Super Mario Bros Lawas Laku Rp 53 Miliar, Kok Bisa?
14 June 2026, 15:07 WIB
Baru-baru ini, game Super Mario Bros versi NES (Nintendo Entertainment System) yang masih disegel berhasil terjual senilai USD 3 juta atau sekitar Rp 53,3 miliar di badan lelang Heritage Auctions.
Nilai fantastis untuk sebuah kopi game ini muncul karena kondisi barang yang langka, rating tinggi, dan segel stiker masih utuh.
Super Mario Bros memang bukan game paling langka di dunia, di mana banyak pemilik konsol NES generasi awal mengenalnya sebagai game dalam paket penjualan konsol.
Heritage Auctions melelang game klasik Nintendo tersebut seharga USD 3 juta pada 12 Juni 2026, sebagaimana dikutip dari Kotaku, Minggu (14/6/2026).
Lalu apa yang membuat game ini mencatatkan sejarah rekor penjualan? Pemicunya bukan sekadar nama besar Mario, akan tetapi kopi ini mendapatkan rating 9.6 dari Professional Sports Authenticator atau PSA.
PSA sendiri adalah salah satu lembaga penilai barang koleksi yang terkenal di kalangan kolektor. Nilai tinggi tersebut didapat karena kondisi fisik kotak dan segel berada di level istimewa.
Salah satu hal paling menentukan ada pada detail kecil yang mudah terlewat, yakni gloss sticker seal. Segel stiker ini masih mengilap dan menutup kotak kertas Super Mario Bros dengan utuh alias belum dibuka sama sekali.
Heritage Auctions menyebut segel semacam ini mengarah pada produksi kedua Super Mario Bros pada 1985. Tidak lama setelah periode tersebut, Nintendo beralih memakai plastik shrink-wrap yang kemudian menjadi standar untuk kemasan gim.
Karena itu, keberadaan segel stiker membuat kopi ini berbeda dari Super Mario Bros lain yang beredar luas. Heritage menyebut hanya ada tiga kopi tersegel yang diketahui berasal dari produksi tersebut, dan unit yang dilelang ini disebut sebagai yang paling awal.
Lelang Super Mario 64 Seharga USD 1,5 Juta
Harga ini juga mengingatkan publik pada lelang Super Mario 64 pada 2021. Saat itu, kopi gim Nintendo 64 tersebut terjual USD 1,5 juta dan memicu perdebatan panjang di kalangan kolektor.
Pola sama kembali terlihat. Gim yang sangat dikenal publik bisa menarik harga ekstrem ketika bertemu kondisi langka, penilaian tinggi, dan nama besar yang mudah dikenali.
Di kalangan komunitas kolektor, lonjakan harga semacam ini tidak selalu diterima begitu saja. Sebagian penggemar menilai pasar koleksi gim sempat bergerak liar sejak masa pandemi, ketika banyak orang mulai melirik barang nostalgia sebagai aset spekulatif.
Perdebatan itu makin panas setelah lelang Super Mario 64 pada 2021. Sekelompok kolektor menggugat Wata Games, lembaga yang memberi rating pada kopi tersebut.
Mereka menuding Wata ikut mendorong persepsi harga jutaan dolar demi mengangkat reputasi dan menarik minat penjual lain. Perkara itu disebut masih berjalan di pengadilan.
Harga Nintendo Switch 2 Naik Gara-Gara Krisis Memori
Di sisi lain, Nintendo mengumumkan kenaikan harga konsol teranyarnya, Switch 2, menjadi USD 500 (sekitar Rp 8,7 juta) untuk pasar Amerika Serikat (AS). Kebijakan ini diambil menyusul melonjaknya biaya komponen memori dan kebijakan tarif impor AS yang kian membebani ongkos produksi.
Dalam laporan pendapatan terbarunya, Nintendo mengungkapkan bahwa kenaikan sebesar USD 50 (Rp 870 ribuan) ini relatif lebih kecil dibandingkan lonjakan harga PlayStation 5 (PS5) milik Sony yang mencapai USD 150 (Rp 2,6 jutaan) dalam setahun terakhir.
Meski demikian, para analis memperingatkan bahwa basis penggemar Nintendo yang didominasi usia muda dan lebih sensitif terhadap harga berpotensi menahan laju penjualan akibat kenaikan tersebut. Demikian seperti dikutip dari Engadget, Selasa (12/5/2026).
Hingga kuartal pertama 2026, Nintendo mencatatkan performa impresif dengan pengiriman 2,49 juta unit Switch 2. Secara akumulatif, perusahaan telah menjual 19,86 juta unit konsol hanya dalam tiga kuartal pada tahun fiskal terakhir.
Penjualan Switch 2 Turun
Namun, optimisme pasar sedikit terganjal oleh proyeksi konservatif perusahaan untuk tahun fiskal mendatang. Nintendo memperkirakan penjualan Switch 2 akan turun ke angka 16,5 juta unit.
Angka ini berada di bawah ekspektasi para analis yang sebelumnya memprediksi target di level 20 juta unit lebih, mengingat kesuksesan besar saat peluncuran perdana.
Pihak manajemen menyatakan target 16,5 juta unit tetap merepresentasikan "tingkat adopsi yang solid" untuk tahun kedua Switch 2.
Penurunan proyeksi ini juga diduga sebagai strategi perusahaan untuk meredam ekspektasi pasar, mengingat tahun lalu Nintendo sempat meleset jauh dalam meremehkan potensi penjualannya sendiri.