Prediksi Arus Mudik Lebaran 2026, Trans Jawa dan Bandung Jadi Favorit Pemudik
22 February 2026, 15:20 WIB
PT Jasa Marga (Persero) Tbk memproyeksikan sebanyak 3,6 juta kendaraan bakal meninggalkan wilayah Jabodetabek melalui jalan tol saat musim mudik Lebaran Idul Fitri 2026.
Lonjakan arus lalu lintas tersebut diprediksi terbagi ke tiga arah utama, yakni timur (menuju Tol Trans Jawa dan Bandung), barat (Merak), serta selatan (Bogor dan Ciawi).
Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A Purwantono, mengatakan pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi berdasarkan data historis dan proyeksi masa libur Lebaran tahun depan.
"Kami di Lebaran tahun 2026 ini, dari data yang kami miliki, kami akan memperkirakan sesuai dengan waktunya liburan akan mencapai 3,6 juta kendaraan," ujar Rivan.
Berdasarkan proyeksi tersebut, sekitar 50 persen kendaraan akan bergerak ke arah timur. Sementara 28 persen menuju barat atau ke arah Merak, dan sekitar 20,7 persen menuju selatan melalui Ciawi.
"Dari 3,6 juta itu, 50 persen adalah ke arah timur dan 28 persen ke arah barat atau ke arah Merak. Sementara 20 persen koma tujuhnya ke arah Ciawi," jelasnya.
Arus ke arah timur akan terpecah di Gerbang Tol Cikampek Utama. Dari titik ini, kendaraan akan terbagi menuju Jalan Tol Trans Jawa dan jalur menuju Bandung.
Menariknya, dari total 50 persen kendaraan yang mengarah ke timur, sebanyak 57 persen diperkirakan melanjutkan perjalanan ke Tol Trans Jawa. Sedangkan 42 persen lainnya akan menuju Bandung.
"Ini yang bisa padat. Kemudian 42 persennya menuju ke Bandung," tambah Rivan.
Dengan komposisi tersebut, jalur Trans Jawa berpotensi menjadi titik dengan kepadatan tertinggi saat puncak arus mudik Lebaran 2026.
Pantau Kepadatan dan SPKLU Lewat Ponsel
Tak hanya mengandalkan rekayasa lalu lintas, Jasa Marga juga mengoptimalkan digitalisasi layanan transaksi tol. Melalui aplikasi Travoy, perseroan menargetkan 700 pintu tol nirhenti (non-stop transaction) dapat melayani pengguna jalan sepanjang 2026.
"Saat ini di Jakarta ada 97 gate nirhenti, di tahun ini akan ditambahkan 700 pintu tol nirhenti," ungkap Rivan.
Sistem pembayaran elektronik tanpa tap tersebut memanfaatkan teknologi stiker Radio Frequency Identification (RFID). Dengan sistem ini, pengendara cukup melaju dengan kecepatan sekitar 20 km per jam saat melintas di gerbang khusus berlogo Travoy Go.
Tanpa perlu berhenti atau melakukan tap kartu, palang gerbang akan terbuka otomatis berkat identifikasi RFID yang terintegrasi dengan aplikasi Travoy.
"Sebagian besar adalah tanpa harus tap, cukup lewat dengan kecepatan 20 km per jam sudah bisa melakukan pembukaan secara otomatis," jelasnya.
Tak cuma urusan pembayaran, aplikasi Travoy juga dilengkapi fitur pemantauan lalu lintas secara real time. Data kepadatan diperoleh melalui radar serta sekitar 3.500 kamera yang terpasang di berbagai ruas tol.
Pengguna dapat melihat kondisi lalu lintas secara langsung, termasuk apakah terjadi kepadatan di ruas tertentu atau tidak.
Selain itu, informasi rest area hingga lokasi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) terdekat juga tersedia di aplikasi. Fitur ini tentu penting, terutama bagi pemudik pengguna kendaraan listrik yang membutuhkan perencanaan pengisian daya selama perjalanan jarak jauh.
"Validasinya adalah persis saat dilihat secara live. Dan ini bisa dilihat juga apakah di dalam seluruh ruas ini mengalami kepadatan atau tidak," tutup Rivan.
Dengan proyeksi 3,6 juta kendaraan dan dominasi arus ke arah timur, mudik Lebaran 2026 dipastikan kembali menjadi momen krusial bagi pengelola jalan tol dan para pemudik.
Optimalisasi teknologi seperti gerbang nirhenti dan pemantauan real time diharapkan mampu mengurai kepadatan serta meningkatkan kenyamanan perjalanan.