AS Optimistis Perundingan Kedua dengan Iran di Pakistan Akan Akhiri Konflik

16 April 2026, 09:47 WIB
AS Optimistis Perundingan Kedua dengan Iran di Pakistan Akan Akhiri Konflik

Pemerintahan Donald Trump menyatakan optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik dengan Iran, di tengah ancaman peningkatan tekanan ekonomi terhadap Teheran jika tetap bersikeras pada posisinya.

Trump pada Rabu mengatakan konflik yang dimulai bersama Israel pada akhir Februari lalu hampir mencapai titik akhir. Pernyataan itu disampaikan meskipun kebijakan blokade pengiriman masih diberlakukan oleh Amerika Serikat dan lalu lintas di Selat Hormuz masih jauh di bawah normal, dikutip dari laman Japan Today, Kamis (16/4/2026).

Gedung Putih menyebut proses diplomasi yang dimediasi Pakistan menunjukkan perkembangan positif. Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan pembicaraan antara kedua pihak berlangsung produktif dan terus berjalan. Ia juga membantah laporan bahwa Washington meminta perpanjangan resmi atas gencatan senjata dua minggu yang disepakati pada 8 April.

Upaya mediasi terus berlanjut dengan kedatangan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, ke Teheran. Pemerintah Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi menyatakan komitmennya untuk mendorong perdamaian dan stabilitas kawasan.

Namun, perundingan terakhir yang berlangsung akhir pekan lalu belum menghasilkan terobosan. Konflik yang pecah sejak 28 Februari tersebut telah memicu eskalasi regional, termasuk serangan Iran ke negara-negara Teluk serta meningkatnya ketegangan antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon.

Di sisi lain, Washington memperingatkan kemungkinan penerapan sanksi sekunder terhadap negara-negara pembeli minyak Iran. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyebut langkah itu sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan tekanan menjelang putaran negosiasi berikutnya.

Ancaman Sanksi

Ancaman Sanksi

AS juga dilaporkan telah memperingatkan sejumlah bank di China agar tidak memproses transaksi terkait Iran, dengan ancaman sanksi jika tidak dipatuhi. China selama ini diketahui menjadi pembeli utama minyak Iran.

Konflik tersebut berdampak besar pada jalur distribusi energi global. Iran disebut membatasi akses di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia, sehingga mengganggu ekspor energi dari kawasan Teluk dan memaksa negara-negara importir mencari pasokan alternatif.

Militer AS melaporkan tidak ada kapal yang berhasil melewati blokade dalam 48 jam pertama, sementara sejumlah kapal lain terpaksa berbalik. Namun media Iran menyebut sebuah kapal tanker tetap berhasil mencapai pelabuhan dalam negeri meskipun ada pembatasan.

Iran juga memperingatkan akan memperluas gangguan terhadap jalur perdagangan di kawasan jika tekanan militer dan ekonomi terus meningkat.

Di tengah situasi tersebut, isu program nuklir Iran masih menjadi hambatan utama dalam perundingan. AS mengusulkan penghentian program nuklir Iran selama 20 tahun, sementara Teheran hanya bersedia menghentikan sementara dalam jangka waktu lebih singkat serta menuntut pencabutan sanksi internasional.

Ketegangan semakin kompleks dengan berlanjutnya operasi militer Israel di Lebanon yang menargetkan Hizbullah. Pemerintah Israel di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan eskalasi dalam konflik dengan Iran.

Meski demikian, sumber diplomatik menyebut adanya kemajuan dalam komunikasi tidak resmi yang berpotensi mempersempit perbedaan antara kedua pihak menjelang putaran negosiasi berikutnya.

Sumber : Liputan6.com