Harga Minyak Merosot Tajam Hari Ini Rabu 15 April 2026
15 April 2026, 07:30 WIB
Harga minyak anjlok pada hari Selasa (Rabu waktu Jakarta), setelah Gedung Putih memberi sinyal bahwa putaran kedua pembicaraan damai antara AS dan Iran dapat berlangsung.
Dikutip dari CNBC, Rabu (15/4/2026), harga minyak mentah AS untuk pengiriman Mei turun hampir 8% dan ditutup pada harga USD 91,28 per barel. Sedangkan patokan harga minyak internasional, Brent, untuk pengiriman bulan Juni turun lebih dari 4% dan ditutup pada USD 94,79 per barel.
Pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan pembicaraan lebih lanjut dengan Iran meskipun belum ada jadwal yang ditetapkan, kata seorang pejabat Gedung Putih kepada CNBC pada hari Selasa. Wakil Presiden JD Vance mengatakan pada hari Senin bahwa bola berada di tangan Iran setelah pembicaraan di Islamabad, Pakistan gagal akhir pekan lalu.
"Apakah kita akan melakukan pembicaraan lebih lanjut, apakah kita akhirnya mencapai kesepakatan, saya benar-benar berpikir bola ada di tangan Iran, karena kita telah mengajukan banyak hal," kata Vance.
Angkatan Laut AS memulai blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Teluk Persia pada hari Senin dalam upaya untuk mendapatkan konsesi dari Teheran.
Blokade tersebut secara langsung membahayakan ekspor minyak Iran melalui Selat Hormuz, yang tercatat sekitar 1,7 juta barel per hari bulan lalu, menurut Vivek Dhar dari Commonwealth Bank of Australia.
"Oleh karena itu, blokade tersebut semakin memperketat pasar minyak fisik dan produk olahan," katanya.
Permintaan Minyak
Permintaan minyak diperkirakan turun Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pada hari Selasa bahwa guncangan pasokan minyak yang dipicu oleh perang Iran akan menekan permintaan tahun ini karena konsumen menanggapi lonjakan harga bahan bakar.
Badan Energi Atom Internasional (IEA) memperkirakan permintaan minyak akan menyusut sebesar 1,5 juta barel per hari pada kuartal kedua, penurunan terbesar sejak pandemi Covid-19.
Permintaan diperkirakan akan turun sebesar 80.000 barel per hari untuk tahun ini, sebuah perubahan besar dibandingkan dengan perkiraan IEA sebelumnya yang memperkirakan konsumsi akan tumbuh sebesar 640.000 barel per hari.