Harga Minyak Tembus USD 100, Menkeu Purbaya Hitung Dampaknya ke Defisit APBN
01 April 2026, 20:15 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, memastikan keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) telah melalui perhitungan yang matang.
Ia menjelaskan, setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar USD 1 per barel berpotensi menambah defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sekitar Rp 6 triliun.
"Yang jelas tiap USD 1 per barel naik itu sekitar Rp 6 triliun tambahan defisitnya. Tapi ini sudah kita hitung semua kan, nanti bahkan dengan rata-rata USD 100 pun kita sudah kunci defisitnya di bawah 3%, yaitu sekitar 2,9%. Jadi nggak masalah," katanya di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Purbaya menegaskan bahwa posisi defisit saat ini masih berada di level aman, yakni sekitar 2,9 persen. Angka tersebut bahkan belum memperhitungkan potensi efisiensi tambahan, termasuk dari kebijakan Work From Home (WFH).
Menurutnya, jika terdapat langkah penghematan lanjutan, defisit berpotensi lebih rendah lagi.
Ia juga merujuk pada realisasi defisit tahun 2025 yang mencapai 2,92 persen. Hal ini menunjukkan ruang fiskal Indonesia masih cukup fleksibel dan tidak sesempit yang dikhawatirkan.
"Jadi sekarang pun dengan 2,9% saya nggak terlalu pesimis," ujarnya.
Purbaya menambahkan, proyeksi defisit APBN 2026 diperkirakan tetap berada di kisaran tersebut. Terlebih, harga minyak dunia yang sempat menyentuh USD100 per barel kini mulai turun ke kisaran USD70 per barel.
Kondisi ini dinilai memberikan ruang tambahan bagi pengelolaan fiskal pemerintah.
"Jadi ruang kita masih terbuka lebar sebetulnya, jadi Anda nggak perlu takut dengan kondisi APBN kita," tutupnya.
Harga Minyak Brent Melonjak 63% di Maret 2026, Terbesar Sejak 1988
Sebelumnya, harga minyak Brent melonjak 63% pada bulan Maret dan mencatatkan kenaikan bulanan terbesar sejak tahun 1988 karena perang Iran telah memicu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah.
Dikutip dari CNBC, Rabu (1/4/2026), harga minyak Brent yang menjadi acuan global untuk pengiriman Mei naik sekitar 5% pada hari Selasa dan ditutup pada harga USD 118,35 per barel. Namun, harga minyak untuk kontrak Juni turun 3,2%.
Sedangkan harga minyak mentah AS turun 1,46% menjadi USD 101,38 per barel. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 51% sepanjang Maret, menjadi bulan terbaiknya sejak Mei 2020.
Harga minyak mentah AS dan harga Brent Juni turun menyusul laporan bahwa Presiden Donald Trump dan Iran terbuka untuk mengakhiri perang.
"Ini adalah mimpi buruk," kata Presiden Rapidan Energy Bob McNally.
"Pasar energi telah mengalami mimpi buruk yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya dan ingin percaya bahwa mimpi buruk itu telah berakhir," lanjut dia.
Perang Berakhir
Trump mengatakan kepada para ajudannya bahwa ia bersedia mengakhiri operasi AS terhadap Iran bahkan jika Selat Hormuz tetap tertutup, demikian kata para pejabat pemerintahan kepada The Wall Street Journal.
Laporan yang belum dikonfirmasi juga mengindikasikan bahwa Presiden Iran Masoud Pezeshkian terbuka untuk mengakhiri perang.
Sementara itu, Iran menyerang kapal tanker minyak Kuwait yang berlabuh di luar Dubai. Tidak ada laporan korban luka dan tidak terjadi tumpahan minyak, menurut pernyataan dari Kuwait Petroleum Corporation .
CIO di FedWatch Advisors Ben Emons menyatakan, serangan tersebut mengindikasikan semakin ketatnya cengkeraman Republik Islam di Selat Hormuz, dengan menargetkan kapal tanker tepat di luar jalur air tersebut. Dia menyoroti risiko baru akan gangguan lebih lanjut terhadap aliran energi.
"Hasilnya adalah permainan yang lebih asimetris, dengan AS cenderung untuk menarik diri dan Iran masih termotivasi untuk memberikan kerugian," kata Emons.