Bapanas Sebar 600 Ribu Ton Beras SPHP hingga Akhir Januari 2026
12 January 2026, 08:40 WIB
Badan Pangan Nasional (Bapanas) masih menyalurkan sisa kuota beras stabilitasi pasokan dan harga pangan (SPHP) 2025. Sebanyak 697,1 ribu ton beras akan disebar hingga akhir Januari 2026.
Sekretaris Utama Bapanas, Sarwo Edhy mengatakan, penyaluran ini dijalankan melalui skema Rekening Penampungan Akhir Tahun Anggaran (RPATA) yang telah disetujui Kementerian Keuangan atas usulan Bapanas. Sementara untuk program SPHP 2026 diharapkan dapat dimulai pada 1 Februari 2026.
"Bapanas telah menginformasikan kepada Bulog dan stakeholder lainnya, mulai dari pemerintah pusat sampai daerah dan juga Satgas Pangan Polri, bahwa SPHP beras tahun 2025 masih dapat dilanjutkan sampai 31 Januari 2026. Jadi sisa target SPHP beras 2025 sekitar 697,1 ribu ton dapat terus diakselerasi seoptimal mungkin," kata Sarwo dalam keterangan resmi, Senin (12/1/2026).
Hingga akhir 2025, penyaluran SPHP beras secara nasional telah mencapai 802,9 ribu ton. Kebijakan perpanjangan ini diperkuat pula dengan ketersediaan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog yang hingga akhir 2025 mencapai 3,25 juta ton.
Kondisi ini memberikan ruang yang memadai bagi pemerintah untuk terus melakukan intervensi pasar. Penyaluran SPHP beras 2025 dilakukan melalui berbagai kanal distribusi, termasuk Koperasi Desa Merah Putih (KSMP), pasar rakyat, ritel modern, serta kegiatan Gerakan Pangan Murah, guna menahan laju kenaikan harga di tingkat konsumen.
"Sesuai arahan Kepala Bapanas Bapak Andi Amran Sulaiman, harga beras harus terus dijaga bagi masyarakat agar sesuai harga yang telah ditetapkan. Stok beras kita melimpah. Dengan adanya beras SPHP ini, masyarakat dapat memperoleh akses beras yang berkualitas terjaga dengan harga yang baik pula," tuturnya.
1,5 Juta Ton Beras SPHP Tahun Ini
Sementara terkait rencana pelaksanaan SPHP beras tahun 2026, Bapanas masih berproses untuk pengajuan Anggaran Belanja Tambahan (ABT) kepada Kementerian Keuangan. Untuk target salur SPHP beras 2026 telah disetujui secara mufakat berdasarkan hasil Rapat Koordinasi Terbatas Kementerian Koordinator Bidang Pangan 29 Desember 2025 sebesar 1,5 juta ton.
Untuk diketahui, skema RPATA juga telah diterapkan pada perpanjangan pelaksanaan bantuan pangan tahap kedua tahun 2025 yang berupa beras dan minyak goreng kepada masing-masing Penerima Bantuan Pangan (PBP).
Realisasinya per 9 Januari 2026, Bulog telah menyalurkan kepada 17,582 juta PBP atau setara dengan 351,6 ribu ton beras dan 70,3 juta liter minyak goreng secara nasional.
Stok Beras Cukup
Sebelumnya, Kepala Bapanas/Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan ketersediaan beras secara nasional sangat aman. Jadi tidak ada alasan bagi para pelaku usaha sektor perberasan untuk memasang harga melebihi ketentuan.
"Stok (CBP akhir tahun) kita 3,2 juta ton. Ini Bapak Presiden, pernah dulu Indonesia mendapatkan penghargaan di 1984 dari FAO. Saat itu stoknya hanya 2 juta ton. Kita sekarang 4 juta ton (stok CBP) pernah diraih dan akhir tahun 3,2 juta ton," kata Amran di Karawang beberapa waktu lalu.
"Stok beras di horeka (hotel, restoran, katering), tertinggi sepanjang sejarah, di hotel, rumah-rumah, restoran, itu 12 juta ton Bapak Presiden. Naik 49 persen dari tahu lalu. Jadi teman-teman pengusaha, tolong tidak ada alasan harga naik," imbuhnya.
Ada 12,53 Juta Ton
Adapun torehan stok beras nasional di awal 2026 berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional adalah 12,53 juta ton. Ini termasuk stok beras di Bulog dan selebihnya tersebar di tingkat rumah tangga produsen dan konsumen, penggilingan, pedagang, dan horeka (hotel, restoran, katering).
Stok beras pada awal 2026 tersebut meningkat pesat dalam 2 tahun terakhir. Tercatat ada peningkatan hingga 203,05 persen terhadap stok awal tahun 2024 yang kala itu berada di angka 4,13 juta ton. Sementara terhadap stok awal tahun 2025 telah meningkat 49,12 persen karena stok awal 2025 berada di 8,4 juta ton.