Uni Emirat Arab Melesat ke Ranking 2 Paspor Terkuat di Dunia 2026, Indonesia Peringkat Berapa?

15 April 2026, 08:00 WIB
Uni Emirat Arab Melesat ke Ranking 2 Paspor Terkuat di Dunia 2026, Indonesia Peringkat Berapa?

Henley & Partners kembali merilis Indeks Henley yang berisi ranking paspor terkuat di dunia dengan pertimbangan utama adalah akses bebas visa ke negara atau destinasi tujuan. Hasilnya, paspor Uni Emirat Arab (UEA) melesat ke urutan dua, menjadikannya sejajar dengan paspor Jepang dan Korea Selatan.

Pemegang paspor UEA kini dapat bepergian ke 187 destinasi tanpa visa sebelumnya berdasarkan data resmi dari Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA). Dikutip dari Gulf News, Rabu (15/4/2026), selama satu dekade terakhir, paspor UEA telah naik 36 peringkat, dari peringkat ke-38 pada 2016 ke posisi saat ini.

Sementara, posisi puncak masih diduduki Singapura, dengan akses bebas visa ke-192. Menyusul UEA, Jepang, dan Korea Selatan, ada Swedia yang sendirian menduduki posisi tiga. Berikutnya, 13 negara Eropa sama-sama menduduki peringkat empat paspor terkuat di dunia 2026.

Lalu, bagaimana dengan kekuatan paspor Indonesia? Paspor hijau berlambang burung garuda itu kini menduduki posisi 63 bersama Malawi dengan akses bebas visa ke 70 destinasi. Posisi itu naik dua peringkat dari tahun lalu, dan satu peringkat dari awal tahun ini.

Berikut adalah daftar 10 besar paspor terkuat di dunia 2026 per April 2026 beserta jumlah akses bebas visanya:

  1. Singapura -- 192
  2. Jepang, Korea Selatan, UEA -- 187
  3. Belgia, Denmark, Finlandia, Swedia, Prancis, Jerman, Irlandia, Italia, Luxembourg, Belanda, Norwegia, Spanyol, Swiss -- 186
  4. Austria, Yunani, Malta, Portugal -- 185
  5. Yunani, Austria, Portugal, Malta -- 184
  6. Hungaria, Malaysia, Polandia, Inggris - 183
  7. Australia, Kanada, Ceko, Latvia, Selandia Baru, Slowakia, Slovenia - 182
  8. Kroasia, Estonia - 181
  9. Liechtenstein, Lithuania - 180
  10. Amerika Serikat, Islandia - 179

Langkah Terbaru Dubai Pulihkan Pariwisatanya

Langkah Terbaru Dubai Pulihkan Pariwisatanya

Sementara itu, dikutip dari rilis resmi Kantor Media Pemerintah Dubai tertanggal 2 April 2026, Putra Mahkota Dubai Sheikh Hamdan bin Mohammed bin Rashid Al Maktoum mengumumkan sederet langkah baru untuk memulihkan pariwisatanya yang terdampak Perang Iran vs Israel dan AS. Langkah itu merupakan bagian dari paket insentif ekonomi senilai 1 miliar dirham UAE yang dirilis Presiden UEA Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, awal bulan ini.

Salah satunya adalah mengizinkan hotel untuk menunda pembayaran 100 persen biaya penjualan kamar dan makanan dan minuman serta Dirham Pariwisata selama tiga bulan. Kebijakan yang bertujuan meringankan tekanan keuangan dan meningkatkan likuiditas sektor perhotelan dan pariwisata itu berlaku mulai 1 April 2026. Kebijakan itu berlaku untuk semua perusahaan perhotelan, termasuk hotel, apartemen hotel, dan rumah liburan.

Langkah-langkah lain yang bertujuan untuk mendukung bisnis di seluruh perekonomian yang lebih luas, yang diterapkan selama tiga bulan mulai 1 April 2026, meliputi penangguhan biaya untuk nama bisnis premium; biaya perubahan lisensi; biaya pengumuman di surat kabar; biaya layanan lokal; biaya akomodasi; biaya pengelolaan limbah; dan biaya peningkatan layanan. Penangguhan ini berlaku untuk lisensi baru dan perpanjangan. Pelaku bisnis akan diberikan informasi terbaru di akhir periode tiga bulan tersebut.

Tekankan Kolaborasi Publik dan Swasta

Tekankan Kolaborasi Publik dan Swasta

Direktur Jenderal Departemen Ekonomi dan Pariwisata Dubai (DET) Helal Saeed Almarri menambahkan bahwa model ekonomi Dubai dibangun di atas kelincahan, kejelasan, dan kerja sama, dan percepatan pengenalan serta implementasi langkah-langkah tersebut. Menurutnya, hal itu bisa terlaksana berkat kolaborasi erat antara sektor publik dan swasta.

"Insentif baru ini sejalan dengan umpan balik yang telah kami terima dari para pemimpin perhotelan di kota ini dan akan menempatkan mereka pada posisi yang kuat untuk mendorong pertumbuhan dan momentum bagi sektor ini," imbuh Issam Kazim, CEO Dubai Corporation for Tourism and Commerce Marketing (DCTCM), bagian dari DET.

Ahmad Khalifa AlQaizi AlFalasi, CEO Dubai Business Registration and Licensing Corporation (DBLC), bagian dari DET, mengatakan, "Dengan memberikan fleksibilitas ekstra kepada bisnis selama beberapa bulan mendatang, kami memungkinkan mereka untuk fokus pada prioritas utama dan langkah-langkah yang perlu mereka ambil untuk melindungi keberlanjutan jangka panjang operasi mereka."

Butik-butik Mewah Dubai Sepi Pengunjung

Butik-butik Mewah Dubai Sepi Pengunjung

Tak hanya sektor perhotelan yang terpukul akibat menurunnya kunjungan wisatawan ke Dubai, pusat perbelanjaan juga terdampak signifikan. Sebulan setelah perang Iran vs Israel dan dimulai, suasana berubah drastis: pramuniaga duduk santai di dekat rak-rak mewah, telepon di tangan, menunggu pembeli yang nyaris tak ada.

"Sangat sedikit pelanggan, terutama turis," ujar seorang pramuniaga pada AFP, melansir The Stratis Times, Jumat, 3 April 2026. "Warga lokal masih datang. Untungnya kami punya banyak pelanggan lokal dan tidak ada yang panik."

Sebagai tempat bermain elit bagi orang kaya dari seluruh dunia, Dubai dikenal karena perpaduan antara stabilitas dan kemewahan. Namun sejak serangan yang dilakukan oleh AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang dibalas dengan serangan drone dan rudal melintasi wilayah Teluk, kota ini mulai kehilangan daya tarik klasiknya. Wisatawan internasional yang biasanya memenuhi butik-butik mewah dan restoran kelas atas kini menunda perjalanan.

Sementara itu, beberapa bandara utama, termasuk di Dubai, mengalami penutupan wilayah udara atau pembatasan rute. Seorang tokoh industri retail yang tak ingin disebutkan namanya mengatakan, "Kita semua berharap ini hanya sementara. Orang percaya situasi akan membaik."

Sumber : Liputan6.com