Neraca Dagang Januari-April 2026 Surplus Rp 100,66 Triliun
02 June 2026, 13:04 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Indonesia sukses mengantongi surplus neraca perdagangan secara kumulatif pada periode Januari-April 2026 sebesar USD 5,64 miliar atau Rp 100,66 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.850).
Deputi Badan Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini menyampaikan, surplus tersebut masih didorong oleh kinerja positif perdagangan komoditas non migas yang terus berlanjut, sementara perdagangan migas masih mengalami defisit.
"Hingga bulan April 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD 5,64 miliar. Surplus sepanjang periode Januari-April 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas USD 14,16 miliar atau Rp 252,7 triliun, sementara komoditas migas masih mengalami defisit USD 8,52 miliar atau Rp 152,06 triliun," bebernya, Selasa (2/6/2026).
Adapun nilai ekspor kumulatif periode Januari-April 2026 mencapai USD 92,15 miliar atau Rp 1.644 triliun, naik 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan ini utamanya didorong oleh sektor industri pengolahan dengan pertumbuhan nilai ekspor 9,78 persen menjadi USD 75,57 miliar atau Rp 1.348 triliun.
Sedangkan nilai impor Indonesia secara kumulatif hingga April 2026 sebesar USD 86,51 miliar, atau Rp 1.544 triliun, naik 13,40 persen dari periode sama tahun sebelumnya.
Penyumbang utama masih berasal dari sektor non migas, dengan nilai impor USD 73,58 miliar atau Rp 1.313 triliun, naik 12,70 persen. Sementara itu, impor migas tercatat USD 12,93 miliar, setara Rp 230,77 triliun atau naik 17,58 persen.
Pasar Ekspor Non Migas
BPS mencatat, tiga negara pasar utama ekspor non migas Indonesia yakni China, Amerika Serikat, dan India. Kontribusi ketiga negara ini mencapai 44,52 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-April 2026.
China masih menjadi pasar ekspor utama dengan nilai mencapai USD 22,76 miliar (25,93 persen), diikuti oleh Amerika Serikat USD 10,17 miliar (11,59 persen), dan India USD 6,14 miliar (7,00 persen).
Ekspor non migas ke China pada periode Januari-April 2026 didominasi oleh komoditas besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral. Sementara ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, alas kaki, serta pakaian dan aksesorinya (rajutan).
Lonjakan Impor
Di sisi lain, terjadi peningkatan impor periode Januari-April 2026 baik pada barang modal, bahan baku/penolong, maupun barang konsumsi. Nilai impor bahan baku/penolong masih mendominasi dengan nilai mencapai USD 61,82 miliar atau naik 11,67 persen.
Sedangkan, nilai impor barang modal mencapai USD 17,11 miliar atau naik 19,02 persen. Adapun impor barang konsumsi tercatat USD 7,58 miliar, atau tumbuh 15,68 persen.
Kembali, China menjadi negara utama asal impor non migas Indonesia dengan nilai USD 30,79 miliar (41,84 persen), diikuti Jepang dengan nilai USD 4,15 miliar (5,64 persen), dan Australia USD 4,15 miliar (5,64 persen). Kontribusi ketiga negara tersebut mencapai 53,12 persen, atau lebih dari separuh total impor nonmigas Indonesia.
Neraca Perdagangan Januari-Maret 2026 Tembus Rp 96 Triliun, Surplus 71 Bulan Beruntun
Sebelumnya, neraca perdagangan Indonesia hingga Maret 2026 masih mencatat kinerja positif di tengah dinamika global. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, surplus neraca perdagangan secara kumulatif pada Januari-Maret 2026 mencapai USD 5,55 miliar, atau setara Rp 96,29 triliun (kurs Rp 17.350 per dolar AS).
Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia telah mengalami surplus selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, surplus tersebut ditopang oleh kinerja positif perdagangan komoditas non migas yang terus berlanjut, sementara perdagangan migas masih mengalami defisit.
"Hingga bulan Maret 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD 5,55 miliar. Surplus sepanjang periode Januari-Maret 2026 ditopang oleh surplus komoditas non migas USD 10,63 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit USD 5,08 miliar," terangnya, Senin (4/5/2026).
Adapun nilai ekspor kumulatif periode Januari-Maret 2026 mencapai USD 66,85 miliar atau Rp 1.159,8 triliun, naik 0,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sektor industri pengolahan menjadi pendorong dengan pertumbuhan nilai ekspor 3,96 persen menjadi USD 54,98 miliar atau setara Rp 953,9 triliun.
Di sisi lain, nilai impor Indonesia secara kumulatif hingga Maret 2026 sebesar USD 61,30 miliar (Rp 1.063,55 triliun), naik 10,05 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Penyumbang utama masih berasal dari sektor non migas, dengan nilai impor USD 52,97 miliar (Rp 919 triliun), naik 12,16 persen. Sedangkan impor migas turun 1,72 persen menjadi USD 8,33 miliar (Rp 144,3 triliun).