Mantan Menlu India Sebut Arah Kebijakan Trump Picu Ketidakpastian Global
14 April 2026, 13:03 WIB
Mantan Menteri Luar Negeri India Shyam Saran menilai kebijakan global di bawah Presiden Donald Trump telah mendorong dunia ke dalam fase ketidakpastian yang semakin dalam, baik secara politik maupun ekonomi.
Saran mengatakan, dinamika hubungan antara India dan Amerika Serikat saat ini mencerminkan kondisi global yang lebih luas, di mana hampir semua negara menghadapi ketidakpastian.
"Ketidakpastian ini adalah sesuatu yang dialami hampir semua negara," ujar Saran dalam forum bertajuk The Middle Power Moment, Rethinking the World Order and the Roles of Middle Powers pada Selasa (14/4/2026) di St. Regis Hotel, Jakarta.
Ia menilai, perubahan arah kebijakan Washington turut menggeser tatanan global, termasuk melemahnya kohesi "Barat" sebagai entitas dengan nilai dan kepentingan bersama.
"Barat seperti yang kita kenal tidak lagi ada dalam bentuk yang koheren," kata Saran.
Meski demikian, ia menyebut dampak terhadap India relatif lebih kecil dibandingkan sekutu dekat Amerika Serikat lainnya. Dalam hubungan bilateral, ia menggambarkan relasi kedua negara seperti "pendulum terbalik", di mana ketegangan lebih terasa di tingkat politik, sementara kerja sama teknis tetap stabil.
Kolaborasi di bidang pertahanan, teknologi, hingga kontra-terorisme, lanjutnya, masih berjalan tanpa gangguan berarti.
Namun, tekanan terlihat dalam sektor perdagangan. India sempat menghadapi tarif tinggi hingga 50 persen serta penalti tambahan terkait kebijakan energi, sebelum akhirnya diturunkan menjadi sekitar 10 persen setelah putusan pengadilan di AS.
"Kita belum tahu seperti apa bentuk perjanjian perdagangan ke depan setelah periode ini berakhir," ujarnya.
Di tengah situasi tersebut, komunikasi tingkat tinggi antara kedua negara tetap berlangsung positif. Ia menyinggung kunjungan pejabat tinggi India ke Washington serta rencana kunjungan pejabat AS ke India sebagai sinyal diplomatik yang konstruktif.
India Buka Peluang Kerja Sama dengan Banyak Pihak
Di sisi lain, Saran menilai ketidakpastian global justru membuka peluang bagi India untuk memperluas kerja sama dengan mitra lain, termasuk Uni Eropa.
Ia menyebut negosiasi perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa mengalami percepatan di tengah dinamika global saat ini.
Terkait kawasan, Saran juga menyoroti perkembangan di Afghanistan pasca kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan. Ia mengakui sempat muncul kekhawatiran bahwa Afghanistan akan kembali menjadi basis terorisme lintas batas.
Namun, dinamika terbaru menunjukkan hubungan yang membaik antara India dan otoritas di Afghanistan, serta memburuknya relasi antara Afghanistan dan Pakistan.
"Pergeseran geopolitik sering kali tidak dapat diprediksi," ujarnya.
Meski relatif mampu mengelola tekanan geopolitik, Saran mengingatkan bahwa India tetap terdampak oleh gangguan global, terutama pada sektor ekonomi, energi, dan pangan.
"Kami sangat terintegrasi dengan ekonomi global, sehingga dampaknya sangat terasa," katanya.
Dalam konteks yang lebih luas, ia menekankan pentingnya peran negara-negara kekuatan menengah dalam menjaga stabilitas dunia di tengah ketidakpastian.
Menurutnya, negara-negara tersebut berpotensi menjadi penyeimbang sekaligus penjaga perdamaian global di masa yang penuh gejolak.
"Dalam situasi global yang sangat sulit, kekuatan menengah memiliki potensi untuk menjadi gerakan perdamaian," ujarnya.