuk proyek-proyek hijau yang melibatkan perusahaan internasional seperti Masdar. Menurut Hashim, komposisi ini mencerminkan arah kebijakan pemerintah yang semakin kuat menuju energi bersih.

"Sekitar 76% kapasitas tersebut berasal dari energi terbarukan. Ini menunjukkan arah kebijakan pemerintah yang sangat jelas dan kuat," ujarnya.

Sementara itu, sisa kebutuhan listrik nasional akan dipenuhi dari gas alam, yang dipandang sebagai bahan bakar transisi dalam proses peralihan dari energi fosil menuju energi rendah emisi.

"Inilah arah kebijakan energi nasional yang telah diumumkan secara terbuka," pungkas Hashim.

Indonesia dan Slovakia Jajaki Kerja Sama Nuklir, Prioritaskan Teknologi Keamanan PLTN

Indonesia dan Slovakia Jajaki Kerja Sama Nuklir, Prioritaskan Teknologi Keamanan PLTN

Sebelumnya, Indonesia dan Slovakia sepakat memperkuat hubungan bilateral dengan menjadikan kerja sama energi nuklir. Kesepakatan ini disampaikan Menteri Luar Negeri Slovakia Juraj Blanar dalam kunjungan resminya ke Indonesia pada Selasa (3/2/2026), yang menandai langkah konkret kedua negara menuju kemitraan yang lebih strategis.

Blanar menegaskan bahwa Slovakia siap berbagi keahlian dan pengalaman di bidang energi nuklir, khususnya dalam pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Negara Eropa Tengah tersebut memiliki pengalaman lebih dari 60 tahun dalam membangun, mengoperasikan, serta menangani pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Pengalaman panjang itu dinilai relevan bagi Indonesia yang tengah mempersiapkan pengembangan energi nuklir sebagai bagian dari strategi jangka panjang ketahanan energi nasional. Pemerintah Indonesia menaruh perhatian khusus pada keunggulan Slovakia dalam aspek keamanan (safeguard) dan penonaktifan atau decommissioning PLTN.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri RI, Grata Endah Werdaningtyas.

Menurutnya, Slovakia tidak hanya memiliki kapasitas dalam pengembangan PLTN, tetapi juga keahlian teknis pada fase paling krusial dalam siklus energi nuklir, yaitu pengamanan dan penonaktifan pembangkit.

"Untuk isu nuklir, yang paling penting justru adalah safeguard. Slovakia punya kapasitas spesifik di situ, dan ini menjadi nilai tambah yang signifikan," ujar Grata kepada awak media pada Selasa (3/2).

Ia menjelaskan bahwa tantangan energi nuklir tidak berhenti pada pembangunan PLTN. Penonaktifan pembangkit, pengelolaan limbah radioaktif, serta pemenuhan standar keselamatan merupakan pekerjaan kompleks yang membutuhkan pengalaman panjang dan teknologi khusus.

"Banyak yang mengatakan membangun PLTN itu mudah, tetapi menutup PLTN tantangannya berbeda. Isu keselamatan, limbah, dan safeguard menjadi sangat krusial, dan tidak semua negara, bahkan di Eropa, memiliki kapasitas decommissioning," katanya.

Mitra Strategis Bagi Indonesia

Mitra Strategis Bagi Indonesia

Dengan pengalaman puluhan tahun, Slovakia dinilai dapat menjadi mitra strategis bagi Indonesia dalam merancang pengembangan energi nuklir yang aman, bertanggung jawab, dan sesuai standar internasional. Kerja sama ini akan dibahas lebih lanjut melalui penugasan tim teknis dari kedua negara untuk membahas sektor-sektor prioritas yang benar-benar dapat diimplementasikan.

Grata menegaskan bahwa peningkatan status hubungan bilateral harus diiringi agenda yang konkret dan terukur.

"Kita tidak perlu terlalu banyak sektor, tetapi sektor yang dipilih harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia dan Slovakia," ujarnya.

Selain energi nuklir, pembahasan bilateral juga mencakup sektor pendukung lain seperti pertanian dan pertahanan. Meski demikian, isu nuklir tetap menjadi salah satu fokus utama karena relevansinya dengan ketahanan energi nasional dan kebutuhan jangka panjang Indonesia.

Kerja sama nuklir yang menitikberatkan pada aspek keamanan dan penonaktifan PLTN ini diharapkan menjadi fondasi penting bagi Indonesia dalam mempersiapkan pemanfaatan energi nuklir secara aman, berkelanjutan, dan bertanggung jawab di masa depan.

Sumber : Liputan6.com