AS Tolak Usulan Rusia Soal Pengambilalihan Uranium Iran

16 April 2026, 15:04 WIB
AS Tolak Usulan Rusia Soal Pengambilalihan Uranium Iran

Pemerintah Rusia mengungkapkan telah mengusulkan pengambilalihan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran sebagai solusi diplomatik untuk meredakan konflik yang sedang berlangsung. Namun, proposal tersebut ditolak oleh Amerika Serikat.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, pada Rabu menyatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya telah mengajukan gagasan tersebut dan menilainya sebagai solusi yang efektif. Meski demikian, menurutnya, Washington tidak menerima usulan itu.

"Ini adalah solusi yang sangat baik, tetapi tidak diterima oleh pihak Amerika," ujar Peskov. Ia menambahkan bahwa Rusia tetap terbuka untuk mengajukan kembali proposal tersebut jika diminta oleh pihak-pihak terkait, dikutip dari laman Anadolu Agency, Kamis (16/4/2026).

Pengambilalihan cadangan uranium Iran merupakan salah satu tuntutan utama AS dalam negosiasi untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada 28 Februari. Persediaan uranium yang diperkirakan mencapai sekitar 450 kilogram dengan tingkat pengayaan hingga 60 persen disebut menjadi perhatian utama Washington.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya menyatakan bahwa Iran harus menyerahkan stok tersebut secara sukarela, atau menghadapi kemungkinan tindakan paksa dari AS.

Di sisi lain, Rusia mempertanyakan dasar tuduhan terhadap program nuklir Iran. Peskov menegaskan bahwa Badan Energi Atom Internasional tidak pernah menemukan bukti bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir, dan menyebut tuduhan tersebut sebagai dalih untuk tindakan militer.

Terkait dugaan keterlibatan Rusia dalam konflik, Peskov membantah adanya dukungan militer atau intelijen kepada Iran. "Rusia tidak ikut serta dalam perang ini," ujarnya.

Bantuan Militer

Bantuan Militer

Namun, pernyataan berbeda disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi yang menyebut Moskow memberikan bantuan militer kepada Teheran dalam berbagai bentuk, tanpa merinci jenis dukungan tersebut.

Sementara itu, utusan khusus AS Steve Witkoff sebelumnya mengungkapkan bahwa Presiden Putin telah meyakinkan Presiden Donald Trump bahwa Rusia tidak membagikan intelijen kepada Iran.

Selain membahas isu Iran, Kremlin juga menyinggung dinamika politik di Eropa dan Amerika Latin. Peskov menyatakan Rusia tetap membuka dialog dengan Hongaria pasca kekalahan politik Viktor Orban, serta menegaskan penolakan Moskow terhadap potensi tindakan militer terhadap Kuba oleh pihak mana pun.

Hingga kini, upaya diplomatik untuk meredakan konflik di Timur Tengah masih menghadapi jalan buntu, dengan perbedaan tajam antara negara-negara yang terlibat terkait isu nuklir dan keamanan kawasan.

Sumber : Liputan6.com