Evaluasi MSCI Jadi Ujian Kepercayaan Investor ke Bursa
22 June 2026, 17:54 WIB
Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menilai evaluasi tahunan oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar modal dalam negeri bukan sekadar menguji aspek teknis pengelolaan indeks. Lebih dari itu, momentum ini menjadi ujian besar bagi integritas, tata kelola, serta kepercayaan (trust) investor global terhadap bursa saham tanah air.
Direktur Riset CORE Indonesia, Etika Karyani Suwondo, mengatakan bahwa upaya pemerintah maupun regulator untuk memperbaiki sejumlah aturan dalam waktu singkat belum tentu bisa langsung mengubah penilaian investor global secara instan.
"Masalah MSCI bukan sekadar persoalan teknis indeks, tetapi sudah menjadi trust issue. Aturan bisa saja diperbaiki sebelum 17 Agustus, tetapi kepercayaan investor tidak bisa dipulihkan hanya melalui konferensi pers. Pasar perlu melihat adanya sanksi, transparansi, dan konsistensi kebijakan," kata Etika kepada Liputan6.com, Senin (22/6/2026).
Meski begitu, ia memandang skenario paling mungkin yang akan dilaporkan MSCI adalah status Indonesia yang diproyeksikan tetap berada pada level pasar berkembang (emerging market). Hal ini merujuk pada laporan MSCI yang dijadwalkan diumumkan pada Selasa, 23 Juni 2026.
"Base case saya, Indonesia tetap dipertahankan sebagai emerging market," ujar Etika.
Namun, sejumlah catatan penting dan proses peninjauan diperkirakan akan tetap berlanjut oleh lembaga pemeringkat internasional tersebut.
"MSCI kemungkinan masih mempertahankan status review, termasuk pembekuan sebagian perlakuan indeks, dengan catatan yang lebih tegas terkait transparansi, free float, struktur kepemilikan saham, dan kualitas pembentukan harga di pasar," tuturnya.
Di sisi lain, Etika menilai masih ada ruang bagi pemerintah dan otoritas pasar modal untuk memperbaiki persepsi investor dalam jangka pendek.
Langkah konkret yang dapat ditempuh antara lain memperkuat transparansi kepemilikan saham yang beredar di publik (free float), membuka informasi mengenai pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner), memperketat pengawasan terhadap transaksi yang terindikasi terkoordinasi, serta mewajibkan keterbukaan informasi dalam bahasa Inggris.
Ia menambahkan, reformasi yang cepat, tegas, dan terukur akan menjadi sinyal penting bagi investor internasional bahwa Indonesia serius membenahi kualitas serta kredibilitas pasar modalnya.
Strategi Investasi Jelang Putusan MSCI
Sebelumnya, Morgan Stanley Capital International (MSCI) dalam laporan MSCI 2026 Global Market Accessibility Review yang dirilis pada 18 Juni 2026 masih menempatkan Indonesia dalam kategori pasar berkembang (emerging market). Meski demikian, keputusan klasifikasi pasar secara resmi baru akan diumumkan melalui Annual Market Classification Review pada 23 Juni 2026.
Menjelang pengumuman tersebut, pelaku pasar mulai mencermati potensi dampaknya terhadap pergerakan pasar modal domestik. Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana menilai, investor perlu mengedepankan rasionalitas dan tidak terburu-buru mengambil keputusan investasi berdasarkan ekspektasi semata.
Hendra mengatakan, pendekatan investasi yang paling masuk akal dalam sepekan ke depan adalah tidak mengejar euforia yang berpotensi muncul menjelang pengumuman resmi MSCI.
"Lalu bagaimana strategi investasi dalam sepekan ke depan? Pendekatan yang paling rasional adalah tidak mengejar euforia menjelang pengumuman," kata Hendra kepada Liputan6.com, Minggu (21/6/2026).
Menurut dia, pasar kerap bergerak dengan pola buy the rumor, sell the news, yakni harga saham mengalami kenaikan sebelum pengumuman, namun setelah hasil resmi keluar sebagian investor justru melakukan aksi ambil untung.
"Karena itu, investor jangka pendek sebaiknya fokus pada saham-saham likuid yang menjadi favorit asing dan menghindari saham berkapitalisasi kecil yang mudah bergejolak," ujarnya.
Momentum Akumulasi Saham Blue Chip
Di sisi lain, ketidakpastian menjelang keputusan MSCI justru dapat menjadi peluang bagi investor dengan horizon investasi menengah hingga panjang.
Hendra menilai, kondisi tersebut dapat dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi secara bertahap pada saham-saham blue chip yang memiliki fundamental kuat dan valuasi yang masih menarik.
"Sementara bagi investor menengah dan panjang, momentum ketidakpastian ini justru dapat dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham blue chip berkualitas yang valuasinya masih menarik," ujarnya.
Jika hasil MSCI positif, portofolio sudah berada pada posisi yang baik untuk menikmati potensi kenaikan. Sebaliknya, jika pasar bereaksi datar atau bahkan terkoreksi karena aksi ambil untung, investor masih memiliki ruang untuk menambah posisi pada harga yang lebih menarik.