9 Amalan Rasulullah di 10 Malam Terakhir Ramadhan, Simak Penjelasan Ulama

15 March 2026, 14:20 WIB
9 Amalan Rasulullah di 10 Malam Terakhir Ramadhan, Simak Penjelasan Ulama

Sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan merupakan fase paling istimewa dalam bulan suci ini, dengan keberadaan malam Lailatul Qadar. Nabi Muhammad SAW telah memberikan teladan terbaik dalam menghidupkan malam-malam ini dengan berbagai amalan utama. Umat Islam perlu mengetahui amalan Rasulullah di 10 malam terakhir Ramadhan, untuk meneladaninya.

Aisyah RA meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW ketika memasuki sepuluh terakhir (bulan Ramadhan) beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Hadits ini menjadi landasan utama yang menggambarkan kesungguhan Nabi dalam beribadah di sepuluh malam terakhir.

Syaikh 'Abdullah al-Jarullah dalam buku Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan menjelaskan secara rinci bagaimana Rasulullah SAW menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan. Diperkaya dengan rujukan kredibel lainnya, berikut ini ulasan lengkapnya.

Berikut adalah amalan-amalan utama yang dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada sepuluh malam terakhir Ramadhan:

1. Menghidupkan Malam dengan Ibadah (Qiyamullail)

Rasulullah SAW menghidupkan malam-malam sepuluh terakhir dengan berbagai ibadah, terutama shalat malam. Dalam Shahih Muslim dari `Aisyah radhiallahu 'anha, ia berkata:

"Aku tidak pernah mengetahui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat malam hingga pagi."

Syaikh 'Abdullah al-Jarullah menjelaskan bahwa ini mengandung kemungkinan bahwa beliau menghidupkan seluruh malamnya, dan kemungkinan pula beliau menghidupkan sebagian besar daripadanya .

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Latha'if Al-Ma'arif menjelaskan bahwa Rasulullah SAW menghidupkan malam-malam tersebut dengan shalat, membaca Al-Qur'an, dzikir, dan do'a. Kesungguhan beliau dalam beribadah di malam-malam ini melebihi malam-malam lainnya karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "menghidupkan malam" adalah menghabiskannya untuk ibadah, atau menghidupkan sebagian besar malam tersebut. Ini menunjukkan keutamaan memperbanyak ibadah di sepuluh malam terakhir.

2. Membangunkan Keluarga untuk Ibadah

Rasulullah SAW tidak hanya beribadah sendiri, tetapi juga membangunkan keluarganya agar turut meraih keutamaan malam-malam mulia ini. Dalam hadits Abu Dzar radhiallahu 'anhu disebutkan:

"Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melakukan shalat bersama mereka (para sahabat) pada malam dua puluh tiga (23), dua puluh lima (25), dan dua puluh tujuh (27) dan disebutkan bahwasanya beliau mengajak (shalat) keluarga dan isteri-isterinya pada malam dua puluh tujuh (27) saja."

At-Thabarani meriwayatkan dari Ali radhiallahu 'anhu, "Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membangunkan keluarganya pada sepuluh akhir dari bulan Ramadhan, dan setiap anak kecil maupun orang tua yang mampu melakukan shalat."

Dalam hadits shahih diriwayatkan: "Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengetuk (pintu) Fathimah dan Ali radhiallahu 'anhuma pada suatu malam seraya berkata: Tidakkah kalian bangun lalu mendirikan shalat?" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa membangunkan keluarga untuk shalat malam merupakan sunnah yang sangat dianjurkan, terutama di waktu-waktu utama seperti sepuluh malam terakhir Ramadhan. Ini menunjukkan perhatian Nabi terhadap keluarganya agar tidak kehilangan keutamaan malam yang agung.

Dalam kitab Al-Muwaththa' disebutkan dengan sanad shahih, bahwasanya Umar radhiallahu 'anhu melakukan shalat malam seperti yang dikehendaki Allah, sehingga apabila sampai pada pertengahan malam, ia membangunkan keluarganya untuk shalat dan mengatakan kepada mereka: "Shalat! shalat!"

Kemudian membaca ayat ini: "Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya." (Thaha: 132).

3. Mengencangkan Kain, Menjauhi Istri dan Bersungguh-sungguh

Salah satu ciri Rasulullah di sepuluh malam terakhir adalah "mengencangkan kainnya" (syarat mengencangkan ikat pinggang). Ini memiliki beberapa makna:

Pertama: Menjauhkan diri dari menggauli istri-istrinya. Diriwayatkan bahwasanya beliau tidak kembali ke tempat tidurnya hingga bulan Ramadhan berlalu.

Kedua: Bersungguh-sungguh dalam beribadah. Dalam hadits Anas RA disebutkan: "Dan beliau melipat tempat tidurnya dan menjauhi istri-istrinya (tidak menggauli mereka)."

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna "mengencangkan kain" adalah bersungguh-sungguh dalam beribadah dan menjauhi istri. Ini juga diartikan sebagai persiapan untuk beribadah dan meninggalkan kesenangan duniawi.

Ibnu Rajab dalam Latha'if Al-Ma'arif mengatakan bahwa Rasulullah SAW mengencangkan kainnya sebagai simbol kesungguhan dan konsentrasi penuh dalam beribadah, memutuskan hubungan dengan makhluk untuk menyambung hubungan dengan Al-Khaliq.

4. I'tikaf di Masjid

Rasulullah SAW senantiasa beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga beliau wafat. Dalam Shahihain disebutkan, dari `Aisyah radhiallahu 'anha:

"Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan, sehingga Allah mewafatkan beliau." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa pada tahun wafatnya, beliau beri'tikaf selama dua puluh hari .

Syaikh 'Abdullah al-Jarullah menjelaskan bahwa Nabi SAW melakukan i'tikaf pada sepuluh hari terakhir yang di dalamnya dicari Lailatul Qadar untuk menghentikan berbagai kesibukannya, mengosongkan pikirannya dan untuk mengasingkan diri demi bermunajat kepada Tuhannya, berdzikir dan berdo'a kepada-Nya .

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya menjelaskan hikmah i'tikaf: "Ketika perbaikan dan keistiqomahan hati dalam berjalan menuju Allah tergantung konsentrasinya terhadap Allah dan kesatuan kekuatannya dalam menghadap Allah secara penuh. Lalu jika hati terpecah tidak dapat disatukan kecuali dengan menghadap kepada Allah, padahal kelebihan makan dan minum, kelebihan bergaul dengan manusia, banyak ngomong dan tidur menambah hati berantakan dan memporak-porandakannya serta memutus atau melemahkan atau mengganggu dan menghentikan hati dari jalan kepada Allah. Maka rahmat Allah kepada hamba-Nya menuntut disyariatkan puasa dan i'tikaf untuk mereka."

5. Mandi antara Maghrib dan Isya'

Rasulullah SAW juga membersihkan diri dengan mandi antara Maghrib dan Isya' di sepuluh malam terakhir. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Aisyah radhiallahu 'anha:

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jika bulan Ramadhan (seperti biasa) tidur dan bangun. Dan manakala memasuki sepuluh hari terakhir beliau mengencangkan kainnya dan menjauhkan diri dari (menggauli) isteri-isterinya, serta mandi antara Maghrib dan Isya."

Ibnu Jarir rahimahullah berkata, "Mereka (para salaf) menyukai mandi pada setiap malam dari malam-malam sepuluh hari terakhir. Di antara mereka ada yang mandi dan menggunakan wewangian pada malam-malam yang paling diharapkan turun Lailatul Qadar."

Karena itu, dianjurkan pada malam-malam yang diharapkan di dalamnya turun Lailatul Qadar untuk membersihkan diri, menggunakan wewangian dan berhias dengan mandi (sebelumnya), dan berpakaian bagus, seperti dianjurkannya hal tersebut pada waktu shalat Jum'at dan hari-hari raya.

6. Menyambung Puasa (Puasa Wishal-Khusus)

Rasulullah SAW juga mengakhirkan waktu berbuka hingga waktu sahur (menyambung puasa) di sepuluh malam terakhir. Diriwayatkan dari Aisyah dan Anas radhiallahu 'anhuma, bahwasanya: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada malam-malam sepuluh (akhir bulan Ramadhan) menjadikan makan malam (berbuka)nya pada waktu sahur."

Dalam hadits marfu' dari Abu Sa'id radhiallahu 'anhu, ia berkata: "Janganlah kalian menyambung (puasa). Jika salah seorang dari kamu ingin menyambung (puasanya) maka hendaknya ia menyambung hingga waktu sahur (saja)." (HR. Al-Bukhari)

Syaikh 'Abdullah al-Jarullah menjelaskan bahwa ini menunjukkan apa yang dibukakan Allah atas beliau dalam puasanya dan kesendiriannya dengan Tuhannya, oleh sebab munajat dan dzikirnya yang lahir dari kelembutan dan kesucian beliau. Karena itulah sehingga hatinya dipenuhi Al-Ma'ariful Ilahiyah (pengetahuan tentang Tuhan) dan Al-Minnatur Rabbaniyah (anugerah dari Tuhan) sehingga mengenyangkannya dan tak lagi memerlukan makan dan minum.

Rasulullah SAW pernah melakukan puasa wishal, yaitu berpuasa tanpa berbuka di waktu Maghrib, lalu menyambungnya hingga waktu sahur. Para ulama menjelaskan bahwa puasa wishal ini adalah salah satu kekhususan (kekhasan) Rasulullah SAW karena beliau diberikan kekuatan oleh Allah SWT, sebagaimana sabda beliau: "Aku tidaklah seperti kalian. Sesungguhnya aku bermalam (dalam keadaan) di sisi Rabbku; Dia memberi makan dan minum kepadaku" (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah SAW melarang umatnya melakukan puasa wishal secara terus-menerus. Beliau bersabda: "Janganlah kalian melakukan wishal (menyambung puasa). Jika kalian ingin melakukan wishal, sambunglah sampai waktu sahur saja" (HR. Bukhari dari Abu Sa'id).

7. Memperbanyak Membaca Al-Qur'an

Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit dalam hadits tentang sepuluh malam terakhir, namun diketahui bahwa Rasulullah SAW memperbanyak membaca Al-Qur'an di bulan Ramadhan, terlebih lagi di sepuluh malam terakhir. Jibril 'alaihis salam datang kepada beliau setiap malam di bulan Ramadhan untuk membacakan Al-Qur'an.

Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma berkata: "Rasulullah SAW adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan untuk mempelajari Al-Qur'an bersamanya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Al-Hafizh Ibnu Rajab dalam Latha'if Al-Ma'arif menjelaskan bahwa para ulama salaf sangat antusias membaca Al-Qur'an di bulan Ramadhan.

Al-Aswad ibnu Yazid biasa mengkhatamkan Al-Qur'an dalam waktu enam malam. Ketika memasuki bulan Ramadhan, ia menamatkannya dalam tiga malam. Jika masuk sepuluh malam terakhir, ia menamatkannya setiap malam.

Imam Asy-Syafi'i mengkhatamkan Al-Qur'an pada sepuluh malam terakhir Ramadhan setiap malam, antara Maghrib dan Isya.

8. Memperbanyak Doa dan Istighfar

Rasulullah SAW mengajarkan doa khusus untuk dibaca di malam Lailatul Qadar. `Aisyah radhiallahu 'anha berkata: "Aku bertanya: 'Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan di dalamnya?' Beliau menjawab: 'Katakanlah: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau mencintai pengampunan maka ampunilah aku.'" (HR. At-Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan shahih)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa doa ini sangat tepat untuk dibaca di malam Lailatul Qadar karena inti dari malam tersebut adalah pengampunan dosa.

Kata "al-'afwu" berarti menghapus dan menghilangkan bekas dosa, lebih sempurna daripada sekadar maghfirah .

Allah Ta'ala berfirman tentang orang-orang yang memohon ampunan di akhir malam:

"Dan orang-orang yang memohon ampunan di waktu sahur." (QS. Ali Imran: 17).

9. Bersungguh-sungguh Mencari Lailatul Qadar

Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh mencari Lailatul Qadar di malam-malam ganjil sepuluh terakhir. Beliau bersabda:

"Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan:

"Carilah ia (Lailatul Qadar) di sepuluh malam terakhir pada malam ganjil." (HR. Al-Bukhari)

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hikmah dirahasiakannya Lailatul Qadar adalah agar kaum muslimin bersungguh-sungguh dalam beribadah di seluruh sepuluh malam terakhir, tidak hanya bergantung pada satu malam tertentu.

Syaikh 'Abdullah al-Jarullah dalam kitabnya menekankan bahwa orang-orang generasi terdahulu sangat antusias dalam beribadah di sepuluh malam terakhir, mereka memperlihatkan bentuk antusias yang paling maksimal dalam melakukan ketaatan, ibadah, shalat malam, dan dzikir demi meraih Lailatul Qadar.

Keutamaan Amalan di Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan

Amalan-amalan yang dilakukan di sepuluh malam terakhir Ramadhan memiliki keutamaan yang luar biasa:

1. Terdapat Malam Lailatul Qadar

"Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. Al-Qadr: 3)

Beribadah pada malam Lailatul Qadar lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan (sekitar 83 tahun) yang tidak mengandung malam tersebut .

2. Pengampunan Dosa-Dosa yang Telah Lalu

Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang qiyamullail pada malam Lailatul Qadar karena iman dan hanya berharap pahala kepada Allah, maka dosa-dosanya yang berlalu akan diampuni." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa pengampunan ini mencakup dosa-dosa kecil, dan sebagian ulama berpendapat mencakup dosa besar jika diiringi taubat yang sungguh-sungguh.

3. Diturunkannya Malaikat dengan Segala Kebaikan

Allah SWT berfirman: "Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan." (QS. Al-Qadr: 4)

Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa para malaikat turun ke bumi membawa kebaikan, keberkahan, dan rahmat. Mereka memberi salam kepada setiap mukmin yang sedang beribadah.

4. Malam Penuh Kesejahteraan hingga Fajar

Allah SWT berfirman: "Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (QS. Al-Qadr: 5)

Malam Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keselamatan dan kesejahteraan. Setan tidak dapat berbuat jahat pada malam itu .

5. Waktu Mustajab untuk Berdoa

Lailatul Qadar merupakan salah satu waktu yang paling mustajab untuk berdoa. Allah menjanjikan pengabulan doa bagi hamba-Nya yang berdoa dengan sungguh-sungguh.

6. Pahala Dilipatgandakan

Di sepuluh malam terakhir Ramadhan, seluruh amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Satu amalan di malam Lailatul Qadar nilainya melebihi ibadah selama 83 tahun .

7. Momen Pembebasan dari Api Neraka

Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan (dari api neraka) setiap hari dan setiap malam (di bulan Ramadhan), dan setiap muslim memiliki doa yang mustajab." (HR. Ahmad)

8. Momen Diturunkannya Al-Qur'an

Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu berkata: "Allah menurunkan Al-Qur'anul Karim keseluruhannya secara sekaligus dari Lauh Mahfudh ke Baitul 'Izzah (langit pertama) pada malam Lailatul Qadar. Kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sesuai dengan konteks berbagai peristiwa selama 23 tahun."

9. Mengikuti Sunnah Nabi

Rasulullah SAW bersungguh-sungguh dalam beribadah di sepuluh malam terakhir melebihi malam-malam lainnya. Mengikuti sunnah Nabi dalam menghidupkan malam-malam ini merupakan keutamaan tersendiri, karena kita akan mendapatkan pahala mengamalkan sunnah di samping pahala ibadah itu sendiri.

10. Kesempatan Bertaubat dan Mendekatkan Diri kepada Allah

Sepuluh malam terakhir adalah kesempatan emas untuk bertaubat dari segala dosa, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah. Allah berfirman:

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali Imran: 133).

People also Ask:

Apa yang dilakukan Rasulullah saat 10 hari terakhir Ramadhan?

I'tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah SAW selalu melakukan i'tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan untuk memperbanyak ibadah.

Amalan apakah yang sangat dianjurkan pada 10 malam terakhir bulan Ramadan?

Memperbanyak Shalawat kepada Nabi, Membaca shalawat merupakan amalan yang dianjurkan setiap saat, terutama di waktu-waktu istimewa seperti 10 malam terakhir Ramadhan. Memohon Ampunan dan Bertaubat, Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memohon ampunan serta bertaubat atas segala dosa yang telah dilakukan.

Rasulullah SAW pernah ditanya sedekah apakah yang paling mulia beliau menjawab yaitu sedekah dibulan Ramadhan HR Tirmidzi?

Artinya, "Dari Anas RA, sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama? ' Rasulullah SAW menjawab, 'Sedekah di bulan Ramadhan,'" (HR At-Tirmidzi). Para sahabat sendiri menyaksikan kemurahan hati Rasulullah SAW di bulan Ramadhan. Mereka mengatakan bahwa Rasulullah adalah orang paling murah hati.

10 hari Ramadhan disebut apa?

Keutamaan bulan ramadan terbagi menjadi tiga, yaitu sepuluh hari pertama, sepuluh hari kedua, dan sepuluh hari terakhir. Di sepuluh hari pertama ini disebut juga dengan fase rahmat.

Sumber : Liputan6.com