Siap-siap, Harga Emas Bakal Tertekan
19 May 2026, 07:20 WIB
Harga emas dunia bergerak naik tipis pada perdagangan Senin, didukung pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Namun, kenaikan harga logam mulia tersebut masih tertahan akibat naiknya imbal hasil obligasi dan tingginya harga minyak mentah di tengah memanasnya perang Iran.
Mengutip CNBC, Selasa (19/5/2026), harga emas di pasar spot naik 0,2% menjadi USD 4.548,14 per ounce pada pukul 13.41 waktu AS atau 17.41 GMT. Sebelumnya, emas sempat menyentuh level terendah sejak 30 Maret lalu. Sedangkan kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni justru ditutup turun 0,1% ke posisi USD 4.558 per ounce.
Pelemahan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menopang harga emas. Indeks dolar tercatat turun 0,3% terhadap sejumlah mata uang utama dunia sehingga membuat emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.
"Indeks dolar AS turun ke level terendah dalam sesi perdagangan dan itu menjadi sentimen positif bagi pasar emas," ujar analis pasar American Gold Exchange Jim Wyckoff.
Meski demikian, ia mengingatkan kenaikan imbal hasil obligasi berpotensi membatasi penguatan harga emas dalam jangka pendek.
"Jika terus naik, yield obligasi bahkan bisa memberikan tekanan penurunan tambahan terhadap harga logam mulia dalam waktu dekat," kata Wyckoff.
Pangkas Proyeksi Jangka Pendek
Tekanan terhadap harga emas juga datang dari pasar obligasi global. Harga obligasi pemerintah di berbagai negara kembali melemah seiring naiknya harga energi akibat perang Iran yang memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bahkan naik ke level tertinggi sejak Februari 2025.
Dalam kondisi suku bunga dan yield obligasi tinggi, emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga biasanya menjadi kurang menarik bagi investor. Pelaku pasar cenderung beralih ke aset yang menawarkan keuntungan lebih besar.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia naik sekitar 2% dan menyentuh level tertinggi dalam dua pekan terakhir karena kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Meski sempat melemah setelah muncul laporan media Iran terkait kemungkinan pelonggaran sanksi AS terhadap minyak Iran, harga minyak jenis Brent tercatat masih melonjak sekitar 55% sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari lalu.
Sebaliknya, harga emas spot justru turun sekitar 13,8% dalam periode yang sama.
Sejumlah bank investasi juga mulai memangkas proyeksi harga emas jangka pendek karena permintaan investor mulai melemah. J.P. Morgan menjadi salah satu lembaga pertama yang menurunkan proyeksi rata-rata harga emas tahun 2026 menjadi USD 5.243 per ounce dari sebelumnya USD 5.708 per ounce.