IHSG Tertekan, Bos OJK: Investasi di Pasar Modal Buat Jangka Panjang
25 May 2026, 12:07 WIB
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi menilai, investasi ke pasar modal Indonesia merupakan jangka panjang. Kekuatan fundamental ekonomi untuk mendorong pertumbuhan jadi kunci penting.
Friderica menyadari, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang terkoreksi yang dipicu sejumlah faktor termasuk sentimen global.
"Sebagaimana kita pahami dengan dinamika yang ada saat ini, berbarengan dengan reformasi integritas yang kita lakukan di sektor pasar modal Indonesia, kemudian ditambah dengan dinamika global dan sebagainya, memang kita melihat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kita saat ini pada posisi yang terkoreksi," kata Friderica dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) di Balai Kartini, Jakarta, Senin (25/5/2026).
Merespons kondisi ini, Friderica menyampaikan kalau investasi di pasar modal Indonesia maupun investasi lainnya merupakan untuk jangka panjang. Dengan demikian, kekuatan fundamental ekonomi Indonesia menjadi penting.
"Namun demikian, kita menyampaikan bahwa investasi di pasar modal, investasi di Indonesia adalah investasi jangka panjang. Karena itu kita harus terus melihat bagaimana fundamental ekonomi kita ke depan," ungkap dia.
Beberapa upaya dilakukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tadi. Mulai dari meningkatkan daya tahan sektor jasa keuangan hingga penguatan ekosistem dan pembiayaan UMKM.
"Kemudian pendalaman pasar keuangan sebagai sumber pembiayaan pembangunan. Kalau kita melihat dengan target pertumbuhan ekonomi, tentunya misalnya di tahun 2027, data dari Bappenas menyampaikan bahwa Indonesia butuh angka yang cukup besar untuk pembiayaan mendukung sektor pertumbuhan ekonomi kita," beber Friderica.
Waktu Investor Masuk
Sebelumnya, Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan pada Rabu pagi, dibuka melemah 94,96 poin atau sekitar 1,38 persen ke level 6.763,94 setelah pengumuman rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Meski pasar melemah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) justru menilai kondisi tersebut dapat menjadi momentum menarik bagi investor untuk mulai masuk secara selektif ke pasar saham domestik.
"Jadi, ini juga menunjukkan sebetulnya kami berharap para investor kita secara selektif memanfaatkan momentum ini untuk masuk di pasar dan memilih saham-saham terbaik yang secara prospektif dapat terus melakukan, katakanlah, perbaikan kinerja dari waktu-waktu ke depannya," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi dalam Konferensi Pers Pengumuman Rebalancing MSCI, di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Masih Batas Wajar
Hasan mengatakan, pelemahan indeks yang terjadi masih berada dalam batas koreksi wajar dan tidak menunjukkan adanya kepanikan di pasar.
"Masih dalam batasan koreksi yang rentang yang wajar.Kemudian, tadi frekuensi dan volume serta nilai transaksi juga cukup baik. Secara rata-rata tidak ada perbedaan normal dibandingkan hari-hari sebelumnya," ujarnya.
Ia menjelaskan, tekanan terhadap IHSG saat ini turut dipengaruhi dinamika global, termasuk tensi geopolitik dan dampak rebalancing MSCI. Namun di balik koreksi tersebut, valuasi pasar saham Indonesia dinilai kini semakin kompetitif dibandingkan pasar regional lainnya.
Price to Earnings Ratio
Menurut dia, rasio price to earning ratio (PER) IHSG saat ini telah turun jauh dibandingkan posisi saat pasar mencapai all time high pada pertengahan Januari lalu.
"Kita perhatikan sebetulnya tingkat rata-rata harga-harga yang dicerminkan dari rasio price earning ratio atau per-nya IHSG kita sekarang sudah jauh di bawah posisi pada saat terjadi all time high di pertengahan Januari. Sekarang bahkan secara PER regional, tingkat rata-rata per saham-saham kita sudah ada di bawah per rata-rata bursa-bursa lainnya. Sekarang tingkatnya di level 16 kali," jelasnya.
Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal harga saham di Bursa Efek Indonesia saat ini relatif lebih murah dan menarik untuk investasi jangka menengah maupun panjang.
Hasan berharap investor dapat memanfaatkan momentum koreksi ini untuk memilih saham-saham yang memiliki fundamental dan prospek kinerja yang baik ke depan.