Dampak Perang Iran terhadap Harga Minyak Dunia Masih jadi Sentimen

05 April 2026, 22:59 WIB
Dampak Perang Iran terhadap Harga Minyak Dunia Masih jadi Sentimen

Konflik di Iran yang melibatkan Iran, Amerika Serikat dan Israel dinilai tetap menjadi risiko utama. Volatilitas tetap tinggi seiring pasar masih sensitif terhadap berita utama. Pada pekan ini, sentimen investor global secara keseluruhan melakukan manajemen risiko seiring berita utama terkait perang di Iran menurunkan selera risiko. Konflik di Iran berkepanjangan dinilai dapat ber-dampak terhadap inflasi harga energi.

"Konflik yang berkepanjangan jelas bukan hanya peristiwa geopolitik tetapi juga memerangaruhi perekonomian global terutama guncangan inflasi harga energi, yang memengaruhi suku bunga global, aset safe haven, serta selera risiko," demikian dikutip dari riset Ashmore Asset Management Indonesia, Minggu (5/4/2026).

Setelah periode optimisme singkat pada awal pekan, sentimen berbalik cepat setelah Presiden AS Donald Trump menuturkan, AS akan melanjutkan serangan terhadap Iran tanpa memberikan tanggal pasti kapan konflik itu dapat berakhir.

"Pasar segera memperhitungkan konflik yang berkepanjangan dan gangguan berkelanjutan terhadap harga energi dan pengiriman karena Selat Hormuz dan jalur pasokan di dekatnya mengalami peningkatan risiko," demikian seperti dikutip.

Harga minyak melonjak kembali di mana minyak Brent hampir mencapai USD 120 minggu ini tetapi telah turun di bawah USD 110 saat riset dibuat. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap tinggi karena tekanan inflasi membebani imbal hasil, dengan imbal hasil 10 tahun tetap sekitar 4,35% dan imbal hasil 2 tahun sekitar 3,85%.

"Peristiwa penting yang perlu diperhatikan tetap pada dampak perang Iran terhadap harga minyak serta durasi konflik, yang pada gilirannya memengaruhi ekspektasi inflasi dalam jangka pendek dan menengah,"

Sentimen Domestik

Sentimen Domestik

Dari domestik, otoritas Indonesia seperti bursa saham dan kustodian sentral telah mengeluarkan inisiatif yang telah disebutkan sebelumnya dan telah ditunggu-tunggu oleh investor.

Secara khusus, IDX telah merilis surat resmi terkait persyaratan free float minimum beserta periode kepatuhan bagi perusahaan publik untuk mencapai persyaratan free float minimum 15%. Selain itu, granularitas investor telah meningkat dari 9 menjadi 39 jenis, yang dapat membantu meningkatkan transparansi kepemilikan saham. Selain itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mendistribusikan kepemilikan saham di atas 1% per Maret sebagai tambahan dari rilis bulan sebelumnya.

Investor berharap segera melihat daftar konsentrasi pemegang saham yang tinggi, di mana upaya keseluruhan harus mengatasi kekhawatiran tentang kredibilitas dan transparansi pasar modal.

"Meskipun sikap resmi dari penyedia indeks global belum terlihat setelah perkembangan terkini, kami optimis bahwa upaya ini mengarah pada perubahan struktural yang positif bagi pasar modal,"

Kinerja IHSG

Kinerja IHSG

Adapun pada pekan ini, Indeka Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah ke 7.027. Investor asing melepas saham USD 126 juta. Sektor saham konsumen siklikal dan industri mencatat kinerja baik masing-masing naik 6,58% dan 3,35%.

Sedangkan sektor saham transportasi dan logistic serta keungan masing-masing turun 3,57% dan 2,23%.

Pada pekan ini, indeks Nasdaq naik 4,26%, harga crude palm oil (CPO) naik 4,03%. Sedangkan harga batu bara dan minyak masing-masing turun 6,76% dan 3,41%.

Sumber : Liputan6.com