Imbas Selat Hormuz Ditutup, India hingga Australia Rebutan Pupuk dari Indonesia
13 April 2026, 19:20 WIB
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah hingga penutupan Selat Hormuz memberikan dampak ke distribusi pupuk dunia. Pasalnya, sepertiga distribusi pupuk dunia melewati Selat Hormuz dan sebagian besar pasokannya berasal dari kawasan tersebut.
Gangguan yang terjadi di Selat Hormuz pun menyebabkan banyak negara mengalami kesulitan pasokan pupuk, terutama urea.
"Kondisi ini membuat banyak negara di dunia kini membutuhkan pasokan urea dari Indonesia. Kita adalah salah satu produsen urea terbesar di dunia," ujar Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Senin (13/4/2026).
Sudaryono menyebutkan sejumlah negara telah menjalin komunikasi dengan pemerintah Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pupuk mereka. Pemerintah India, Filipina, dan Australia bahkan telah menyampaikan minatnya secara langsung.
"Pemerintah India sudah menghubungi kami. Saya juga telah menerima surat dari pemerintah Filipina dan Australia. Mereka siap membeli dengan harga berapa pun," katanya.
Lebih lanjut, Wamentan menjelaskan rencana sebelumnya untuk menutup sejumlah pabrik pupuk dalam negeri kini dibatalkan. Hal ini dikarenakan meningkatnya kebutuhan global yang membuka peluang ekspor lebih luas bagi Indonesia.
"Pabrik-pabrik yang tadinya direncanakan untuk kita suntik mati, tapi sekarang tidak jadi. Karena ternyata permintaan sangat tinggi," jelasnya.
Dia juga menuturkan dirinya telah melaporkan perkembangan hal itu kepada Presiden Prabowo Subianto, termasuk potensi komunikasi dari pemimpin negara lain terkait kebutuhan pupuk.
Target Produksi
Dalam satu tahun ke depan, lanjut Wamentan, Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) telah menargetkan ekspor pupuk mencapai 1,5 juta ton. Meski demikian, pemerintah memastikan bahwa kebutuhan pupuk untuk petani dalam negeri tetap menjadi prioritas utama sebelum melakukan ekspor.
"Dan pastinya kebutuhan pupuk petani di dalam negeri pasti kita penuhi terlebih dahulu. Itu tidak akan kita utak-atik," tegas Wamentan Sudaryono, yang juga merupakan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).
Dia menyebut Indonesia siap mengekspor 1,5 juta ton pupuk, memanfaatkan peluang pasar global akibat terganggunya jalur distribusi internasional di Selat Hormuz kawasan Timur Tengah.
"Kita punya rencana dalam setahun ini kita punya stok dan bisa ekspor pupuk sebanyak 1,5 juta ton totalnya," kata Wamentan dikutip dari Antara, Senin (13/4/2026).
Pasokan Pupuk Nasional
Sementara itu, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi menyampaikan bahwa ketahanan pasokan pupuk nasional ditopang oleh kapasitas produksi yang kuat, dengan total mencapai 14,8 juta ton per tahun, termasuk Urea sebesar 9,4 juta ton. Kapasitas tersebut memberikan fleksibilitas bagi Indonesia untuk merespons peluang ekspor tanpa mengganggu pasokan pupuk di dalam negeri.
"Di tengah dinamika global yang menekan pasokan di banyak negara, sektor pupuk justru menempatkan Indonesia dalam posisi yang lebih kuat. Dari 9,4 juta ton total kapasitas produksi urea, kita bisa ekspor antara 1,5 sampai 2 juta ton tergantung dari kebutuhan dalam negeri," ujarnya.
Menurutnya, pemanfaatan ruang ekspor tersebut tetap dilakukan secara terukur, dengan mempertimbangkan kondisi pasokan domestik serta kebutuhan petani sebagai prioritas utama.
"Terkait ekspor pupuk, kami senantiasa mengikuti kebijakan dan arahan pemerintah, dengan memastikan kebutuhan dalam negeri tetap terpenuhi," katanya.
Dengan pendekatan tersebut, potensi ekspor dinilai tidak hanya memberikan nilai tambah secara ekonomi, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu penopang pasokan pupuk global di tengah ketidakpastian rantai distribusi saat ini.
Posisi Indonesia sebagai produsen urea yang mampu menjaga stabilitas pasokan tersebut dinilai tidak terlepas dari penguatan kapasitas dan efisiensi yang dilakukan oleh Pupuk Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, termasuk optimalisasi produksi dan distribusi untuk menjaga ketersediaan pupuk di berbagai wilayah.