Ariana Grande Larang Gedung Putih Gunakan Musiknya

12 June 2026, 18:17 WIB
Ariana Grande Larang Gedung Putih Gunakan Musiknya

Bintang pop Amerika Serikat (AS) Ariana Grande melayangkan protes kepada Gedung Putih setelah salah satu lagunya digunakan dalam video media sosial yang mempromosikan kebijakan imigrasi pemerintahan Presiden Donald Trump.

Video yang diunggah melalui TikTok pada Senin (8/6) itu menampilkan petugas perbatasan memborgol sejumlah orang. Lagu hit Ariana yang dirilis pada 2024, Bye, digunakan sebagai musik latar. Dalam keterangannya, akun Gedung Putih menulis: "Bye-bye... Presiden Trump telah menghadirkan perbatasan paling aman dalam sejarah."

Unggahan tersebut langsung menuai respons dari Ariana. Penyanyi itu menuliskan komentar yang bunyinya, "Tolong jangan gunakan musik saya untuk hal yang biadab, tidak manusiawi, dan keji seperti ini."

Menanggapi kritik tersebut, juru bicara Gedung Putih Abigail Jackson seperti dikutip BBC membela kebijakan pemerintah. Ia mengatakan bahwa yang sesungguhnya "biadab, tidak manusiawi, dan keji" adalah para imigran ilegal yang melakukan tindak kejahatan dan telah melukai maupun membunuh warga AS yang tidak bersalah.

Video itu sendiri diunggah di tengah penguatan kebijakan imigrasi pemerintahan Trump. Sebelumnya, Trump telah menandatangani undang-undang yang mengesahkan pendanaan lebih dari US$ 70 miliar untuk lembaga-lembaga imigrasi selama sisa masa jabatannya yang masih berlangsung sekitar dua setengah tahun lagi.

Dalam video tersebut, petugas tampak memborgol sejumlah orang, menggiring mereka ke dalam kendaraan, lalu membawa mereka ke pusat-pusat penahanan.

Tak lama setelah Ariana menyampaikan keberatannya, audio dalam video itu dibisukan dan komentarnya menghilang dari kolom komentar. Sejumlah pengguna TikTok kemudian mempertanyakan hilangnya komentar sang penyanyi sekaligus menyoroti keputusan untuk membisukan lagu yang digunakan dalam unggahan tersebut.

Bukan Hal Baru

Ariana bukan satu-satunya musisi yang menolak karya mereka dikaitkan dengan agenda politik Trump. Pemeran film Wicked itu bergabung dengan daftar panjang artis yang secara terbuka meminta tim Trump tidak menggunakan musik mereka untuk mempromosikan kebijakan maupun kampanye politiknya.

Sebelumnya, Sabrina Carpenter juga menyampaikan protes serupa. Tahun lalu, sebagian lagu Juno yang dirilisnya pada 2024 digunakan dalam sebuah klip Gedung Putih yang menampilkan kompilasi operasi Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE). Menanggapi hal itu, Carpenter menulis, "jangan pernah melibatkan saya atau musik saya untuk mendukung agenda tidak manusiawi Anda."

Penolakan terhadap penggunaan musik oleh Trump sebenarnya bukan hal baru. Selama kampanye pemilihan presiden 2024, sejumlah musisi ternama seperti ABBA, Celine Dion, dan Beyonce juga meminta agar lagu-lagu mereka tidak digunakan dalam rapat umum maupun kegiatan kampanye Trump.

Sumber : Liputan6.com