SBY Cerita Momen Tegang Kirim TNI ke Somalia Bebaskan MV Sinar Kudus, Karier Politik Jadi Taruhan
15 April 2026, 11:08 WIB
Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkap cerita di balik operasi militer pembebasan Kapal Kargo MV Sinar Kudus yang dibajak perompak Somalia pada 2011 silam. Saat itu, SBY harus mengambil keputusan besar di tengah tekanan publik yang menilai pemerintah lamban bertindak.
Kisah tersebut disampaikan SBY dalam acara Supermentor-28 On Leadership yang digelar di The St. Regis Jakarta, Selasa (14/4/2026) malam. Dalam forum tersebut, SBY mengenang momen ketika pemerintah dihadapkan pada situasi sulit untuk menyelamatkan awak kapal dan menjaga martabat negara.
Dalam pidatonya, SBY juga memutar video kesaksian Komandan Satgas Merah Putih, Muhammad Alfan Baharudin. Dalam video itu, Alfan mengenang suasana rapat yang penuh ketegangan, bahkan diwarnai amarah SBY.
"Di awal rapat pengambilan keputusan yang dipimpin oleh presiden, presiden sangat marah sambil mengebrak tangan itu di atas meja bahwa tidak ada satu kepala negara manapun yang mau mengikuti keinginan perompak," ujar Alfan dalam video tersebut.
SBY menyadari betul risiko besar yang dihadapinya saat memutuskan mengirim pasukan ke perairan Somalia yang berjarak sangat jauh dari Indonesia. Bahkan, operasi tersebut disebut lebih jauh dibandingkan operasi militer Inggris saat menyerbu Perang Falklands di Kepulauan Falkland pada 1982.
Meski demikian, SBY tetap yakin dengan kemampuan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dia mengungkapkan bahwa sejak hari pertama, pemerintah telah bekerja secara senyap tanpa banyak diketahui publik.
"Sejak hari pertama kita sudah bekerja, diam-diam tidak banyak diketahui oleh publik kita melakukan langkah-langkah cepat termasuk dalam waktu yang singkat memproyeksikan kekuatan kita dalam jarak yang amat jauh," kenang SBY.
Dia juga mengaku sengaja memilih diam saat dikritik publik demi menjaga kerahasiaan dan unsur kejutan dalam operasi militer khusus tersebut. Bagi SBY, keselamatan warga negara dan kedaulatan Indonesia menjadi prioritas utama, meski keputusan tersebut berisiko terhadap karier politiknya.
"Singkat kata berhasil saya mengambil risiko itu bisa gagal. Kalau gagal, karier politik saya finish. Tapi saya mengkalkulasikan ini kedaulatan kita, kita jaga harus kita selamatkan warga negara kita, kita selamatkan kapal kita," tegas SBY.
Selain keberanian militer, SBY juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap hukum internasional. Dia memastikan setiap langkah, termasuk pengejaran perompak hingga ke daratan atau hot pursuit, telah mendapatkan persetujuan pemerintah Somalia dan sesuai dengan aturan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
SBY Minta TNI Tetap Profesional dan Netral
Di dalam negeri, SBY tetap menjaga hubungan sipil dan militer yang sehat sesuai prinsip demokrasi. Dia menekankan perlunya pemisahan yang jelas antara keputusan politik yang menjadi kewenangan pemimpin sipil, dengan pelaksanaan teknis operasi militer yang sepenuhnya berada di tangan para jenderal, laksamana, dan marsekal.
SBY mengaku bangga terhadap profesionalisme TNI dalam menjalankan operasi pembebasan MV Sinar Kudus. Menurutnya, keberhasilan operasi tersebut menunjukkan TNI mampu menjalankan amanah konstitusi secara profesional.
"Tapi kita bisa, saya bangga dengan TNI yang melaksanakan tugas waktu itu, karena profesional dan menjalankan amanah konstitusi," ujarnya.
Belajar dari keberhasilan operasi Sinar Kudus, SBY kemudian menitipkan pesan penting bagi masa depan institusi keamanan Indonesia. Dia meminta TNI terus menjaga marwah sebagai alat negara yang profesional dan tidak terjebak dalam kepentingan politik jangka pendek.
Sebagai mantan Panglima Tertinggi, SBY berharap TNI semakin kuat dan berjaya, sekaligus tetap berpegang pada prinsip reformasi militer yang menempatkan TNI fokus pada tugas konstitusionalnya.
"Oleh karena sebagai mantan Panglima Tertinggi, saya mendoakan agar TNI kita di depan makin berjaya, makin kuat untuk negara kita, sebagai mantan pelaku reformasi ABRI, tetaplah pada tugas fokus sesuai dengan konstitusi, jangan masuk dalam politik praktis," pesannya.
Tak hanya TNI, SBY juga mengingatkan pentingnya netralitas Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan Badan Intelijen Negara (BIN) dalam menjaga demokrasi. Menurutnya, ketiga institusi tersebut harus berdiri tegak untuk rakyat dan hukum, bukan untuk kepentingan kelompok atau individu tertentu.
"Tetaplah netral dalam pendidikan demokrasi, netral dalam pemilu, supaya menjadi adil. Ingat TNI, Polri, badan intelijensi negara itu milik rakyat, milik kita semua. Kita akan bangga TNI-nya hebat, jago tapi juga patuh pada demokrasi dan rule of law," pungkasnya.
Sumber: Nur Habibie/Merdeka.com