USD Hari Ini di Bank Masih Rp 17.700, Analis Proyeksikan Makin Melemah

19 May 2026, 11:00 WIB
USD Hari Ini di Bank Masih Rp 17.700, Analis Proyeksikan Makin Melemah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam tekanan pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Sejumlah bank besar nasional juga mencatat kurs jual dolar AS yang masih berada di kisaran Rp 17.700-an.

Berdasarkan pembaruan kurs e-Rate per 19 Mei 2026, Bank Central Asia menetapkan kurs beli sebesar Rp 17.700 dan kurs jual Rp 17.720. Sementara Bank Rakyat Indonesia mencatat kurs beli Rp 17.695 dan kurs jual Rp 17.735.

Adapun Bank Mandiri menetapkan kurs beli Rp 17.670 dan kurs jual Rp 17.700. Sedangkan Bank Negara Indonesia mencatat kurs beli Rp 17.635 dan kurs jual Rp 17.665.

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin menilai pelemahan rupiah saat ini dipicu kombinasi tekanan eksternal dan domestik yang masih cukup kuat.

"Rupiah melemah ke sekitar 17.600 per dolar karena kombinasi faktor global dan domestik. Secara global, dolar AS menguat akibat suku bunga tinggi, yield obligasi AS, serta ketegangan geopolitik yang memicu risk-off dan pelarian modal," ujarnya kepada Liputan6.com, Selasa (19/5/2026).

Menurut dia, dari sisi domestik, tekanan juga datang dari kebutuhan dolar AS yang tinggi untuk pembayaran utang dan impor, ditambah sentimen negatif pasar setelah rupiah menembus level psikologis Rp 17.000 per dolar AS.

"Dalam jangka pendek, banyak analis melihat potensi uji ke sekitar 17.800--17.850 per dolar jika tekanan global dan domestik berlanjut. Intinya, arah masih cenderung melemah, dengan level 17.800 sebagai target terdekat jika situasi tidak membaik," pungkasnya.

Rupiah Tembus Rp 17.600, Purbaya Minta Masyarakat Tenang

Rupiah Tembus Rp 17.600, Purbaya Minta Masyarakat Tenang

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah akan mulai mereda pada pertengahan pekan ini. Hal tersebut seiring dengan mulai berkurangnya tekanan di pasar obligasi (bond market).

Menurut Purbaya, pemerintah telah mulai masuk ke pasar obligasi secara bertahap, yang kemudian diikuti oleh investor asing. Kondisi tersebut diyakini dapat membantu menurunkan tekanan di pasar keuangan, termasuk terhadap nilai tukar rupiah.

"Saya pikir pertengahan minggu ini juga sudah mulai berkurang. Pemerintah sudah masuk ke bond market sedikit-sedikit, asing juga sudah mulai masuk, sehingga tekanan di bond mestinya berkurang," ujar Purbaya kepada wartawan di Istana, dikutip Selasa (19/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa berkurangnya tekanan di pasar obligasi biasanya turut meredakan sentimen negatif terhadap rupiah. Purbaya pun optimistis karena kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga April menunjukkan hasil yang positif, sekaligus menjadi bukti kuatnya fondasi ekonomi nasional.

"Yang penting begini, besok akan ada laporan APBN kita sampai April. Itu hasilnya bagus, pasti di luar perkiraan para pengamat. Jadi fondasi kita memang betul-betul bagus, Anda tidak usah khawatir," jelasnya.

Kondisi Fiskal Terjaga

Kondisi Fiskal Terjaga

Menanggapi kekhawatiran pasar terhadap nilai tukar dolar Amerika Serikat yang sempat menyentuh level Rp 17.600, Purbaya meminta masyarakat tetap tenang. Menurutnya, kondisi fiskal Indonesia tetap terjaga dan pertumbuhan ekonomi nasional masih ditopang oleh konsumsi masyarakat serta investasi swasta.

Ia menjelaskan strategi pemerintah saat ini tidak hanya mengandalkan belanja negara, tetapi juga mendorong peran sektor swasta untuk menopang pertumbuhan. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berhasil mencapai 5,6 persen pada triwulan pertama tahun 2026 di tengah gejolak ekonomi global.

Purbaya menyebut kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi masih berasal dari belanja masyarakat, yang menunjukkan daya beli domestik tetap kuat. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa ekonomi Indonesia berada di jalur yang tepat.

"Kita betul-betul memperbaiki ekonomi dan sudah kelihatan di triwulan keempat lalu dan triwulan pertama tahun ini. Kita sudah tumbuh semakin cepat dan akan dijaga terus. Anda ingat, triwulan pertama kita tumbuh 5,6 persen ketika perekonomian global sedang guncang," pungkasnya.

Sumber : Liputan6.com