Trump Klaim Capai Kesepakatan dengan Iran
12 June 2026, 08:53 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim telah membatalkan rencana serangan terhadap Iran setelah kepemimpinan negara itu menyetujui rancangan kesepakatan yang mencakup perpanjangan gencatan senjata, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan dimulainya negosiasi selama 60 hari terkait program nuklir Iran.
Klaim tersebut muncul setelah Trump beberapa kali sebelumnya menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran sudah dekat. Di sisi lain, Teheran menegaskan belum ada keputusan final yang diambil.
Meski demikian, tiga sumber yang mengetahui jalannya perundingan mengungkapkan kepada Axios bahwa sejumlah perbedaan penting berhasil dipersempit dalam pembicaraan antara pejabat Iran dan perwakilan Qatar yang bertindak sebagai mediator pada Rabu (10/6).
Trump mengatakan kepada wartawan di Ruang Oval pada Rabu sore bahwa, menurut pemahamannya, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei telah memberikan persetujuan terhadap rancangan kesepakatan tersebut.
Namun, Axios melaporkan bahwa kesepakatan yang sedang dinegosiasikan itu masih berupa nota kesepahaman yang ditujukan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mencabut blokade AS. Dengan kata lain, isu yang lebih luas seperti program nuklir Iran dan pencabutan sanksi AS masih memerlukan perundingan lebih lanjut.
Optimisme Trump juga tercermin dalam unggahannya di Truth Social. Ia menyatakan bahwa pembicaraan dengan Republik Islam Iran telah dibawa ke tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan telah memperoleh persetujuan.
"Berdasarkan fakta bahwa diskusi dengan Republik Islam Iran telah dibawa ke tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan disetujui, saya, sebagai Presiden AS, telah membatalkan serangan dan pengeboman yang dijadwalkan terhadap Iran malam (Kamis) ini," tulis Trump.
Trump juga mengklaim bahwa poin-poin akhir kesepakatan tersebut telah disetujui, "baik secara konsep maupun secara sangat rinci", oleh semua pihak yang terlibat, termasuk AS, Israel, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Turki, Pakistan, Bahrain, Kuwait, Yordania, dan Mesir.
Ia menambahkan bahwa blokade terhadap Iran akan tetap diberlakukan hingga proses tersebut dirampungkan dan bahwa Iran akan menyetujui untuk tidak pernah memiliki senjata nuklir.
Meski Trump menyampaikan optimisme tersebut, Iran membantah bahwa kesepakatan telah disetujui.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menegaskan bahwa kesepakatan belum difinalisasi.
"Sebagian besar teks sebenarnya telah selesai, tetapi pihak AS terus mengubah posisi mereka," ujar Baghaei.
"Iran telah menunjukkan bahwa kami tidak berkompromi terhadap apa yang telah ditetapkannya sebagai garis merah. Iran belum mengambil keputusan final mengenai sebuah kesepakatan."
Di tengah perbedaan sikap itu, proses negosiasi tetap berlangsung. Hingga larut malam pada Rabu di Teheran, utusan Qatar Ali Al-Thawadi dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berupaya menjembatani perbedaan yang masih tersisa antara AS dan Iran.
Menurut tiga sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, pihak Qatar dan Iran meyakini telah mencapai rumusan teks yang juga dapat diterima oleh AS.
Sejumlah perbedaan yang sebelumnya menghambat perundingan disebut berhasil dipersempit pada tiga isu utama. Pertama, mekanisme pencairan aset Iran yang dibekukan, yang menjadi perhatian utama Teheran. Kedua, pengaturan pembukaan kembali Selat Hormuz selama masa gencatan senjata 60 hari. Ketiga, mekanisme pelaksanaan negosiasi mengenai program nuklir Iran selama periode tersebut.
Sumber-sumber itu juga mengungkapkan bahwa para pejabat Iran telah memberi tahu sejumlah negara pada Kamis bahwa pembicaraan di Teheran menghasilkan kesepakatan secara prinsip. Kendati demikian, Khamenei masih harus memberikan persetujuan akhir.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu alasan di balik keyakinan Trump bahwa kesepakatan semakin dekat.
Dalam perkembangan terbaru, Trump mengaku telah berbicara melalui telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, dan sejumlah pemimpin kawasan lainnya.
Kantor Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa meskipun Israel bukan pihak dalam nota kesepahaman tersebut, Netanyahu menyampaikan apresiasinya atas komitmen Trump bahwa kesepakatan akhir hasil negosiasi akan mencakup penghapusan material nuklir yang telah diperkaya, pembongkaran infrastruktur pengayaan, pembatasan produksi rudal, serta penghentian dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok proksinya di kawasan.
Sementara itu, kantor Emir Qatar menyebut Trump telah menyampaikan bahwa kesepahaman yang dicapai "telah memperoleh persetujuan dari seluruh pihak terkait".
Di tengah perkembangan tersebut, seorang sumber yang mengetahui situasi itu mengungkapkan bahwa Netanyahu tidak menerima pemberitahuan lebih awal dan terkejut ketika Trump merilis pernyataan awal mengenai kesepakatan tersebut.
Trump menuturkan bahwa nota kesepahaman itu dapat ditandatangani pada akhir pekan ini di Eropa. Wakil Presiden JD Vance diperkirakan akan memimpin delegasi AS.
"Dokumen-dokumennya sudah berada pada tahap yang sangat final, jadi kita lihat saja nanti," kata Trump.
Gedung Putih telah beberapa kali meyakini bahwa kesepakatan sudah hampir tercapai selama konflik berlangsung. Namun, beberapa putaran negosiasi yang sebelumnya dianggap mendekati kesepakatan pada akhirnya kembali berujung gagal.