H-6 Lebaran, Stasiun Pasar Senen Jadi Titik Terpadat Mudik Kereta di Jakarta

15 March 2026, 19:00 WIB
H-6 Lebaran, Stasiun Pasar Senen Jadi Titik Terpadat Mudik Kereta di Jakarta

PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta mencatat peningkatan signifikan jumlah penumpang kereta api jarak jauh menjelang H-6 Hari Raya Idulfitri 1447 H.

Pada Minggu (15/3/2026), sebanyak 52.008 pelanggan berangkat dari berbagai stasiun di wilayah Daop 1 Jakarta. Stasiun Pasar Senen menjadi titik keberangkatan terpadat dengan 19.745 penumpang, disusul Stasiun Gambir sebanyak 16.528 penumpang dan Stasiun Bekasi 6.941 penumpang.

Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta Franoto Wibowo mengatakan tren kenaikan penumpang mulai terlihat dalam beberapa hari terakhir seiring mendekatnya Lebaran.

"Secara kumulatif pada periode 11--15 Maret 2026, tercatat 227.911 pelanggan telah berangkat menggunakan kereta api jarak jauh dari wilayah Daop 1 Jakarta," ujar Franoto dalam keterangan, Minggu (15/3/2026).

Ia menambahkan, Stasiun Pasar Senen menjadi titik keberangkatan paling padat dengan 86.854 pelanggan atau sekitar 40% dari total penumpang pada periode tersebut. Tingginya volume penumpang dipengaruhi banyaknya layanan kereta ekonomi PSO dan ekonomi komersial menuju berbagai kota di Pulau Jawa.

"Tingginya volume pelanggan di Stasiun Pasar Senen tidak terlepas dari banyaknya layanan kereta api kelas ekonomi PSO maupun ekonomi komersial dengan tujuan berbagai kota di Pulau Jawa yang menjadi pilihan utama masyarakat untuk perjalanan mudik," jelasnya.

Waspada Penipuan Mudik Lebaran, Kenali Modus, Ciri dan Tips Aman Perjalananmu

Waspada Penipuan Mudik Lebaran, Kenali Modus, Ciri dan Tips Aman Perjalananmu

Momen mudik Lebaran selalu dinanti-nanti oleh banyak orang untuk berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Namun, di balik kebahagiaan tersebut, tersimpan potensi ancaman serius berupa modus penipuan yang semakin canggih dan beragam. Para pelaku kejahatan memanfaatkan antusiasme serta kelengahan masyarakat untuk melancarkan aksinya, mulai dari penawaran tiket palsu hingga hoaks mudik gratis yang menguras data dan uang.

Penting bagi setiap calon pemudik untuk meningkatkan kewaspadaan dan membekali diri dengan informasi yang akurat mengenai berbagai taktik penipuan. Dengan memahami modus operandi para penipu, masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat untuk melindungi diri dari kerugian finansial maupun kebocoran data pribadi. Artikel ini akan membahas secara komprehensif berbagai modus penipuan yang marak terjadi saat mudik, serta tips jitu untuk menghindarinya.

Kewaspadaan adalah kunci utama untuk memastikan perjalanan mudik berjalan aman dan nyaman tanpa terjebak dalam perangkap kejahatan. Jangan biarkan euforia mudik membuat Anda lengah terhadap potensi bahaya yang mengintai di dunia maya maupun di lingkungan sekitar. Mari kita kenali lebih dalam agar dapat waspada modus penipuan saat mudik.

Berbagai Modus Penipuan yang Mengintai Pemudik

Berbagai Modus Penipuan yang Mengintai Pemudik

Modus penipuan saat mudik terus berkembang, memanfaatkan berbagai celah dan kebutuhan pemudik. Salah satu yang paling sering terjadi adalah penipuan tiket transportasi online palsu. Penipu menawarkan tiket pesawat, kereta, atau bus dengan harga yang jauh lebih murah dari pasaran melalui platform online seperti marketplace, website, atau media sosial, bahkan menggunakan domain dan URL yang meniru agen travel terkemuka.

Selain tiket palsu, penipuan belanja online juga marak menjelang Lebaran. Pelaku membuat situs web palsu atau akun media sosial fiktif yang menawarkan produk dengan diskon besar-besaran, seperti diskon 70% untuk smartphone atau pakaian Lebaran. Setelah korban melakukan pembayaran, barang yang dijanjikan tidak pernah dikirim atau tidak sesuai deskripsi, dan akun penjual seringkali langsung menghilang.

Modus lain yang perlu diwaspadai adalah penipuan berkedok kiriman paket dan sumbangan. Pelaku akan mengirimkan pesan singkat atau telepon yang menginformasikan adanya paket kiriman dan meminta transfer sejumlah uang sebagai biaya pengiriman, atau mengatasnamakan lembaga sosial untuk meminta sumbangan palsu. Kejahatan siber seperti phishing dan smishing juga sangat berbahaya, di mana penipu mengirimkan email atau pesan teks berisi tautan atau file APK berbahaya yang dirancang untuk mencuri data sensitif atau menguras saldo mobile banking. Bahkan, teknologi Fake BTS dapat membuat pesan palsu muncul di utas percakapan yang sama dengan pesan asli sehingga sulit dibedakan.

Tidak hanya itu, penipuan juga kerap terjadi dengan mengaku sebagai keluarga atau teman yang sedang mudik dan membutuhkan uang darurat karena kecelakaan atau kehabisan biaya. Kejahatan konvensional seperti pencurian di rumah kosong, pencopetan, penjambretan, perampokan, dan begal juga menjadi ancaman nyata, terutama saat pemudik lengah di jalan atau tempat umum. Modus penipuan jasa penitipan kendaraan atau barang di terminal, stasiun, atau rest area juga seringkali berujung pada hilangnya barang setelah pelaku mendapat kesempatan.

Ciri-ciri Hoaks Mudik Gratis yang Wajib Diwaspadai

Hoaks mudik gratis menjadi modus penipuan yang sangat meresahkan menjelang Hari Raya Idulfitri, memanfaatkan keinginan masyarakat untuk pulang kampung tanpa biaya. Salah satu ciri paling umum adalah beredarnya tautan pendaftaran palsu yang mencatut nama instansi resmi seperti Kementerian Perhubungan (Kemenhub) atau PLN. Tautan ini seringkali tidak menggunakan domain resmi pemerintah (.go.id) dan disebarkan melalui pesan berantai di media sosial atau aplikasi pesan instan.

Situs palsu yang digunakan dalam hoaks mudik gratis biasanya akan meminta informasi pribadi yang tidak relevan dan sangat sensitif, seperti nomor Telegram atau data perbankan, melalui platform yang tidak aman. Program mudik gratis yang resmi dari instansi pemerintah tidak pernah memungut biaya pendaftaran atau administrasi apa pun. Oleh karena itu, adanya permintaan transfer uang, baik ke rekening pribadi maupun e-wallet, merupakan indikasi kuat penipuan yang harus dihindari.

Penipu juga sering menciptakan urgensi palsu, seperti mengklaim bahwa kuota mudik gratis hampir habis, untuk mendorong calon korban bertindak cepat tanpa verifikasi. Mereka juga kerap menyalahgunakan logo instansi pemerintah atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk memberikan kesan kredibilitas palsu pada program hoaks tersebut. Selalu pertimbangkan secara kritis setiap informasi yang diterima, terutama yang berkaitan dengan data pribadi atau transaksi keuangan, agar Anda tidak menjadi korban hoaks mudik gratis.

Sumber : Liputan6.com