Korea Utara Pamer 50 Peluncur Roket Baru Jelang Kongres Partai Buruh
20 February 2026, 07:04 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengemudikan langsung sebuah peluncur roket multipel berkemampuan nuklir dalam sebuah ajang unjuk kekuatan di Pyongyang.
Aksi tersebut dilaporkan Kantor berita resmi Korean Central News Agency (KCNA) berlangsung pada Rabu (18/2/2026) di lapangan dekat Gedung Kebudayaan 25 April di Pyongyang. Rekaman media pemerintah memperlihatkan 50 kendaraan pengangkut sistem roket 600 milimeter (mm) berjajar dalam formasi tujuh baris. Setiap kendaraan peluncur berporos empat membawa lima tabung roket.
Dalam gambar yang dirilis KCNA, Kim mengenakan jaket hitam dan turun dari peluncur rudal bergerak di dekat panggung utama, sementara ribuan orang mengibarkan bendera kecil Korea Utara. Sebuah foto lainnya menunjukkan dirinya tersenyum lebar saat duduk di balik kemudi kendaraan peluncur tersebut.
KCNA melaporkan bahwa Kim secara pribadi mengemudikan kendaraan peluncur untuk meninjau persenjataan yang menjadi simbol kekuatan absolut yang berbaris di alun-alun lokasi Kongres Partai yang mulia.
Media pemerintah Korea Utara secara rutin menampilkan gambar-gambar mencolok pemimpinnya untuk memperkuat reputasinya di dalam negeri sekaligus mengirimkan pesan ancaman kepada pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh.
Dipamerkan Menjelang Kongres Partai
Pameran militer ini dilakukan menjelang Kongres Partai ke-9 yang akan digelar bulan ini. Korea Utara diketahui kerap meningkatkan aktivitas propaganda dan demonstrasi kekuatan militernya menjelang pertemuan partai yang dianggap penting.
Dalam pidatonya, Kim menyatakan bahwa roket 600mm --- yang berukuran dua kali lebih besar dibandingkan roket pada sebagian besar sistem peluncur roket multipel --- memiliki kemampuan setara dengan rudal balistik jarak pendek. Ia mengklaim bahwa sistem tersebut menggunakan kecerdasan buatan dalam sistem pemandunya.
"Tidak ada negara lain yang memiliki sistem senjata seperti ini," ujar Kim, menurut KCNA.
Ia menambahkan bahwa sistem tersebut telah sepenuhnya mengubah peran dan konsep artileri dalam peperangan modern.
Kim mengisyaratkan kemungkinan akan ada pameran perangkat militer lainnya dalam beberapa hari ke depan. Ia mengatakan bahwa Kongres Partai ke-9 akan menetapkan rencana dan tujuan tahap berikutnya untuk memperkuat kemampuan pertahanan mandiri negara tersebut. Ia juga menyerukan kepada para pengembang senjata dan perakit amunisi agar bekerja lebih keras dalam menjalankan rencana strategis partai.
Seluruh Korea Selatan dalam Jangkauan
Ini bukan pertama kalinya Korea Utara memamerkan peluncur roket 600mm. Pada akhir 2022, rezim Kim menampilkan 30 peluncur roket dengan ukuran yang sama, namun saat itu dipasang pada kendaraan berantai yang masing-masing membawa enam roket.
Menurut laporan KCNA saat itu, sistem roket tersebut mampu menjangkau seluruh wilayah Korea Selatan dan dapat dipersenjatai dengan hulu ledak nuklir taktis.
Pemantau internasional memperkirakan Korea Utara hanya memiliki sekitar 50 hulu ledak nuklir, dengan bahan fisil yang cukup untuk memproduksi 30 hingga 40 hulu ledak tambahan.
Selain sistem peluncur roket multipel, Pyongyang memiliki berbagai kendaraan pengantar senjata nuklir, mulai dari rudal balistik antarbenua yang mampu menjangkau daratan utama Amerika Serikat (AS) hingga senjata jarak pendek yang dapat digunakan di Semenanjung Korea atau terhadap target musuh di Pasifik Barat.
Ketegangan Regional dan Dukungan ke Rusia
Pameran ini berlangsung di tengah dukungan Korea Utara terhadap Rusia dalam invasinya ke Ukraina. Pyongyang disebut telah memasok rudal dan ribuan pasukan kepada Moskow.
Para analis seperti dikutip CNN menilai pengalaman militer yang diperoleh Korea Utara dalam konflik Ukraina, serta kemungkinan transfer pengetahuan teknis dari Rusia, dapat membantu negara tersebut menyempurnakan senjata dan taktik militernya.
Sementara itu, hubungan antara Pyongyang dan Seoul tetap tegang. Korea Selatan didukung oleh puluhan ribu pasukan AS yang ditempatkan di wilayahnya.
Korea Utara diketahui memiliki ribuan unit artileri konvensional yang berpotensi menimbulkan kerusakan besar di Korea Selatan. Dua tahun lalu, negara itu menggelar demonstrasi kekuatan tembak besar-besaran dari unit artileri jarak jauh di dekat perbatasan yang disebut telah menempatkan ibu kota musuh dalam jangkauan serangan.
Sebuah laporan tahun 2020 dari lembaga pemikir RAND Corporation yang berbasis di Washington menyebutkan bahwa sistem artileri Korea Utara, dengan hampir 6.000 meriam besar dalam jangkauan pusat populasi utama Korea Selatan, menimbulkan ancaman sebesar program nuklir dan rudal.
Laporan tersebut menyatakan bahwa jika ditembakkan ke target sipil, hampir 6.000 sistem artileri itu berpotensi menewaskan lebih dari 10.000 orang hanya dalam satu jam.
Dengan latar belakang tersebut, pameran militer terbaru di Pyongyang kembali menegaskan fokus Korea Utara pada penguatan kemampuan pertahanannya menjelang agenda politik penting di dalam negeri serta di tengah dinamika keamanan kawasan yang terus memanas.