Banjir 10 RW di Ciracas Disebut Bukan Akibat Turap Jebol, Begini Penjelasannya
22 March 2026, 09:58 WIB
Banjir yang menggenangi 10 RW di Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, dipastikan bukan semata-mata disebabkan oleh turap jebol. Pemerintah setempat menegaskan bahwa luapan air terjadi akibat kiriman deras dari wilayah hulu di Cimanggis, Depok.
Camat Ciracas, Panangaran Ritonga, menjelaskan bahwa persepsi mengenai turap jebol sebagai penyebab utama banjir tidak sepenuhnya tepat.
"Jadi memang banyak yang salah persepsi di sini, seakan-akan gara-gara itu jebol gitu, bukan ya. Tanpa jebol pun air sudah limpas," kata Panangaran saat dihubungi, Minggu (22/3/2026).
Menurutnya, hujan deras mengguyur wilayah Cimanggis sejak sore hingga malam hari pada Sabtu, 21 Maret 2026. Sementara itu, air kiriman dari Kali Baru dan Kali Cipinang mulai meningkat sekitar pukul 19.00 WIB, justru saat hujan di Ciracas telah berhenti.
"Hujan mulai setengah 5 kemudian sampai jam 7 malam. Tapi air ini besarnya itu mulai setengah 7 dari hulu. Ini indikasi penyebabnya curah hujan di daerah Cimanggis cukup besar. Memang aliran seperti Kali Baru yang di pinggir Jalan Raya Bogor, juga Kali Cipinang, itu cukup besar dampaknya. Jadi memang dua kali ini ya yang arusnya dari hulu itu cukup besar," papar dia.
Akibatnya, air meluap ke permukiman warga dengan ketinggian bervariasi, mulai dari 50 sentimeter hingga mencapai 1 meter. Air bahkan melimpas dari kali yang telah diturap, dengan sebagian tanggul turut tenggelam.
"Ketinggian itu kalau di warga itu hampir juga dia sekitar 50 sampai 1 meter-lah ya. Jadi limpas dia dari kali itu kan. Sebagian kali itu sudah diturap sebenarnya," ucap dia.
Memang Ada Turap Jebol
Di kawasan Cibubur, memang ditemukan turap jebol sepanjang sekitar 15 meter. Namun, Panangaran kembali menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan menjadi penyebab utama banjir.
"Yang jebol ada sekitar 15 meter, tapi yang nggak jebol juga sudah tenggelam. Jadi bukan karena jebol air lewat situ semua," katanya.
Ia menjelaskan bahwa posisi permukiman warga relatif lebih rendah, hanya sekitar setengah meter dari bibir kali. Meski turap telah ditinggikan hingga satu meter, debit air yang besar tetap menyebabkan luapan.
Debit air terus meningkat hingga mencapai puncaknya sekitar pukul 01.00 WIB dini hari, sebelum akhirnya berangsur surut.
"Jam 1 malam itu ada yang sampai 1 meter. Pagi jam 6 tinggal 15 sampai 20 sentimeter, sudah mulai landai," jelasnya.
Sejumlah warga terdampak memilih mengungsi, terutama di Kelurahan Rambutan. Namun, banyak rumah dalam kondisi kosong karena ditinggal pemiliknya untuk mudik.
"Warga ada yang mengungsi ke tetangga, ada juga ke kelurahan. Banyak juga yang mudik, jadi rumah kosong," ujarnya.
Untuk penanganan sementara, pihak kecamatan telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial guna menyalurkan bantuan pangan bagi warga terdampak.