IHSG Merosot 29% dari Rekor Tertinggi, Pemulihan Tergantung 3 Hal Ini
19 May 2026, 18:23 WIB
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum mampu bangkit pada perdagangan saham Selasa, (19/5/2026). IHSG masih melanjutkan tekanan sehingga meninggalkan posisi 6.400. Seiring koreksi IHSG yang masih terjadi, Syailendra Capital menilai pemulihan tergantung dari tiga hal, salah satunya rupiah.
Mengutip data RTI, IHSG hari ini, 19 Mei 2026 ditutup merosot 3,46% menjadi 6.370,67. Indeks saham LQ45 tergelincir 2,5% menjadi 634,82.
Berdasarkan riset Syailendra Capital, IHSG saat ini berada di kisaran 6.350-6.400. IHSG melemah sekitar 29% dari all time high (ATH) atau posisi tertinggi 9.134 yang dicapai pada 20 Januari 2026. Selain itu, IHSG melemah 24% secara year to date dan menjadikan kinerja IHSG di antara bursa saham lain paling lesu.
"IHSG minus 24% secara year to date menjadikan IHSG sebagai salah satu indeks dengan kinerja terburuk di dunia sepanjang tahun ini," demikian seperti dikutip dari riset Syailendra Capital.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), peringkat IHSG di posisi ke-35 di antara indeks saham acuan di dunia. IHSG turun 26,32% secara year to date ke 6.370,67 pada Selasa, 19 Mei 2026. Sementara itu, indeks saham di Korea Selatan yakni indeks Kospi menguat 72,55% menjadi 7.721,66 secara ytd. Disusul, indeks saham Taiwan berada di posisi kedua dengan menguat 38,71% menjadi 40.175. Disusul indeks saham Turki berada di posisi ketiga dengan menguat 24,5% menjadi 14.029,50.
Syailendra menilai, pelemahan bersifat broad-based di hampir seluruh sektor. Namun, hal yang menjadi sorotan hari ini, menurut Syailendra tekanan signifikan di sektor mineral dan batu bara. "Pada saat yang bersamaan, rupiah masih tertekan di kisaran 17.600-17.655, sementara USD/IDR berulang kali menyentuh rekor terendah sepanjang sejarah sejak April lalu," demikian seperti dikutip.
Sentimen IHSG
Syaleindra menyebutkan ada sejumlah faktor yang menekan pasar saham. Pertama, tekanan global. Yield obligasi Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun yang berada di 4,6-4,63% menembus ambang psikologis 4,5%.
"Kondisi ini mendorong rotasi modal keluar dari seluruh pasar berkembang termasuk Indonesia," demikian seperti dikutip.
Selain itu, pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14-15 Mei belum menghasilkan keputusan yang jelas dan tidak ada pengurangan tarif konkret. "Trump secara eksplisitf menyatakan isu tarif tidak dibahas. Rata-rata tarif AS atas barang China tetap 47,5%. Hal ini membuat risiko global masih tinggi," demikian seperti dikutip.
Selain itu, Syailendra juga melihat peluang pemangkasan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) pada 2026 nol, bahkan ada probabilitas 40% kenaikan 25 basis poin (bps) sebelum akhir tahun, yang semakin memperberat kondisi pasar berkembang.
Tekanan Domestik
Kedua, tekanan domestik. MSCI mengumumkan hasil tinjauan penyesuaian indeks pada Mei 2026. Dari MSCI rebalancing itu, MSCI menghadapi enam saham Indonesia dari indeks Globald Standard antara lain saham AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN dan AMRT. Selain itu, 13 saham dari indeks small cap termasuk saham ANTM, TAPG, DSNG, AALI, BSDE, BANK, MIDI. Lalu MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS, TAPG, SIDO.
Seiring pengumuman MSCI itu, Syailendra memprediksi aliran dana keluar secara pasif sekitar USD 1 miliar-USD 2 miliar. Adapun MSCI ini efektif pada 29 Mei 2026. Seiring potensi aliran dana investor asing setiap USD 1 miliar melemahkan rupiah sebesar 1-1,5%.
"Ketidakpastian kebijakan komoditas. Rencana kenaikan royalty dan bea ekspor untuk batu bara, nikel, crude palm oil (CPO), tembaga dan emas telah ditunda oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, dengan alasan masih dibutuhkan formulasi kebijakan yang lebih berimbang," demikian seperti dikutip.
Syailendra menilai, kebijakan yang berubah-ubah malah menciptakan ketidakpastian yang terus menekan valuasi saham komoditas.
Pemulihan IHSG Tergantung 3 Hal Ini
Seiring hal itu, Syailendra menilai, pemulihan IHSG yang berkelanjutan akan sangat bergantung pada tiga hal yang saat ini masih belum terealisasikan. Pertama, kejelasan regulasi komoditas. Dalam riset Syailendra menyebutkan, kepastian arah kebijakan royalti, bea ekspor, dan wacana badan pengatur baru adalah prasyarat utama agar kepercayaan investor dapat pulih kembali.
Kedua, stabilisasi tekanan rupiah, yang menurut Syailendra memerlukan sinyal tegas dari Bank Indonesia. Selain itu, meredanya outflow MSCI pasca 29 Mei dan normalisasi aliran dividen musiman, demikian seperti dikutip.
Ketiga, kondusivitas global. Penurunan atau stabilisasi imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat di bawah 4,5%, serta resolusi ketegangan geopolitik yang menjadi akar dari tekanan emerging market atau pasar berkembang secara keseluruhan.
"Selama ketidakpastian ketiga area ini belum mereda, volatilitas akan tetap tinggi, Syailendra mempertahankan posisi yang selektif dan defensif, sambil terus memantau setiap perkembangan dan siap merespons apabila kondisi berubah," demikian seperti dikutip dari riset Syailendra.