Harga Minyak Hari Ini Kembali Melandai Meski Perang Iran-AS Masih Panas
11 March 2026, 07:00 WIB
Harga minyak turun pada hari Selasa (Rabu waktu Jakarta) meskipun Menteri Energi Chris Wright secara keliru mengklaim dalam sebuah unggahan media sosial bahwa Angkatan Laut AS telah mengawal sebuah kapal tanker melalui Selat Hormuz.
Dikutip dari CNBC, Rabu (11/3/2026), harga minyak mentah AS turun 11,94% dan ditutup pada harga USD 83,45 per barel. Minyak mentah Brent, indeks acuan global, turun 11,28% menjadi USD 87,80. Harga turun lebih dari 17% segera setelah unggahan Wright.
"Angkatan Laut AS belum mengawal kapal tanker atau kapal apa pun saat ini," kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt kepada wartawan pada hari Selasa.
"Saya sudah mengetahui tentang unggahan ini. Saya belum sempat berbicara langsung dengan Menteri Energi mengenai hal ini," lanjut dia.
"Namun, saya tahu unggahan itu dihapus dengan cukup cepat," tambangnya.
Sebelumnya, Wright mengatakan "Angkatan Laut AS berhasil mengawal kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz untuk memastikan minyak tetap mengalir ke pasar global."
Seorang juru bicara Departemen Energi, dalam sebuah pernyataan pada Selasa malam, mengatakan, "Sebuah klip video dihapus dari akun X resmi Sekretaris Wright setelah dipastikan bahwa keterangannya salah diberi teks oleh staf Departemen Energi."
"Presiden Trump, Menteri Wright, dan seluruh tim energi Presiden memantau situasi dengan cermat, berbicara dengan para pemimpin industri, dan meminta militer AS untuk menyusun opsi tambahan agar Selat Hormuz tetap terbuka, termasuk potensi Angkatan Laut kita untuk mengawal kapal tanker," kata juru bicara tersebut.
Lalu lintas melalui Selat yang sangat penting ini telah terganggu parah karena para pengirim minyak khawatir akan serangan dari Iran, sehingga kapal-kapal tetap berlabuh. Sekitar 20% konsumsi minyak bumi global diekspor melalui jalur air sempit ini sebelum perang.
Pertemuan Bahas Cadangan Darurat
Badan Energi Internasional (IEA) akan mengadakan pertemuan luar biasa pada hari Selasa untuk membahas kemungkinan pelepasan cadangan darurat. Lebih dari 30 negara anggotanya adalah negara-negara maju di Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur Laut. Secara kolektif, mereka menyimpan cadangan minyak sebesar 1,2 miliar barel.
Perang Iran telah memicu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah industri minyak, menurut analisis Rapidan Energy. CEO Saudi Aramco memperingatkan bahwa perang tersebut akan memiliki "konsekuensi bencana" bagi pasar.
"Meskipun kami telah menghadapi gangguan di masa lalu, krisis kali ini adalah yang terbesar yang pernah dihadapi industri minyak dan gas di kawasan ini," kata CEO Aramco, Amin Nasser.