Grab Akuisisi Foodpanda Taiwan Senilai Rp 10 Triliun
23 March 2026, 21:00 WIB
Perusahaan teknologi asal Singapura, Grab Holdings, mengumumkan akan mengakuisisi bisnis foodpanda di Taiwan dari induknya, Delivery Hero, dengan nilai transaksi sebesar USD 600 juta atau kurang lebih Rp 10 triliun (estimasi kurs Rp 16.900 per dolar AS.
Akuisisi ini menandai langkah ekspansi pertama Grab di luar kawasan Asia Tenggara.
Chief Executive Officer Grab, Anthony Tan, menyatakan bahwa Taiwan akan menjadi pasar kesembilan perusahaan sekaligus ekspansi internasional pertama.
"Akuisisi ini akan menandai ekspansi Grab ke Taiwan, yang menjadi pasar kesembilan kami dan yang pertama di luar Asia Tenggara," ujar Tan dikutip dari Channel News Asia, Senin (23/3/2026).
Ia menambahkan, pengalaman Grab dalam mengelola layanan di kota-kota padat Asia Tenggara menjadi modal kuat untuk masuk ke pasar Taiwan.
"Pengalaman panjang kami dalam mengelola logistik pengiriman yang kompleks di kota-kota padat dan lalu lintas tinggi sangat sesuai untuk Taiwan," lanjutnya.
Target Operasi di 21 Kota
Setelah transaksi rampung, Grab berencana beroperasi di 21 kota di Taiwan. Akuisisi ini masih menunggu persetujuan regulator dan diperkirakan selesai pada paruh kedua 2026.
Grab memperkirakan transaksi ini akan memberikan tambahan EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) setidaknya USD 60 juta pada 2028.
Sebagai gambaran, bisnis Foodpanda di Taiwan mencatat nilai transaksi bruto sekitar USD 1,8 miliar pada 2025 dan telah mencetak keuntungan secara EBITDA.
Sebelumnya, pada 2024, regulator Taiwan sempat memblokir rencana Uber untuk mengakuisisi bisnis Foodpanda senilai USD 950 juta karena berpotensi menciptakan dominasi pasar lebih dari 90%.
Saat ini, Uber Eats masih menjadi salah satu pemain utama di pasar pengantaran makanan Taiwan.
Delivery Hero Lepas Aset, Investor Minta Perbaikan Strategi
Grab menargetkan pertumbuhan pendapatan lebih dari 20% per tahun dalam tiga tahun ke depan, serta peningkatan EBITDA hingga tiga kali lipat menjadi USD 1,5 miliar pada 2028.
Perusahaan juga menegaskan target EBITDA 2026 di kisaran USD 700 juta hingga USD 720 juta, dengan proyeksi pendapatan mencapai USD 4,04 miliar hingga USD 4,10 miliar.
Grab berencana menyelesaikan migrasi pengguna, mitra merchant, dan pengemudi ke aplikasinya paling lambat awal 2027.
Di sisi lain, CEO Delivery Hero, Niklas Oestberg, menyebut penjualan bisnis di Taiwan sebagai langkah awal dalam evaluasi strategi perusahaan.
"Pelepasan bisnis di Taiwan ini merupakan langkah awal yang penting dalam peninjauan strategi kami," ujarnya.
Namun, sejumlah pemegang saham seperti Aspex Management menilai langkah tersebut belum cukup.
"Memulai pelepasan aset adalah langkah positif, tetapi hanya melepas bisnis di Taiwan saja jelas belum cukup," kata Aspex.
"Masih banyak yang perlu dilakukan jika manajemen ingin kembali mendapatkan kepercayaan," lanjutnya.