Pokemon Go Disebut Latih Drone Militer AS, Niantic Buka Suara

15 June 2026, 12:00 WIB
Pokemon Go Disebut Latih Drone Militer AS, Niantic Buka Suara

Pokemon Go, game besutan Niantic Spatial tiba-tiba menjadi sorotan. Bukan karena event baru atau munculnya Pokemon langka, tetapi terseret isu serius terkait data game dipakai untuk melatih kecerdasan buatan (AI) dron militer Amerika Serikat (AS).

Dilansir Trouw, Senin (15/6/2026), 30 miliar data scan dari pemain Pokemon Go dan game Niantic lainnya diduga berperan dalam melatih sistem AI geospasial.

Sistem ini disebut bisa membantu perangkat seperti robot atau drone mengenali posisi di dunia nyata, termasuk di area sulit dijangkau sinyal GPS.

Isu ini mencuri kekhawatiran banyak pihak karena sejak 2021, sebagian besar pemain Pokemon Go memang bisa memindai PokeStop untuk mendapatkan hadiah dalam game, seperti Ultra Ball, Rare Candy, hingga Max Revive.

Fitur pemindaian ini sendiri bersifat opsional, hanya digunakan sebagian kecil pemain, dan kini telah dihapus total dari game.

Data-data pemindaian tersebut disebut kini menjadi milik Niantic Spatial, perusahaan hasil spin-off dari Niantic, pengembang awal Pokmon Go merilis game tersebut pada Juli 2016.

Niantic Spatial bertugas membangun model 3D dunia nyata secara detail yang digunakan dalam game. Sementara itu, hak atas game Pokemon Go sudah berpindah tangan ke Scopely, perusahaan menaungi Monopoly Go sejak Maret 2025.

Laporan Trouw menyebutkan, Niantic Spatial telah menjalin kerja sama dengan Vantor, perusahaan intelijen yang memiliki hubungan dengan industri pertahanan.

Keduanya disebut mengembangkan teknologi memungkinkan manusia maupun kendaraan mengetahui lokasi pasti mereka di area meskipun sinyal GPS diblokir, terganggu, atau tidak tersedia sama sekali.

Teknologi semacam ini memang punya banyak kemungkinan penggunaan. Dalam konteks sipil, sistem navigasi tanpa GPS bisa membantu robot pengantar barang bergerak di kawasan padat gedung tinggi.

Di sisi lain, kemampuan serupa juga relevan untuk robot penjinak bom, kendaraan tanpa awak, hingga drone.

Naintic Spatial Bantah Dugaan

Niantic Spatial membantah klaim, data Pokmon Go dibagikan ke Vantor untuk melatih drone militer. Perusahaan menyatakan kerja sama dengan Vantor masih berada pada tahap awal dan tidak mencakup pembagian data scan pemain.

Menurut Niantic Spatial, data scan Pokmon Go sebelumnya dipakai untuk membantu melatih model AI geospasial milik perusahaan. Namun, model tersebut merupakan hasil pelatihan, bukan salinan atau akses langsung ke data mentah yang dikumpulkan pemain.

Perusahaan juga menegaskan data Pokmon Go kini tidak lagi dibagikan ke Niantic Spatial setelah game tersebut berada di bawah Scopely. Fitur AR scan di Pokmon Go pun disebut sudah dihentikan sebagai bagian dari proses transisi.

Pokmon Go sendiri sudah berjalan hampir satu dekade sejak meluncur pada 2016. Game ini pernah mengajak jutaan orang keluar rumah, berburu Pokmon, dan berinteraksi dengan titik-titik lokasi nyata.

Pokemon Go saat ini masih tersedia di App Store dan Google Play Store.

Niantic Jual Divisi Game Pokemon Go Seharga Rp 57 Triliun

Masih ingat Pokemon Go? Game berbasis augmented reality (AR) ini sempat menjadi fenomena global saat dirilis pada 2016.

Namun, kini muncul kabar mengejutkan, Niantic kabarnya sedang mempertimbangkan untuk menjual divisi game mereka, termasuk Pokemon Go.

Mengutip laporan Bloomberg via Polygon, Kamis (20/2/2025), Niantic ingin melepas divisi game miliknya ke Scopely Inc., perusahaan berbasis di Arab Saudi.

Angka yang dipajang Niantic pun tidak main-main, perusahaan asal Amerika Serikat tersebut membanderol divisi game-nya dengan harga fantastis sebesar USD 3,5 miliar atau sekitar Rp 57 Triliun.

Saat ini, baik Niantic dan Scopely belum memberikan pernyataan resmi terkait kabar tersebut. Namun, jika kesepakatan ini benar terjadi, maka akan menjadi salah satu akuisisi terbesar dalam sejarah industri game mobile.

Dari Ingress hingga Pokemon Go

Niantic merupakan salah satu studio game pionir dalam teknologi AR gaming. Diawali dengan Ingress, perusahaan mendapat banyak pujian berkat inovasi gameplay berbasis lokasi yang interaktif.

Kesuksesan mereka mencapai puncak setelah bermitra dengan The Pokemon Companyuntuk merilis Pokemon Go. Diserbu jutaan pemain aktif di seluruh dunia, Pokemon Go tidak hanya menjadi game populer.

Akan tetapi, game tersebut sukses menciptakan tren baru dalam industri game mobileberbasis lokasi. Setelah itu, perusahaan juga menambah portofolio mereka.

Beberapa game AR lainnya, seperti Harry Potter: Wizards Unite, Pikmin Bloom, hingga proyek berbasis NBA dan Marvel juga sudah dipersiapkan.

Sumber : Liputan6.com