Subsidi Energi Tambah Rp 100 Triliun, Defisit APBN Tetap Aman

01 April 2026, 20:45 WIB
Subsidi Energi Tambah Rp 100 Triliun, Defisit APBN Tetap Aman

Pemerintah harus mengalokasikan tambahan anggaran subsidi energi hingga Rp 100 triliun untuk menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Meski demikian, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memastikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terkendali di level 2,9 persen.

Menurut Purbaya, pemerintah menggunakan asumsi harga minyak dunia yang relatif tinggi dalam penyusunan kebijakan fiskal, yakni rata-rata sebesar USD 100 per barel sepanjang tahun.

"Kita mindset dengan asumsi harga minyak tinggi terus, rata-rata USD 100 sepanjang tahun. Dengan kebijakan itu, defisitnya tetap terkendali di 2,9 persen," katanya di Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Ia menambahkan, kondisi harga minyak global saat ini justru menunjukkan tren penurunan, sehingga memberikan ruang tambahan bagi pengelolaan fiskal.

"Sekarang sudah turun lagi. Kalau perang berhenti, kemungkinan harga minyak akan turun jauh lebih rendah dari level sebelumnya," ujarnya.

Sementara itu, total anggaran subsidi dan kompensasi energi dalam APBN tahun ini sebelumnya tercatat sekitar Rp381 triliun. Pemerintah masih akan melakukan perhitungan lebih lanjut untuk memastikan besaran final tambahan anggaran tersebut.

Dari sisi fiskal, tambahan subsidi energi diperkirakan hanya memberikan tekanan terbatas terhadap defisit, yakni sekitar 0,12 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Harga Minyak Brent Melonjak 63% di Maret 2026, Terbesar Sejak 1988

Harga Minyak Brent Melonjak 63% di Maret 2026, Terbesar Sejak 1988

Sebelumnya, harga minyak Brent melonjak 63% pada bulan Maret dan mencatatkan kenaikan bulanan terbesar sejak tahun 1988 karena perang Iran telah memicu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah.

Dikutip dari CNBC, Rabu (1/4/2026), harga minyak Brent yang menjadi acuan global untuk pengiriman Mei naik sekitar 5% pada hari Selasa dan ditutup pada harga USD 118,35 per barel. Namun, harga minyak untuk kontrak Juni turun 3,2%.

Sedangkan harga minyak mentah AS turun 1,46% menjadi USD 101,38 per barel. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 51% sepanjang Maret, menjadi bulan terbaiknya sejak Mei 2020.

Harga minyak mentah AS dan harga Brent Juni turun menyusul laporan bahwa Presiden Donald Trump dan Iran terbuka untuk mengakhiri perang.

"Ini adalah mimpi buruk," kata Presiden Rapidan Energy Bob McNally.

"Pasar energi telah mengalami mimpi buruk yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya dan ingin percaya bahwa mimpi buruk itu telah berakhir," lanjut dia.

Perang Berakhir

Perang Berakhir

Trump mengatakan kepada para ajudannya bahwa ia bersedia mengakhiri operasi AS terhadap Iran bahkan jika Selat Hormuz tetap tertutup, demikian kata para pejabat pemerintahan kepada The Wall Street Journal.

Laporan yang belum dikonfirmasi juga mengindikasikan bahwa Presiden Iran Masoud Pezeshkian terbuka untuk mengakhiri perang.

Sementara itu, Iran menyerang kapal tanker minyak Kuwait yang berlabuh di luar Dubai. Tidak ada laporan korban luka dan tidak terjadi tumpahan minyak, menurut pernyataan dari Kuwait Petroleum Corporation .

CIO di FedWatch Advisors Ben Emons menyatakan, serangan tersebut mengindikasikan semakin ketatnya cengkeraman Republik Islam di Selat Hormuz, dengan menargetkan kapal tanker tepat di luar jalur air tersebut. Dia menyoroti risiko baru akan gangguan lebih lanjut terhadap aliran energi.

"Hasilnya adalah permainan yang lebih asimetris, dengan AS cenderung untuk menarik diri dan Iran masih termotivasi untuk memberikan kerugian," kata Emons.

Sumber : Liputan6.com