OECD Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 4,8% pada 2026
29 March 2026, 20:51 WIB
The Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 4,8% pada 2026 dan 5% pada 2027. Prediksi pertumbuhan ekonomi 2026 itu turun dari perkiraan sebelumnya 5% pada Desember 2025. Prediksi pertumbuhan ekonomi itu di tengah konflik Timur Tengah.
Dalam laporan bertajuk OECD Economic Outlook, Interim Report March 2026 Testing Resilience yang dikutip Minggu, (29/3/2026), OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 4,8% pada 2026 dan 5% pada 2027. Selain itu, inflasi di Indonesia juga diprediksi mencapai 3,4% pada 2026, naik dari sebelumnya 3,1% dan 2,6% pada 2027, turun dari sebelumnya 3,2%.
OECD menyebutkan, konflik yang berkembang di Timur Tengah menimbulkan kerugian bagi masyarakat dan ekonomi bagi negara-negara yang terlibat langsung dan menguji ketahananan ekonomi global. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global akan tetap di 2,9% pada 2026 sebelum sedikit meningkat menjadi 3% pada 2027, didukung investasi terkait teknologi yang kuat dan penurunan tarif efektif secara bertahap.
Namun, konflik yang berkembang di Timur Tengah membebani pertumbuhan dan menimbulkan ketidakpastian yang signifikan seputar permintaan global.
"Proyeksi ini mengasumsikan gangguan pasar energi saat ini bersifat sementara, dengan harga yang akan mereda mulai pertengahan 2026 dan seterusnya," demikian seperti dikutip.
Sedangkan untuk Indonesia, OECD menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap stabil secara umum karena stimulus fiskal baru-baru ini mendukung pertumbuhan konsumsi swasta.
"Pelonggaran kebijakan moneter akan memberikan dukungan bagi pertumbuhan di beberapa negara berkembang G20 pada 2027 setelah inflasi mereda, termasuk Brasil, Meksiko, Afrika Selatan dan Turki," demikian seperti dikutip.
Menyoroti Inflasi dan Suku Bunga
Selain itu, OECD juga menyoroti kondisi pasar tenaga kerja secara umum. Di beberapa ekonomi pasar berkembang besar seperti India dan Indonesia, kondisi pasar tenaga kerja secara umum menguntungkan dengan tingkat pengangguran yang relatif rendah.
Adapun peningkatan harga energi global baru-baru ini dan ancaman terhadap rantai pasokan terjadi pada saat inflasi di atas target di beberapa ekonomi utama dan pasar tenaga kerja yang relatif ketat. Ukuran lowongan kerja terus menurun di beberapa negara maju, termasuk Kanada, Inggris dan Amerika Serikat yang menandakan permintaan tenaga kerja lebih lemah.
"Namun, tingkat pengangguran secara umum tetap rendah menurut standar historis dan, meskipun melambat, laju pertumbuhan upah nominal tetap solid. Pertumbuhan biaya tenaga kerja per unit di ekonomi OECD rata-rata terus menurun, diuntungkan dari pemulihan pertumbuhan produktivitas tenaga kerja di banyak negara," demikian seperti dikutip.
Selain itu, OECD menilai sebelum ketegangan konflik Timur Tengah terdapat tanda-tanda kebangkitan inflasi di Australia dan peningkatan dari tingkat moderat di India, Indonesia, Italia dan Afrika Selatan. Namun, inflasi 2027 akan moderat di Indonesia di tengah hambatan biaya energi dan pupuk.
OECD juga melihat perkembangan kebijakan moneter terutama suku bunga semakin bervariasi di berbagai negara. Kebijakan suku bunga moderat diperkirakan masih diterapkan di banyak negara berkembang termasuk Indonesia dan India. Keputusan kebijakan tetap seimbang untuk meminimalkan risiko volatilitas mata uang dan menjaga harapan inflasi tetap terkendali.