Intip Prospek Pasar Modal Kuartal II 2026: Sektor Apa Paling Untung?

05 April 2026, 15:00 WIB
Intip Prospek Pasar Modal Kuartal II 2026: Sektor Apa Paling Untung?

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dinilai menjadi pendorong utama pergerakan sektor energi pada kuartal II 2026. Kondisi ini membuka peluang bagi emiten energi untuk mencatatkan kinerja positif, terutama yang memiliki keterkaitan langsung dengan harga komoditas minyak dan gas.

Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, mengatakan bahwa dinamika geopolitik saat ini berpotensi meningkatkan harga energi global dan memberikan sentimen positif bagi sektor terkait.

"Ketegangan geopolitik di Timur Tengah saat ini menjadi katalis utama bagi sektor energi di Q2 2026, terutama melalui potensi kenaikan harga minyak dan gas yang menguntungkan emiten energi, khususnya yang memiliki eksposur langsung ke harga komoditas seperti oil dan gas," ujarnya kepada Liputan6.com, Minggu (5/4/2026).

Di sisi lain, ia menilai prospek sektor pertambangan pada periode yang sama cenderung beragam. Batubara diperkirakan bergerak stabil seiring normalisasi permintaan global, sementara komoditas seperti nikel dan logam industri lainnya masih menghadapi tekanan.

"Sementara itu, untuk sektor mining, potensi Q2 lebih mixed, batubara berpotensi stabil dengan potensi seiring normalisasi permintaan global, sedangkan nikel dan logam industri masih menghadapi tekanan dari perlambatan ekonomi dan ketidakpastian demand China," tuturnya.

Sebelumnya, Pengamat pasar modal Reydi Octa memproyeksikan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada kuartal II 2026 masih berpeluang mengalami rebound setelah tekanan cukup dalam pada awal tahun. Namun, penguatan tersebut dinilai tidak akan terlalu besar karena masih dibayangi berbagai sentimen global dan domestik.

"Koreksi IHSG hingga sekitar 18% di kuartal I mencerminkan kombinasi tekanan global dan capital outflow, sehingga di kuartal II saya melihat ruang rebound tetap terbuka, meski cenderung terbatas. Pasar akan bergerak lebih selektif, dengan kecenderungan rebound selama tidak ada kejutan baru dari global," ujar Reydi kepada Liputan6.com, Rabu (1/4/2026).

Pergerakan Pasar

Pergerakan Pasar

Ia menjelaskan, arah pergerakan pasar pada periode ini masih sangat dipengaruhi oleh dinamika global, termasuk tensi geopolitik, arah suku bunga, hingga fluktuasi harga komoditas. Selain itu, faktor domestik seperti stabilitas nilai tukar rupiah, kebijakan pemerintah, serta arus dana asing juga akan menjadi penentu.

"Sentimen utama masih berasal dari global yaitu tensi geopolitik, arah suku bunga, serta harga komoditas ditambah faktor domestik seperti stabilitas rupiah, kebijakan pemerintah, dan arah arus dana asing," ujarnya.

Dari sisi sektoral, ia menilai saham energi dan komoditas masih cenderung defensif, sementara perbankan besar mulai menarik untuk dikoleksi secara bertahap seiring penurunan valuasi. Adapun sektor konsumsi dinilai akan sangat bergantung pada daya beli masyarakat dan kebijakan pemerintah, sedangkan sektor teknologi dan digital berpotensi diuntungkan dari tren efisiensi dan digitalisasi.

Sumber : Liputan6.com