Beli Minyak Rusia, Indonesia Bisa Dapat Harga Segini

14 April 2026, 16:15 WIB
Beli Minyak Rusia, Indonesia Bisa Dapat Harga Segini

Indonesia bisa memperoleh minyak dengan harga USD 59 per barel dari Rusia, lebih murah daripada harga minyak dunia.

Saat ini, harga minyak dunia berada di kisaran USD 100 per barel yang disebabkan oleh perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran.

"Betul. Andaikan dengan harga normal pun, yang sekitar USD 60--70 per barel, minyak Rusia tetap lebih murah yaitu sekitar 59 dolar AS per barel," ujar Pakar Energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti dikutip dari Antara, Selasa (14/4/2026).

Yayan memaparkan, setelah negara-negara barat menjatuhkan sanksi embargo terhadap minyak Rusia sejak 2022, harga minyak Rusia pada 2025 mencapai 25 dolar AS per barel.

Harga itu, lanjut Yayan, lebih rendah apabila dibandingkan dengan harga minyak dari Timur Tengah yang berada di level USD 60--70 per barel.

Saat ini, dengan ditutupnya Selat Hormuz akibat perang antara AS-Israel melawan Iran, harga minyak dunia kian melonjak hingga di kisaran 100 dolar AS per barel. Bahkan, sempat menyentuh USD 116 per barel.

"Kalau kita lihat berdasarkan asumsi penerimaan, pemerintah Rusia menetapkan harga minyak sebesar 59 dolar AS per barel," ucap Yayan.

Lebih lanjut, Yayan menjelaskan jika Indonesia membeli minyak dari Rusia dengan biaya logistik sekitar 30 persen dari harga minyak, maka harga minyaknya akan berada di kisaran USD 76,7--80 per barel. Harga tersebut sudah termasuk biaya logistik.

Dengan demikian, biaya yang dibutuhkan untuk membeli minyak dari Rusia sekitar 31--51 persen lebih murah apabila dibandingkan dengan harga minyak dunia yang sempat mencapai USD 116 per barel.

"Lebih efisien, atau bahkan lebih murah dari itu jika lobi antara Presiden Prabowo dengan Presiden Putin berhasil," tutur Yayan.

Pertemuan Prabowo dan Putin

Pertemuan Prabowo dan Putin

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan pertemuan antara Presiden RI Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin membahas kerja sama energi secara konkret dan berorientasi pada kepentingan nasional.

Kerja sama tersebut mencakup pengembangan kilang minyak, penguatan perdagangan minyak, serta peningkatan pemanfaatan teknologi energi.

"Dalam jangka panjang, Indonesia turut membuka peluang kolaborasi di sektor energi bersih. Sebagai upaya yang diarahkan untuk mendukung diversifikasi energi," ujar Bahlil.

Gejolak pasar energi global yang masih mengalami tekanan turut memberi dampak pada stabilitas pasokan energi di banyak negara, termasuk Indonesia.

Untuk menjaga ketahanan pasokan energi nasional, pemerintah terus mencari langkah-langkah strategis, salah satunya melalui penjajakan kerja sama dengan Rusia sebagai salah satu negara produsen energi dunia.

Sumber : Liputan6.com