Wall Street Anjlok, S&P 500 Turun ke Level Terendah

14 March 2026, 09:00 WIB
Wall Street Anjlok, S&P 500 Turun ke Level Terendah

Pasar saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street kembali melemah pada perdagangan Jumat, sementara harga minyak dunia terus meningkat seiring investor menanti perkembangan terbaru dari konflik Iran.

Mengutip CNBC, Sabtu (14/3/2026), indeks S&P 500 turun 0,61% dan ditutup di level 6.632,19, sekitar 5% di bawah posisi tertinggi terbarunya. Penurunan ini membuat indeks acuan tersebut mencatat level terendah baru sepanjang 2026.

Sementara itu, Nasdaq Composite melemah 0,93% dan berakhir di posisi 22.105,36. Indeks Dow Jones Industrial Average juga turun 119,38 poin atau 0,26% ke level 46.558,47.

Sepanjang pekan ini, S&P 500 mencatat penurunan sekitar 1,6% dan membukukan tren pelemahan selama tiga pekan berturut-turut untuk pertama kalinya dalam hampir setahun.

Indeks Dow Jones turun sekitar 2% sepanjang minggu ini, sementara Nasdaq yang didominasi saham teknologi melemah sekitar 1,3%.

Di sisi lain, harga minyak terus melanjutkan reli. Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 3,11% menjadi USD 98,71 per barel. Sementara itu, minyak Brent menguat 2,67% ke level USD 103,14 per barel.

Harga Brent bahkan telah menembus USD 100 per barel pada Kamis lalu untuk pertama kalinya sejak Agustus 2022.

Krisis Iran Picu Kekhawatiran Inflasi di Wall Street

Krisis Iran Picu Kekhawatiran Inflasi di Wall Street

Tekanan di Wall Street terjadi setelah harga minyak melonjak tajam pada sesi sebelumnya. Lonjakan itu dipicu pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, yang mengatakan bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup sebagai "alat untuk menekan musuh".

Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman minyak paling penting di dunia. Lalu lintas kapal di kawasan tersebut hampir sepenuhnya terhenti sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari.

Situasi ini membuat investor menunggu perkembangan terbaru konflik dengan penuh kecemasan.

Namun, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mencoba meredakan kekhawatiran tersebut. Dalam konferensi pers di Pentagon, ia mengatakan bahwa penutupan jalur tersebut tidak akan menjadi masalah besar.

"Kami telah menanganinya, dan tidak perlu khawatir," ujar Hegseth.

Ancaman Stagflasi

Ancaman Stagflasi

Meski demikian, di Wall Street muncul kekhawatiran bahwa lonjakan harga minyak dapat memicu kondisi stagflasi, yakni kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Kondisi ini juga membuat investor mulai menurunkan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini. Kontrak berjangka suku bunga bahkan tidak lagi memperkirakan pemotongan suku bunga pada September.

"Laba perusahaan sebenarnya cukup baik, tetapi sentimen pasar sedang sulit," ujar David Aspell, Chief Investment Officer Global Macro di Mount Lucas Management.

"Pergerakan harga minyak dan valuasi saham saat ini mencerminkan jalur suku bunga tertentu yang kini mulai dipertanyakan," tambahnya.

Sumber : Liputan6.com