Rupiah Tembus 17.500, Purbaya Bongkar Kondisi Beban Subsidi Pemerintah

12 May 2026, 14:15 WIB
Rupiah Tembus 17.500, Purbaya Bongkar Kondisi Beban Subsidi Pemerintah

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan beban subsidi pemerintah masih bisa ditangani. Meskipun, nilai tukar rupiah sempat tembus Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS).

Purbaya menuturkan, dalam hitungannya, sudah memuat angka nilai tukar lebih tinggi asumsi makro APBN 2026. Adapun, asumsi kurs sebesar Rp 16.500 per dolar AS.

"Pada waktu kita hitung itu, kita asumsinya sudah di atas asumsi APBN rupiah-nya, jadi gak seheboh mungkin, tapi di atas itu, enggak jauh berbeda sama dengan sekarang. Jadi APBN-nya masih relatif aman," ungkap Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Diketahui, Purbaya telah memiliki penghitungan kemampuan APBN jika geopolitik global terus memanas di Timur Tengah. Dalam hitungannya, tingkat defisit APBN tak akan melebihi batas maksimal 3%.

Salah satu indikator yang menjadi penghitungan adalah fluktuasi harga minyak dunia. Dengan asumsi minyak dunia bertahan di atas USD 100 per barel, Purbaya menjamin APBN masih mampu menahan dampaknya di Tanah Air.

"Tapi kita akan kendalikan nilai (tukar rupiah), kita coba membantu (stabilkan) nilai tukar, kita membantu BI sedikit-sedikit kalau bisa," tutur dia.

Serahkan Stabilisasi Rupiah ke BI

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memanggali pelemahan nilai tukar rupiah saat ini. Dia turut berencana membantu stabilisasi nilai tukar melalui instrumen yang dimilikinya.

Diketahui, rupiah melemah hingga menembus Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (12/5/2026) pagi. Purbaya sendiri menyerahkan stabilisasi nilai tukar rupiah kepada Bank Indonesia (BI).

"Anda mesti tanya bank sentral, jangan tanya saya, tugas bank sentral hanya satu kan menjaga stabilitas nilai tukar, dan kita serahkan itu ke ahlinya di sana, di bank sentral, saya pikir mereka akan bisa mengendalikan dengan baik," ungkap Purbaya, ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Ikut Bantu Stabilkan Rupiah

Ikut Bantu Stabilkan Rupiah

Meski demikian, Bendahara Negara ini mengungkap rencana untuk membantu menyetabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Misalnya, dengan masuk ke pasar obligasi (bond).

"Kita akan bisa mulai membantu, besok mungkin dengan masuk ke bond market," ucap dia.

Purbaya kembali menyinggung konsep dana stabilisasi obligasi atau Bond Stabilizatiom Fund (BSF). Namun, belum keseluruhan fungsinya akan dijalankan. "Itu yang disebut Bond Stabilization Fund kan, tapi belum fund semuanya, kita aktifkan di instrumen yang kita punya di sini," tutur dia.

Jaga Yield Surat Utang

Dia menjelaskan skema yang mungkin akan dijalankannya. Dengan intervensi ke pasar obligasi, dia berharap mampu menjaga tingkat yield surat utang tidak naik terlalu tinggi.

"Kita kan masih banyak uang nganggur, kita intervensi bond market supaya yield-nya enggak naik terlalu tinggi. Kalau yield-nya naik terlalu tinggi artinya apa? Asing yang pegang bond di sini kan ada capital loss, dia akan keluar," beber dia.

"Jadi kita kendalikan itu supaya asing yang nggak keluar atau masuk malah kalau yieldnya membaik, sehingga rupiah akan menguat. Kita akan masuk besok, mulai besok. (Buyback) Semacam itu," imbuh Purbaya.

Rupiah Tembus 17.500 per Dolar AS

Rupiah Tembus 17.500 per Dolar AS

Sebelumnya, Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini Selasa 12 Mei 2026. Rupiah bergerak melemah 69 poin atau 0,40 persen menjadi 17.483 dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level 17.414 per dolar AS.

Namun pada pukul 10.20 WIB, kurs rupiah telah menembus Rp 17.510 per USD berdasarkan data wise.com.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede, menilai tekanan terhadap rupiah kali ini dinilai bukan hanya dipengaruhi sentimen global seperti tensi geopolitik di Timur Tengah, tetapi juga meningkatnya kekhawatiran investor terhadap posisi pasar keuangan Indonesia di mata lembaga indeks global MSCI.

Ia mengatakan tekanan terhadap pasar keuangan domestik, khususnya rupiah, tidak semata-mata berasal dari faktor eksternal global. Menurutnya, pasar juga tengah mencermati catatan MSCI terkait kondisi pasar modal Indonesia.

"Perlu ingat juga bahwa risiko terhadap pasar keuangan domestik kita terutama rupiah ini bukan semata-mata dipengaruhi tadi oleh faktor dari Timur Tengah ya ini harusnya kita perlu kita informasikan bahwa sebelumnya kita juga perlu ingat bahwa ada catetan dari MSCI," kata Josua dalam Media Briefing PIER Economic Review Kuartal I-2026, Selasa (12/5/2026).

Sumber : Liputan6.com